7 Tahun Tanpa Kabar, Suamiku Menikah Lagi

0
52

Pernah nggak kamu ngerasain deg-degan dan jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengan seorang pria?

Meskipun saat itu kamu sedang dalam keadaan yang sulit tapi karena pertemuan itu, kamu jadi merasa bahwa hal tersebut akan menjadi pembuka jalan menuju bahagia.

Namaku Karen, dan aku sedang merasakan perasaan itu saat pertama kali bertemu dengan Adam. Seorang pria yang berhasil membuatku merasakan perasaan yang berbeda saat pertama kali bertemu dengannya.

Rambut Adam panjang dan pesona wajahnya berhasil memikat hatiku.

Sayangnya, saat aku dekat dengannya, status Adam masih menjadi suami orang. Dia memang masih punya seorang istri saat bertemu denganku, tapi kata dia sudah bertahun-tahun mereka tidak tinggal bersama. Adam mengatakan padaku kalau dia berkeinginan untuk menganti statusnya menjadi lajang demi aku.

Saat itu yang kupikirkan adalah, jika Adam rela bercerai itu artinya dia memang ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamaku dan anak-anakku, betul begitu kan?

Saat itu juga aku sudah membayangkan bahwa kami akan menjadi sebuah keluarga besar yang bahagia.

Singkat cerita, Adam menceraikan istri pertamanya dan menikahiku satu tahun setelah perceraian itu. Aku membawa 3 anak dan Adam membawa 2 anak dari pernikahan sebelumnya. Kami hidup bahagia bersama, bahkan Adam rela keluar dari pekerjaannya demi bisa tinggal bersamaku dan anak-anak kami.

Jadi, untuk saat ini, akulah tulang punggung keluarga. aku bekerja sebagai operator mesin.

Tapi, kebahagiaanku hanya berjalan selama setahun. Setelah itu, aku merasa benar-benar menyerah dengan pernikahan kami. Adam mulai menunjukkan sifat aslinya. Ia meninggalkan aku dan anak-anak kami dan hanya meninggalkan pesan.

Dan itu adalah pertama kalinya Adam meninggalkan aku. Rasanya seperti ada yang merobek hatiku.

Adam mengatakan kalau semuanya adalah salahku. Dan dia sudah muak dengan anak-anak.

Mengingat-ingat Adam yang sudah pergi membuatku menangis. Aku harus sibuk bekerja dan mengurus anak-anak sendirian.

Beberapa bulan kemudian, tepat saat uang bonus Natalku keluar, Adam kembali. Sebenarnya aku tahu pasti dia kembali hanya demi uang, tapi bodohnya aku tetap menerimanya.

Dalam hatiku, aku berjanji bahwa hanya untuk kali ini saja aku mengizinkan Adam kembali. Jika Adam meninggalkan aku lagi, jangan harap aku akan membukakan pintu rumahku untuknya.

Untuk sementara waktu, kembalinya Adam membuat semuanya tampak membaik.

Kami pindah ke kota baru dan memulai pekerjaan baru kami. Aku disibukkan dengan usahaku di bidang pembersihan dan Adam, yah, Adam akhirnya punya pekerjaan baru. Dia bahkan mau membantu anak pertamaku untuk diterima di tempatnya bekerja.

Adam mulai melakukan hal-hal baik dan menurutku itu adalah sesuatu yang sangat jarang terjadi.

Tapi, ternyata sesuatu yang jarang terjadi itu ternyata bukan pertanda baik. Adam mulai jarang pulang ke rumah dan punya banyak hutang dimana-mana.

Karena aku curiga kalau Adam selingkuh, aku memberinya dua pilihan yaitu memperbaiki keadaan atau meninggalkan rumah. Dan Adam memilih pilihan yang mungkin menurutnya adalah pilihan yang lebih mudah yaitu meninggalkan rumah. Kami bertengkar hebat hari itu, aku tidak menyangka dengan pilihannya. Sebelum pergi, Adam menendang pintu rumah saking marahnya.

Setelah kejadian itu, aku baru sadar kalau Adam bukanlah pria yang baik.

Dua kali pergi dari hidupku, Adam juga meninggalkan banyak hutang. Hal ini membuat kesehatanku terganggu. Aku sakit-sakitan dan dilanda stress. Aku harus menanggung semua hutang Adam.

Tapi beruntungnya aku, aku punya anak yang mau membantuku, jika saja dia tidak ada, mungkin aku sudah menjadi gelandangan karena semua tabunganku ludes hanya untuk melunasi hutang-hutang Adam.

Kepergian adam tidak hanya mengacaukan pikiran dan hatiku, tapi juga mengacaukan usahaku. Tapi aku tetap berusaha untuk tegar, aku masih punya anak-anak yang bisa aku jadikan motivasi.

Setelah lama tidak berkomunikasi, aku hanya pernah bertemu Adam satu kali, dan pertemuan kami terjadi di tempat parkir salah satu supermarket di kotaku.

Kami hanya berbicara singkat dan aku meminta pada Adam untuk bercerai. Dan dia hanya menjawab “nanti aku hubungi lagi”. Tapi, dia sama sekali tidak memberi kabar apa-apa padaku.

Seiring berjalannya waktu, 7 tahun sudah berlalu sejak Adam meninggalkan rumah. Aku sendiri sudah kembali ke tempat asalku untuk mengurus ayahku yang sakit.

Waktu itu, sempat terlintas di pikiranku untuk mencari tahu keberadaan Adam melalu media sosial. Aku butuh kepastian soal statusku.

Butuh waktu lama untuk menemukannya, sampai akhirnya yang kutemukan adalah akun milik ibu Adam.

Singkat cerita, aku menghubungi ibu Adam dan dia bercerita bahwa anaknya sudah menikah lagi.

Hah? Bagaimana mungkin?

Aku benar-benar seperti disambar petir saat mendengar kabar itu. Aku bingung, sakit hati dan masih belum percaya dengan apa yang aku dengar.

Yang kupikirkan adalah bagaimana mungkin dia bisa menikah lagi? Apa dia pikir aku sudah mati? bagaimana bisa dia melupakan statusku yang masih menjadi istrinya?

Demi menjawab semua pertanyaan dalam otakku, aku meminta bantuan pada pihak kepolisian untuk menyelidiki masalah ini.

Dan ternyata fakta yang kami temukan sangat mengejutkan. Adam mengaku itu adalah pernikahan pertamanya dan petugas yang menangani pernikahan Adam tidak memastikan dengan jelas latar belakang Adam sebelumnya.

Aku semakin sakit hati, jadi siapa aku di matanya dulu?

Dan masalah Adam terus berlanjut ke jalur hukum. Adam dituduh memalsukan data pernikahan dengan tambahan beberapa pelanggaran lain. Pelanggaran-pelanggaran itu membuat Adam dijatuhi 6 tahun penjara, sedangkan bigami yang ia lakukan mengancamnya mendapat kurungan selama 3,5 tahun.

Belum habis luka dan kecewa yang aku rasakan setelah dengan mudahnya adam pergi dari hidupku, aku pun terluka semakin parah karena merasa dikhianati.

Meskipun begitu, aku tetap akan setia padanya dan aku juga tidak akan dekat dengan laki-laki lain sampai kami benar-benar resmi bercerai.

Karena bagiku, saat kamu menikahi seseorang, kamu juga harus tetap berada di sisinya dalam keadaan sehat ataupun sakit, dalam keadaan suka maupun duka.

Mungkin kisahku ini bisa disebut sebagai karma.

Dan mungkin kamu harus bisa menemukan seseorang yang hanya mencintai kamu dan kamu saja dalam hidupnya. Jangan hidup bersama orang yang kamu tahu ada ketidaksetiaan dalam dirinya. Bayangkan saja, jika ia bisa dengan mudah meninggalkan orang lain, ia juga sangat mungkin meninggalkan kamu. Iya kan?

Dan aku pikir, semoga ceritaku bisa kamu ambil pelajaran.  Semoga setelah semua ini berakhir aku bisa meneruskan hidupku dengan lebih baik dan untuk semua yang mendengar kisahku untuk tidak jatuh pada luka yang sama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here