Akhirnya Aku Resmi Melepas Status Magang Abadiku!

0
31

Hari ini aku mau ceritain pengalaman magangku. Jadi dulu ceritanya aku pernah magang sampai 11 kali. Dan percaya atau enggak, sebagian pengalaman itu akhirnya bikin aku nyesel.

Dan mungkin buat kamu calon anak magang, mungkin dari pengalamanku kamu bisa ambil pelajaran penting.

Jadi dulu aku pernah magang 11 kali selama delapan tahun terakhir, sebagian besar di industri media. Bayangin tuh, 11 kali!

Dan aku pernah menulis iklan yang honornya tuh menyedihkan banget buat surat kabar lokal di Jerman, terus meliput isu-isu budaya seputar kampus untuk Huffington Post tanpa dibayar waktu aku umur 20-an. Terus pernah juga aku disuruh bantu-bantu nyunting di penerbitan punya teman, waktu itu aku udah umur 22 tahun, dan itu juga nggak dibayar.

Dengan pengalaman selama itu, aku jadi bisa ambil kesimpulan kalau magang itu bersifat merendahkan derajat manusia dan eksploratif, sekaligus memperlihatkan ketidaksetaraan antara anak muda yang emang udah mapan secara finansial sampai mau kerja tanpa dibayar atau dibayar murah sama anak muda yang emang butuh banget uang untuk hidup mandiri karena ortunya bukan orang berada.

Kamu akan mempertanyakan nilaimu sebagai individu dan pencapaianmu selama magang, saat tempat magang cuma memintamu menjalani hari dengan melakukan tugas yang enggak mau dikerjain orang lain di kantor. Dibayar dikit atau enggak sama sekali, itu malah bikin perasaan rendah dirimu makin parah. Dan juga menyisihkan orang dari kelas pekerja yang enggak mungkin tertarik melaksanakan magang. Terus kebetulan sebagian besar tempat magangku adalah bidang jurnalisme, sebuah industri yang punya reputasi buruk karena gaji karyawannya rendah tapi jam kerjanya panjang.

Meskipun begitu, nggak semua aspek dari kegiatan magang itu jelek kok. Ada beberapa kegiatan magang yang bisa nambah pengalaman juga pengetahuan, bahkan pernah ngasih kesempatan aku untuk bekerjasama dengan sosok-sosok menginspirasi dengan honor yang lumayan.

Sebagai orang yang pernah magang di Bloomberg News, aku pernah dapet uang transport lebih tinggi daripada standar industri dan aku juga bekerjasama dengan editor yang membantu menjelaskan kenapa tulisanku disunting. Aku belajar banyak soal jurnalisme sih disana.

Terus pengalaman magangku di Hollywood Reporter, aku dibayar lembur waktu meliput pesta Oscar dan acara-acara red carpet. Tapi, aku nggak mau ngelakuin itu lagi. Untungnya dari situ aku dapat pelajaran cara menangani orang humas para artis Hollywood yang lagi ngomel-ngomel.

Aku juga dapet banyak pelajaran, satu hal yang mungkin nggak aku bisa dapatkan di kampus. Seperti cara jaga diri waktu ngeliput unjuk rasa yang penuh kekerasan dan lepas kendali, yang kadang polisi aja nggak berani ikut campur.

Masalahnya, pengalaman belajarku seringkali dihantu perasaan nggak nyaman. Dulu, pas pertama kali magang, waktu itu aku masih kuliah, aku pernah marah karena mikir “kok aku mau sih kerja nggak dibayar?” apalagi waktu itu aku masih mengandalkan uang saku dari orangtua. Terus giliran dapat pengalaman kerja, dapetnya cuma gini, nyumbang ketidaksetaraan dan eksploitatif yang dilanggengkan oleh praktik magang industri. Tapi, pas aku udah lulus kuliah, aku ngerasain yang sebaliknya, aku mulai gelisah pas mau selesai magang, karena itu artinya aku enggak dapet uang transport dan bakal nganggur.

Dan kalau saat ini kamu adalah mahasiwa tingkat akhir, atau mungkin baru banget lulus, kemungkinan besar kamu harus bersiap melamar magang.

O ya ada beberapa hal yang harus diingat waktu mau melamar pekerjaan. Khususnya buat yang baru lulus, kalau kamu ditawari posisi tetap tapi kamu harus mau magang dulu tanpa dibayar, itu biasanya ilegal.

Aku pernah kayak gitu, dan aku nyesel.

Jadi bisa dibilang, hari ini, selain aku mau sharing pengalaman magang aku juga mau kasih tips yang mungkin bisa membantu kamu supaya menjalani magang yang bermanfaat.

Pertama, nggak semua magang berguna, kadang ada yang cuma buang-buang waktu aja.

Jadi gini, kegiatan magang itu harusnya bersifat mendidik. Setiap pekerjaan punya rutinitasnya sendiri, jadi kalian nggak akan belajar hal hal baru setiap hari. Tapi kalau kamu disuruh mengerjakan hal yang sama berulang kali, perusahaan seharusnya bayar kamu, karena sudah memperlakukanmu seperti karyawan tetap. Perusahaan nggak boleh seenaknya memanfaatkan status magangmu yang cuma dikasih ganti transport atau parahnya nggak digaji sama sekali atau mempekerjakanmu sebagai karyawan kontrak tanpa dapat tunjangan atau jaminan pekerjaan stabil.

Terus, tanyakan pada dirimu sendiri, kenapa kamu mau magang. Apakah memang praktik kerja itu bermanfaat buat masa depanmu? Terus apakah pengalaman magang di perusahaan itu bagus untuk peluang karir?

Jadi ya, jujur aja nih. Mau magang di perusahaan sebesar apapun, hasilnya sia-sia kalau kamu nggak dapat ilmu yang riil selama disana. Kamu cuma buang-buang waktu aja kalau magang yang enggak sesuai dengan cita-cita sebenarnya. Misalnya kalian pengin banget jadi jurnalis, tapi kamu malah magang jadi admin medsos. Itu kan enggak nyambung. Jadi jangan pernah kepikiran untuk magang di perusahaan besar kalau hanya untuk bikin CV kamu bagus. Kamu sebaiknya mempertimbangkan soal tawaran magang itu, apa itu bisa membantumu untuk asah keterampilan yang berguna untuk mencari pekerjaan impian nantinya.

Wong, kalau aku bisa muter waktu aja nih ya, aku mau balik ke masa muda dulu, terus aku bakalan minta perusahaan tempat magang supaya menjelaskan secara spesifik apa aja yang bakal aku kerjain tiap hari dan keterampilan apa yang mereka cari untuk aku kembangkan.

Dan mungkin, kamu bisa cari tahu lebih banyak informasi tentang latar belakang perusahaan yang akan jadi tempat magangmu di internet. Biasanya perusahaan punya situs, dan dari situs itu kamu bisa ngelihat gambaran tentang lingkungan kerjanya dari ulasan karyawan. Atau kamu bisa juga nanya-nanya ke teman atau saudara yang pernah kerja di perusahaan impianmu. Kalau ternyata pas magag kamu cuma disuruh transkrip wawancara, mending dipikir-pikir dulu aja deh, sepadan nggak tuh sama waktumu yang terbuang?

Kedua, jangan kerja berlebihan kalau statusmu cuma anak magang.

Mungkin kamu pernah dengar atau melakukan hal kayak gini, aku masuk sebelum bos datang dan baru pulang setelah semuanya pulang. CEO dan mantan anak magang yang sekarang jadi karyawan tetap sering menyarankan itu padaku. Katanya kita bakal dilihat lebih menonjol dibanding karyawan lain kalau konsisten melakukannya.

Tapi, kalau dipikir-pikir, buat apa sih kita diem aja di kantor kalau kerjaan udah selesai semua? Buat apa lembur kalau kamu nggak dikasih upah? Kalau kamu nggak bisa membuktikan kelebihan waktu jam kerja reguler, maka waktu lembur pun enggak akan ngubah kondisi.

Tapi, ya pasti ada momen dimana kerjaan pas lagi banyak-banyaknya. Nah, kalau kamu lihat kondisi kayak gini, kamu bisa ikutan lembur, jangan malah pulang terus asik rebahan di kamar.

Jadi gitu caranya kamu nunjukin dedikasi kamu, bukannya malah nongkrong lama-lama di kantor biar dilihat si bos. Pikiran kayak gitu tu, menurutku merugikan soalnya ini menunjukkan kalau kamu rela dieksploitasi dari hari ke hari sebagai anak magang, dengan kerja lembur bagai kuda tanpa dibayar sepeserpun.

Ketiga, jangan karena mau nutupin statusmu yang masih nganggur, terus kamu mau magang.

Aku pernah tuh, ngelakuin hal bodoh kayak gitu. Jadi maksudnya gini, dulu aku pernah mau magang terus selepas kuliah walau bayaran enggak seberapa. Alasanku waktu itu adalah karena cari kerjaan tuh susah dan aku takut mengalami penolakan. Aku takut banget dianggep nganggur habis kuliah selesai, meskipun kenyataannya emang gitu. Tapi, dalam kondisi tertentu, misal habis lulus kuliah, terus menerus jadi anak magang juga enggak baik, hal kayak gini nantnya bakal menyiksa keuanganmu.

Tiap tiga bulan, waktu kesempatan magang hampir selesai, biasanya aku lagi-lagi harus berburu posisi magang di kantor lain. Kalau masih ada bekal tabungan si nggak apa-apa. Tapi, masalahnya dari pengalaman yang udah-udah, dompet dan rekeningmu kering banget sampai kamu bisa menemukan kesempatan magang berikutnya.

Percayalah, nyari kerjaan itu aktivitas seumur hidup. Maksudnya gini, magang sambil cari lowongan pekerjaan justru nambah dua kali lipat bebanmu. Soalnya, kamu harus nyambi kirim lowongan, atau datang ke wawancara kerja, saat kamu masih sibuk sama kerjaan magang. Itu artinya kamu bakal lebih stress dari biasanya. Dan sebenernya, enggak ada solusi yang bener-bener pas untuk masalah ini.

Jadi, kalau aku boleh usul sih, coba deh kamu cari kerjaan sampingan yang ringan, ngajar bimbel pribadi, nerjemahin segala macam naskah, jadi pengasuh anak dadakan atau pekerjaan apapun yang bisa kamu dapati di situs penyedia jasa freelance. Mending kayak gitu aja, karena lebih mudah dilakukan daripada harus nyari kerjaan sambil jadi anak magang di perusahaan tertentu.

Dan terakhir, kamu harus sadari efek psikologismu kalau kamu magang tanpa kepastian kerja tetap.

Aku yakin banget, kamu nggak akan mau hidup kayak aku. Maksudku, magang sampai tujuh atau delapan kali, sebelum akhirnya punya kerjaan tetap. Tapi, kadang karena nggak ada pilihan yang lebih rasional, kita mesti menjalani hidup sebagai anak magang abadi. Kondisi yang nggak mengenakan seperti inilah yang bikin kita sering bertanya-tanya pada diri kita sendiri seperti ini, duh jangan-jangan emang aku nggak layak punya kerjaan tetap?

Aku pernah di posisi kayak gitu, dan juga beberapa teman kuliahku dulu. Lagi-lagi solusi yang komprehensif untuk masalah ini belum ditemukan oleh umat manusia.

Tapi, setidaknya kamu bisa pegang dua hal ini, kalau masa-masa bimbang ini datang, ingat lagi apa yang udah kamu capai walaupun cuma jadi anak magang dan sadarilah bahwa kamu enggak sendirian. Semangat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here