AC Milan: Raksasa Eropa Yang Masih Menikmati Tidur Panjangnya

0
163
sumber; thesefootballtimes.co

Dalam beberapa tahun terakhir, Serie A hanya tentang Juventus dan satu pesaing
setianya yaitu Napoli. Rasanya sudah sangat lama menanti The Magnificent Seven Serie A
kembali. Liga yang begitu kompetitif, liga yang menjadi tujuan para pemain bintang,
tempatnya para pelatih jenius, serta tempatnya para aktor sepakbola kelas wahid.
Jika bicara tentang Serie A, salah satu nama yang paling menonjol yaitu AC Milan.
Klub berjuluk i Rossoneri ini sudah memenangkan banyak sekali gelar. Dan yang paling
mencolok yaitu 18 gelar liga Serie A dan 7 gelar liga champions yang hingga saat ini masih
menduduki posisi runner up peraih tropi tersebut. Dari segi pemain pun AC Milan merupakan salah satu klub yang ikut berpartisipasi dalam era kejayaan Serie A. Dari Van Basten hingga Zlatan Ibrahimovic serta masih banyak lagi nama-nama fenomenal seperti Kaka dan Paolo Maldini.

Gelar terakhir di ajang Domestik

AC Milan meraih gelar Serie A terakhir nya pada tahun 2011 yang pada saat itu masih
diisi pemain seperti Zlatan Ibrahimovic, Pato, Robinho, Gattuso, Nesta, hingga Andrea Pirlo.
Pada saat itu AC Milan meraih gelar liga ke delapan belas mereka, mereka berhasil menduduki puncak klasemen tertinggi diikuti Inter Milan. Namun, justru pada saat itulah awal dari hancurnya kedikdayaan raksasa Italia tersebut. Setelah meraih gelar Serie A, nama seperti Gattuso, Nesta, dan Filipo Inzaghi memutuskan untuk gantung sepatu alias mengakhiri perjalanan karir sepakbola mereka. Akhir yang manis untuk para legenda, tetapi malah menjadi awal runtuhnya kehebatan Tim kota Milan tersebut. Tepat pada musim selanjutnya, Milan tidak sukses dalam mempertahankan gelar liga dan harus mengakui kehebatan tim nyonya tua.

Lika-liku kebangkitan Milan

Setelah finish di posisi runner up, Milan ditinggal oleh ujung tombak mereka Zlatan
Ibrahimovic dan Bek andalan mereka Thiago Silva yang memilih hengkang ke PSG.
Disinilah, mulai terjadinya banyak konflik dalam pemain maupun manajemen klub. Menurut
mantan penggawa AC Milan saat itu Saponara, ia mengatakan bahwa ruang ganti AC Milan
pada saat itu seperti neraka, tidak ada kekompakan, dan para pemain Italia tidak mau
bergabung dengan pemain asing dalam tim pada saat itu. Alih-alih menciptakan generasi baru melalui pemain muda, situasi tim malah makin kacau. Tercatat setelah 2012 Milan sudah berganti pelatih lebih dari tiga kali, termasuk para legenda seperti Seedorf dan Inzaghi yang benar-benar gagal dalam mengembalikan mental raksasa Milan.

Sampai pada akhirnya, para penggemar pun geram dan menuntut Silvio Berlusconi
yangpoada saaat itu menjabat sebagai pemilik klub harus turun tahta. Situasi semakin kalut, keuangan semakin tidak terkontrol dan Milan hanya bisa melakukan transfer pemain yang sudah tidak memiliki kontrak dengan siapapun. Pada tahun 2016 pasca pelatih mereka Sinisa Mihajlovic dipecat, Klub menunjuk Viscenzo Montella sebagai juru taktik. Dan pilihan tersebut pun dirasa berhasil, Montella berhasil mengembalikan Milan ke ajang kedua Eropa yaitu Europa League. Itu sudah merupakan prestasi yang gemilang, karna tercatat Milan sudah absen selama tiga tahun dalam kompetisi Eropa apapun. Montella membawa angin segar dalam tim. Meski begitu, fans tetap menganggap Milan harus membeli pemain berkualitas dan pada saat yang bersamaan pula presiden klub mengumumkan bahwa tidak ada pembelian pemain baru untuk tim. Akhirnya
presiden klub yang sudah sekitar 28 tahun memberikan segalanya untuk tim, harus
melepasnya ke konsorsium China YongHong Li. Di Era Li, Milan langsung melakukan gebrakan luar biasa pada bursa transfer pertamanya. Sekitar 11 pemain berhasil diboyong ke San Siro dengan catatan dari UEFA bahwa Milan harus kembali ke Liga Champions jika tidak ingin terken sanksi tranfer. Pembelian bersar-besaran Milan juga termasuk bek terbaik dunia saat itu Leonardo Bonucci. Bonucci menjadi pembelian fenomenal Milan era China. Bonucci berhasil Milan curi dari rival terkuatnya Juventus. Selain Bonucci, ada juga nama seperti Calhanoglu, Biglia, dan Ricardo Rodriguez. Dengan rasa optimis yang menggebu-gebu Milan memulai musim cukup menjanjikan. Namun pada pertengahan musim harapan itupun mulai luntur, taktik Montella yang tak kunjung memiliki formasi utuh pun menjadi penyebab kegagalan revolusi Milan pada saat itu. Tanpa pikir panjang, Gattuso yang notabennya legenda Milan langsung ditunjuk untuk menggantikan peran Montella sebagai pelatih Milan. Ditangan Gattuso Milan mulai bangkit, namun tetap saja meskipun sudah membeli 11 pemain pada musim tersebut, Milan tetap bertengger di posisi 6 yang tak lain dan tak bukan adalah posisi yang sama pada musim sebelumnya.

Titik terang

Di akhir musim Sang Kapten Tim Leonardo Bonucci memilih untuk kembali ke kubu
rival. Pada akhir musim itu pun Milan dijatuhi hukuman Financial Fair Play oleh UEFA
karena tidak bisa menyanggupi janjinya setelah mengeluarkan biaya transfer sebanyak
200juta poundsterling tanpa kembali ke kompetisi Liga Champions. Secara mengejutkan,
para petinggi Milan saat itu berujar bahwa mereka tidak mampu membayar denda yang
ditentukan. Padahal jika tidak dibayar, Milan akan dikeluarkan dari kompetisi Europa
League. Sampai akhirnya ada pengusaha Amerika dari Elliot Grup menawarkan diri untuk
mengakuisisi saham mayoritas klub dan akan membayar semua hutang AC Milan sekaligus
denda yang telah dijatuhkan UEFA. Sempat terjadi perang urat syaraf antara kubu China dan Amerika. Dan uang lah yang berbicara, Milan berhasil diakuisisi dan semua hutang klub
lunas.

Di era kepemilikan Elliot, perlahan tapi pasti Milan berhasil menutup luka yang
disebabkan oleh pemilik sebelumnya. Milan berhasil menggaet striker haus gol Serie A
Gonzalo Higuain dan Bek masa depan Italia Mattia Caldara. Meski belum sepenuhnya
bangkit, pemilik baru sudah memberikan sebuah bekal yang menajanjikan untuk AC Milan
dalam usahanya mengembalikan klub ke masa kejayaan sebagai Raksasa Eropa.

Menarik ditunggu..

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here