Aku Baru Tahu Siapa Pacarku Setelah Dua Tahun Pacaran

0
52

Aku Rani. Aku masih kelas 2 SMA di salah satu SMA swasta di Jakarta. Hari ini adalah hari pertamaku menjadi siswi pindahan di sekolahku.

Jarak dari rumah menuju sekolahku, lumayan jauh. Aku harus dua kali naik kendaraan umum. Dan kendaraan umum yang aku pilih adalah bus.

Hari ini aku bangun pagi-pagi sekali, aku nggak boleh terlambat. Apa kata teman-teman baruku nanti, kalau hari pertama imej-ku sudah jelek.

Setelah siap dan rapi, aku siap untuk sekolah.

Aku berjalan dari rumah menuju halte bus. Lumayan capek sih, tapi nggak apa-apa daripada ngerepotin mama.

Sambil nunggu bus datang,aku mainan HP. Tapi, fokusku berubah saat aku melihat ada cowok ganteng, tinggi dan putih sedang duduk di sebelahku.

Jantungku jedag-jedug nggak jelas. Apaan sih ini jantung, lebay banget! kayak nggak pernah lihat cowok ganteng aja. tapi, dia emang ganteng sih.

Mungkin cowok itu sadar aku sedang memperhatikan, dia menoleh padaku, membuatku jadi salah tingkah.

Saat bus datang, aku jadi tahu ternyata dia sama sepertiku, sama-sama sedang menunggu bus, karena begitu bus berhenti aku dan dia sama-sama naik.

Kami duduk bersebelahan tapi aku tidak berani berinisiatif untuk ngajak kenalan. Jadinya kami berdua sama-sama bungkam walau bersebelahan.

Setelah beberapa menit berlalu tanpa kata, tiba-tiba dia berdiri dan berteriak ‘Kiri Bang!’ di depan SMA A, ternyata dia berbeda sekolah denganku karena aku sekoalh di SMA B.

Aku terus menerus menatap gedung sekolah SMA A. Semoga besok aku bisa ketemu lagi sama dia, batinku.

Bus terus melaju ke SMA B, sekolahku, di hari pertamaku sekolah, aku berkenalan dengan beberapa teman baru dan mulai disibukkan dengan PR. Tapi, aku tetap kepikiran si cowok ganteng tadi pagi.

Pulang sekolah, aku naik bus lagi. Tapi kali ini teman seperjalananku dan teman persebelahanku cewek, kami berkenalan, dia satu sekolah denganku dan ternyata dia adik kelasku, lalu kami juga saling bertukar nomor HP, katanya supaya bisa pulang bareng lagi besoknya, karena ternyata kami juga searah. Kami asyik ngobrol tentang sekolah dan macam-macam lainnya. Tapi meskipun begitu, sepanjang perjalanan pulang sekolah, aku masih tetap kepikiran. Obrolan-obrolan seru kami nggak bisa mengalihkan pikiranku. Aku jadi terobsesi ingin tahu siapa namanya dan semua tentang dia. Mungkin, ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama.

Tapi semua pertanyaanku terjawab keesokan harinya, saat aku melihat adik kelasku bertegur sapa dengan si ganteng.

Kutanyai saja adik kelasku. Dan adik kelasku dengan senang hati membeberkan semuanya.

Dia malah menawarkan nomor hp si ganteng padaku, tentu aja dengan senang hati aku menerimanya.

Malamnya, aku mondar mandir di kamar, bingung mau chat apa, tapi kalau aku diam tanpa pergerakan, aku takut dia keburu diambil orang.

Aku mengumpulkan semua keberanianku,aku chat dia duluan.

Ternyata responnya sangat menyenangkan.

Setiap hari kami janjian untuk berangkat sekolah bareng.

Aktivitasku saat di halte kini tidak hanya ngobrol bareng Putri si adik kelas, tapi juga ngobrol bareng Adit, si cowok ganteng yang aku taksir. Menunggu bus yang tadinya membosankan jadi menyenangkan.

Aku dan Adit terus menerus saling chat dan telponan. Dia sangat perhatian dan humoris.dia benar-benar membuatku merasa nyaman. Adit jadi teman berbagi cerita yang seru dan aku juga berusaha menjadi pendengar setianya saat dia ada masalah.

aku tak pernah menanyakan statusnya, karena pikirku, dia pasti jomblo, apalagi dia selalu fastrespon saat membalas chat-ku.

Setelah berjalan agak lama, dia mengungkapkan padaku kalau dia sangat nyaman denganku.

Pas Adit bilang begitu, jantungku jedag-jedug lebay lagi kayak pas pertama aku ngelihat dia di halte.

Aku juga mengungkapkan semua yang aku rasakan sejak awal aku mengenal dia, dan kemudian kami memutuskan untuk pacaran.

Aku mengubah semua status di sosmed-ku dari status single menjadi berpacaran. Aku juga mengatakan pada Putri bahwa aku dan Adit berpacaran, Putri ikut senang mendengar berita itu.

Awal-awal kami jadian, Adit rutin datang ke rumahku seminggu sekali. Tiap kali chatingan tetap fastrespon.

Rutinitas kami masih sama seperti saat masih menjadi teman biasa, hanya saja setap pagi, sejak aku dan dia pacaran, aku mendapat ucapan ‘Selamat Pagi Cantik dan Semangat Sayangku’. Senin sampai Sabtu aku akan berangkat sekolah bareng dia dan duduk sebelahan di bus. lalu pada hari minggu kami akan jalan bareng.

Banyak hal manis yang dia lakukan untukku dari aku kelas 2 sampai aku kelas 3 SMA.

Tapi, setelah 2 tahun berjalan manis, Adit mulai berubah. Ditambah lagi dengan adanya desas-desus dari teman, sahabat dan tetangga yang mengatakan padaku bahwa Adit, punya pacar lain selain aku.

Kata mereka aku adalah yang nomor dua. Mendengar berita seperti itu, tentu sangat menyakitkan. Aku merasa dibohongi, tapi, aku tidak langsung percaya dengan omongan-omongan mereka.

Tapi, aku sendiri takut kalau yang mereka bilang itu benar, aku udah terlanjur sayang pada Adit dan sampai saat ini aku masih percaya kalau Adit juga sayang padaku. aku masih belum percaya dengan berita itu.

Aku akan melakukan penyelidikan kecil.

Akhir-akhir ini Adit, datang ke rumahku dua minggu sekali, setiap kali kuminta untuk datang dadakan ke rumahku di hari minggu atau kembali seperti dulu, main seminggu sekali, dia selalu beralasan nggak bisa. Jadwal bertemu cukup dua minggu sekali, begitu katanya.

Penyelidikanku kecilku, aku mulai, jadi di hari minggu, aku suruh dia untuk datang ke rumahku, tapi dia dengan tegas menolak, katanya dia ada keperluan lain, saat kutanya keperluan apa dia tidak menjawab dan mematikan telponku.

Lalu aku memutuskan untuk mendatangi dia di rumahnya.

Baru sampai di gang, aku melihat dia jalan bareng dengan perempuan lain.

Saat itu, aku seperti disambar petir di siang bolong.

Hatiku rasanya seperti tersayat-sayat pisau, sangat perih.

Kini aku tahu desas-desus itu benar adanya.

Mungkin perempuan itu adalah alasan dia datang ke rumahku dua minggu sekali, mungkin memang jadwalnya seperti itu.

Aku belum berani minta penjelasan pada Adit. Aku masih belum siap untuk menerima  kenyataan bahwa yang kulihat memang benar pacarnya.

Demi menuntaskan rasa penasaran, sakit hati dan kecewaku pada Adit, aku mencari tahu tentang pacar adit itu.

Aku masih menyimpan banyak pertanyaan, salah satunya, apakah dia tahu kalau Adit juga berpacaran denganku.

Setelah menanyai sana sini, aku berhasil mendapatkan identitas cewek itu.

Aku mengajak dia ketemuan di sebuah kafe dekat sekolahku dan dia menyetujuinya.

Saat melihat wajah cewek itu, aku merasa dia itu type cewek lemah lembut yang pengertian dan mau mengalah pada orang lain.

Kami duduk berhadapan. Dan tanpa menunggu lama aku langsung ke pokok permasalahanku.

‘Apakah benar kamu pacarnya Adit?’ tanyaku

Dan dia menjawab ‘iya’ lalu aku bertanya lagi ‘sejak kapan’, dia tersenyum lalu menjawab lagi ‘sejak 3 tahun yang lalu.

Hah? 3 tahun yang lalu?

Lalu aku tanya dia lagi ‘apakah kamu tahu kalau Adit punya cewek lain?’

Dan bilang ‘iya’ lalu mengangguk pelan.

Aku masih menanyainya, ‘kamu nggak apa-apa si Adit punya pacar  lain?’

Dia mengatakan padaku kalau dia nggak apa-apa kalau Adit mendua, bagi cewek itu, asal Adit bahagia, itu tak apa.

Perasaanku campur aduk, antara pengin nangis, marah, gemas, kesal tapi juga kagum.

Setulus itu si pacarnya Adit pada Adit.

Setelah puas menanyai dia, aku memeluknya dan berpamitan untuk pulang.

Di rumah aku menangis sampai mataku bengkak. Setega itu Adit padaku, kenapa dari awal dia nggak mau jujur kalau dia sudah punya pacar.

Kalau dari awal aku tahu dia sudah punya pacar ‘kan aku nggak mungkin mau jadi pacarnya dia.

Lalu di hari minggu berikutnya yang cerah, saat dia berkunjung ke rumahku, aku mengatakan semua yang aku tahu. Awalnya dia diam saja.

Tapi saat aku minta dia untuk memilih, dia lebih memilih pacar pertamanya dan dia akan meninggalkan aku. Saat kutanya apa alasan kenapa dia lebih memilih pacar pertamanya, dia menjawab ‘pacar pertamaku rela aku duakan asal aku bahagia’,

Mendengar keputusan Adit, aku langsung menangis di depannya. Orang yang selama ini aku sayang dan aku banggakan ternyata selama ini pacar orang lain. Aku menyesal, kenapa aku baru mengetahuinya setelah dua tahun pacaran.

Aku menerima keputusan Adit, aku tahu pacar pertama Adit lebih berhak atas Adit daripada aku yang hanya menjadi orang ketiga dalam hubungan mereka. aku tak mau merusak hubungan mereka, jika Adit bisa bahagia, aku pasti bisa bahagia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here