100 Hari Setelah Aku Mati Part 68 : Tatap Muka

0
124
bukukita.com

Aku menuju taxi yang ngetem di pinggir jalan dan dengan segera minta di antarkan ke rumah. Tidak hentin-hentinya aku memikirkan mas rizal dan kenapa dia tidak mengabari aku bahkan dia juga tidak menghampiri aku. Dia bukan tipe orang yang mudah percaya dengan orang lain dan pasti dia hanya berusaha kalem dan memilih mengalah dan ada di rumah aku untuk menunggu aku. Dengan rasa tidak percaya pada saat ayah aku mengatakan jika mas rizak sudah pamit pulang sambil membuka kotak berwarna merah yang kata ayah merupakan hadiah dari mas rizal. Sebuah harmonika tapi ada sepucuk surat yang terselip di situ. Aku segera membacanya dan aku segera menyusul rizal. Ayah pun mengijinkan dengan memberi pesan untuk menyelesaikan masalah aku baik-baik. Tidak lama aku segera mengetok pintu rumah mas rizal dan gerbangnya tidak di kunci artinya mas rizal belum balik ke melbourne. Lampu rumahnya menyala tapi pintunya terkunci dan aku putuskan untuk mengintip ke garasi dan dia tidak ada di rumah bahkan mobilnya tidak di garasi.

Dia pasti pulang sebentar lagi dan saat itu aku menunggunya. Aku menghampiri sopir taxi yang mengantar aku dan menyuruh dia tidak usah menunggu aku. Aku menunggu di depan pintu dengan gelisah dan berharap dia cepat pulang. Berjam-jam aku tunggu namun dia tidak pulang juga. Hingga aku mendengar suara adzan subuh berkumandang mas rizal pun belum kembali juga. Aku menunggu disini semalaman dan aku pun menangis disini semalaman dimana aku mulai berfikir disini semalaman. Dimana akua memikirkan mas rizal. Namun aku harus pulang karena aku ridak ma ayah aku kawatir dan aku ada pratikun yang tidak boleh aku tinggalkan hingga aku menulis pesan yang aku tempelkan di pintu. Dimana pesan itu berisi apakah mas rizal sudah pulang dan tolong pulang ke aku karena kamu salah paham dan aku sampai saat ini masih menjaga hati aku untuk kamu.

Aku merenung di teras rumah dan jam sudah menunjukan pukul 4 sore dan aku yakin pasti sebentar lagi risa akan datang. Rasa deg-deg an ada di dalam dada ini, apa yang akan aku katakan nanti? Yang jelas aku deg-degan dan marah karena bercampur aduk. Dan hanya satu keiginan aku ketika bertemu dengan nya mengakhiri semua ini. Aku tidak mungkin mengatakan hal itu tanpa mendengar langsung dari penjelasan risa. Sepertinya pikiran aku terbagi jadi 2 bagian pro dan juga kontra. Atau mungkin bukan pikiran aku yang terbagi 2 tapi sisi pro yang timbul merupakan dari hati aku yang sangat percaya pada risa. Sedangkan sisi kontra dari otak aku ini mengandalkan logika setelah melihat realita yang terjadi.

Aku memang sangat percaya risa dan aku masih dapat merasakan kasihnya akan tetapi disisi lain tidak semudah itu aku percaya lagi setelah aku melihat dengan mata kepala sendiri. Tidak lama suara dewi terdengar hingga membuat aku menoleh ke arahnya yang muncul di balik pintu. Seketika aku mengangguk dan memperhatikan langkah kaki dewi berjalan mundur ke dapur dan mungkin dia paham aku sedang butuh secangkir kafein. Tidak lama dewi membawakan aku minum dengan senyumannya dan dia ikut duduk di kursi yang bersebelahan dengan aku. Tatapan sayu dan baru semalam aku melihat binar mata dewi namun kini sudah kembali sayu lagi seperti sebelumnya. Dia pun memandang ke arah pagar depan rumah aku yang mulai berkarat di makan musim dan hujan yang mengguyur seperti sekarang akan memperpendek umur besi yang tua itu. Dewi pun memainkan tangannya membentuk gesture khas orang bertanya dengan tangan yang dia tengadahkan membentuk sudut 90 derajat. Aku mengerutkan dahi sambil menjauhkan bibir aku dari bibir gelas, mungkin baru beberapa mili yang tertelan. Aku tertipu dengan aroma wangi yang keluar dari seduhan kopi itu dan ternyata kopi buatan dewi sangat pahit.

Tidak lama aku menambahkan gula untuk kopi ini dan dewi memegang pergelangan tangan aku dimana dia membuat aku terduduk kembali sementara dia dengan langkah cepat menuju dapur sambil membawa secangkir kopi itu. Saat itu dewi tanya enak yang pake gula atau tidak, dimana dewi sedang memancing tanda tanya di kepala aku.

Dewi bilang seberapa pun gula yang aku tambah yang namanya kopi itu pasti pahit. Aku tersenyum mendengar perkataan dewi dan aku pun menunduk sambil memainkan sendok yang aku celupkan di cangkir kopi itu. Dimana itu membuat gerakan memutar yang membuat kopi itu semakin keruh dan mirip genangan jelaga. Aku menghela nafas panjang dan aku menoleh ke dewi yang sedang asik membaca majalah lama yang entah terbitan tahun berapa. Dewi pun menggoyangkan kepalanya dimana dia meniru posisi aku ketika aku meminta penjelasan lebih. Aku bilang jika cinta ada bentuk nya maka bisa di genggam dan jangan menggenggam nya terlalu kuat karena dia akan mati tapi jika kamu melonggarkan genggaman kamu dia akan lari. Dewi tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya dan aku dengan dewi sering terlibat pembicaraan dalam namun dengan kata-kata sedikit. Dewi bilang apapun yang terjadi jangan gegabah karena indra aku sangat kuat ketika orang berbohong pada aku dan menyembunyika sesuatu. Risa bukan lah orang seperti itu dia open personal, ucap dewi. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here