Aku Berdoa dan Tuhan Pun Terpojok

0
60

Hai, kenalin namaku Zaim. Tapi orang-orang juga biasa memanggilku Aim. Aku seorang mahasiswa salah satu universitas di kota Bandung.

Di Bandung aku ngekos. Sebagai mahasiswa yang kuliah dan hidup jauh dari orangtua, kamu pasti tahu kan rasanya jadi aku. Iya betul, rasanya jadi anak kos-kosan itu bebas banget dan enak banget. Hehew…

Setiap bulan orangtuaku akan mengirim uang bulanan untuk biaya hidup, bayar kos-an dan bayar kuliah. Jatah bulanan yang dikirimkan orangtuaku mengajarkan aku satu hal, aku harus belajar manajemen keuangan.

Tapi yang kulakukan adalah menggunakan uang kiriman itu dengan tidak bertanggungjawab. Aku menggunakan uang itu untuk senang-senang, waits, maaf ya bukan untuk narkoba atau beli miras, tapi aku menghabiskan uang jatah bulananku dengan nongkrong sana sini di kafe atau untuk sekedar beli baju-baju distro yang keren, anak kuliahan harus keren kan penampilannya? Aku tidak memikirkan apakah uang itu akan cukup dalam satu bulan, yang aku pikirkan aku bebas dan aku senang.

Tapi, ternyata mengatur keuangan agar pengeluaran tidak lebih besar dari penerimaan bukan keahlianku. Namanya juga mahasiswa rantau dan masih dalam emosi yang labil, akhirnya aku tiba di kondisi yang rumit.

Aku tiba di situasi seperti ini, jika aku telpon rumah minta kirim lagi aku malu, tapi kalau nggak telpon minta kirim lagi, aku mati.

Berada dalam situasi yang bimbang dan takut kelaparan aku menelpon ibu di rumah. Aku menjelaskan padanya dengan pelan bahwa uang yng beliau kirimkan sudah habis. Beliau tidak marah, malahan beliau mau mengirimkan aku uang lagi.

Baiklah, masalah terselesaikan. Dalam hati aku bersyukur punya ibu super pengertian kayak beliau.

Lalu, bulan berikutnya, aku mengulangi kesalahan yang aku lakukan di bulan sebelumnya. Uangku habis lagi sebelum masanya ibu kirim jatah bulanan.

Bulan ini aku tidak mungkin minta tambahan kiriman dari ibu, karena jatah bulananku sudah ia tambah supaya tidak kurang.

Tadi apa yang kubilang? Jadi anak kos itu bebas dan enak banget? percayalah, itu sebenarnya aku belum selesai ngomong, jadi anak kos itu banyak nggak enaknya, seperti sekarang ini, uang kiriman dari ortu habis, sudah jelas kondisi perut pasti jadi kritis.

Aku terdesak oleh perut yang lapar. Maka Shubuh itu aku bangun pagi sekali, aku melaksanakan sholat malam lalu dilanjutkan dengan sholat shubuh. Selama mengerjakan Solat Shubuh aku sangat khusuk. Padahal sih biasanya boro-boro khusuk, bisa nggak kesiangan sholat shubuh aja itu udah bagus buatku.

Dan shubuh itulah aku melakukan sesuatu yang aku pikir bisa dibilang aku hamba yang tidak tahu diri. Aku berdoa pada Tuhanku dengan cara seperti menagih sesuatu yang sudah dijanjikan olehNya. Karena kupikir, Tuhan kan Maha Segalanya, masak dia tidak bisa menyelamatkan aku, salah satu dari milyaran hambaNya, yang kelaparan? Nggak mungkin donk!

Begini doanya.

“Tuhan, Engkau pasti tahu siapa ibuku. Dia adalah guru yang masih mengajar di SD. Engkau tentunya masih ingat jika ibuku bukan guru biasa. Ibuku adalah guru yang mendapati salah satu muridnya pingsan karena belum sarapan. Dan setelah itu dia selalu menyuruh muridnya itu untuk selalu sarapan di rumahku sebelum berangkat sekolah. Tuhan, kalau itu memang kebaikan, sekaranglah saat yang tepat untuk membalasnya. Dan kalau Engkau ingin aku semakin beriman, sekarang adalah kesempatan yang paling baik.”

Setelah mengucapkan aamiin 3 kali, aku jadi merasa lebih lega.

Karena doaku yang seperti itu, aku jadi merasa Tuhan tidak punya pilihan lain selain mengabulkan keinginanku.

Maka dengan keyakinan penuh, aku berjalan tenang ke warteg terdekat. Aku yakin di warteg nanti Tuhan akan mengabulkan doaku. Aku memesan satu porsilebih dan disiram kuah gratisan dengan lauk kripik tempe.

Aku menikmati makananku, dan hari itu berjalan seperti biasa. Aku belum menemukan tanda-tanda akan terjadi sesuatu yang dramatis seperti di sinetron TV. Tapi, karena itulah aku sedikit was-was. Keringat dingin mulai menetes, aku perhatikan semua wajah di dekatku yang sedang makan dengan lahap. Tak ada wajah malaikat utusan Tuhan yang nantinya akan membayar makananku.

Waduh, gawat… hatiku kebat kebit.

Tuhan, mana malaikatnya?

Dengan hati yang masih diwarnai rasa takut tidak bisa membayar makanan, aku menatap seorang tentara bermata galak dan tak sengaja kami saling bertatapan.

Pikirku, dia pasti berpangkat rendah makanya suka pamer kekuatan.

Dan yang tidak aku duga adalah, dia mendekatkan duduknya ke arahku. Dia menanyaiku dengan suara yang dibuat seberat mungkin dan menakutkan.

“Heh…! orang mana kamu?” katanya keras.

Aku ragu untuk mengucapkan kota asalku, karena kotaku ini kota kecil dan banyak orang yang tidak tahu. Bukan salahku, tapi memang kotaku ini sangat biasa dan tidak punya apa-apa yang ikonik. Maka kujawab saja. “Jawa tengah”

“Jawa Tengah? Di Kota mana?” tanyanya lagi, kali ini lebih galak.

“Kabupaten Pemalang,” jawabku gemetaran, “Kecamatan?”, yaampun, kok dikejar terus sih! Tapi tetap kujawab “Petarukan.”

“Desa apa?”

“Desa Serang,” jawabku pasrah.

Setelah mendengar ‘Desa Serang’, tentara itu menatap mataku tajam. Lalu matanya pindah menatap piringku.

Setidaknya setelah itu aku bisa bernafas lega, karena tentara itu bangkit dan meninggalkanku. Setidaknya tidak terjadi sesuatu yang menyeramkan.

Ya, Tuhan… kalau belum mau mengirimkan malaikat penolong, bisa nggak jangankan kirimkan setan untukku? Jantungku mau copot nih…

Aku tak berani melirik-lirik tentara itu lagi.

Tapi… brak…!!!

Aku terlonjak kaget. Ternyata Tuhan masih mau membuatku sport jantung, tentara itu duduk di sebelahku lagi, tapi kali ini wajahnya tidak sekeras tadi.

Dan setelah itu, dia menanyaiku lagi, kali ini tentang alamat dan tentang siapa orangtuaku. Suaranya kali ini lebih halus dan penuh rasa persaudaraan, bahkan dia mengajakku ngomong bahasa jawa ngapak paling medok.

Dan ketahuilah gaes, kalau kamu sebatang kara di tanah rantau, maka bertemu dengan orang yang satu tanah kelahiran denganmu itu rasanya kayak lebaran campur agustusan.

Dan suara ‘brak tadi adalah suara mangkuk berisi opor ayam yang diletakkan agak buru-buru di atas meja. Dan mangkuk berisi opor ayam itu bergeser ke arahku begitu aku selesai mengucapkan nama orangtuaku.

Setelah menyerahkan mangkuk itu, dia menyuruhku untuk memakannya dan menyuruhku untuk tidak perlu membayarnya.

Dan detik itu juga aku seperti mendengar tawa para malaikat. Aku merasa seperti dikerjain oleh mereka. dan aku seperti bisa mendengar olok-olok mereka tentang doaku tadi pagi.

Tentara itu menceritakan siapa dirinya, ternyata dia adalah salah satu murid ibuku dulu. Sambil terus makan aku mendengarkan ceritanya.

Katanya, ibuku itu guru yang galak tapi peduli pada murid-muridnya. Dan katanya lagi, ada satu hal yang sangat khas dari ibuku, yang sampai hari ini dia kenang, setiap masuk kelas, sebelum pelajaran dimulai, ibu akan selalu menanyai siapa saja dari murid-muridnya  yang belum makan. Jika belum makan, maka ibu akan menyuruh muridnya untuk datang ke rumahnya untuk sarapan.

Dan tentara ini adalah salah satu murid yang selalu kelaparan kalau ke sekolah, dan dia beruntung karena ada ibuku.

Dan saat menceritakan semua kebaikan ibu, aku lihat matanya berkaca-kaca.

Selanjutnya dia bercerita, kalau warteg tempat aku sedang menikmati makanan ini adalah wartegnya, katanya ini adalah usaha sampingannya. Dan dia juga mengatakan padaku, kalau aku lapar aku boleh makan di sini tanpa perlu membayarnya. Dia menyuruhku untuk menganggapnya sebagai kepanjangan tangan dari ibuku.

Dan setelah dia selesai dengan ceritanya, aku merasakan angin Bandung berhembus lembut. Aku seperti bisa merasakan tangan ibu sedang menyuapiku. Aku merasakan kasih sayangnya bahkan dari jarak ratusan kilometer.

Dan sejak pertemuan kami, hubunganku dengan tentara itu makin dekat. Hampir seperti saudara. Dan dia selalu menjadi pelindungku selama aku tinggal di Bandung.

Tuhan adalah Dzat yang ternyata gampang sekali untuk dipojokkan oleh kebaikan yang dilakukan oleh hambaNya. Dan Dzat yang tidak akan pernah melupakan semua kebaikan yang pernah dilakukan oleh hamba-hambaNya sekecil apapun itu.

Selalu yakini ini bahwa satu kebaikan yang kamu lakukan akan dibalas oleh Tuhan dengan seribu kebaikan.

Dan yang terakhir, terima kasih ya Tuhan, engkau telah mengirimkan malaikat untukku, untukmu hamba yang tidak tahu diri, yang meminta sesuatu seperti menagih janji.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here