6 Tahun Kesetiaanku Dibayar Pengkhianatan Oleh Pacarku

0
40

Sebagai seorang laki-laki, aku punya prinsip, kalau aku harus setia pada pasanganku kelak. Karena bagiku, ketika seorang laki-laki bisa setia itu artinya dia punya pendirian yang kuat. Dan setia itu bisa menjadi sumber kepercayaan pasangan pada kita. Dan aku pengin jadi laki-laki yang berpendirian kuat dan dapat dipercaya pasanganku.

Namaku Virgo. Umurku 27 tahun. Dan aku mau cerita…

Waktu aku kuliah, aku ketemu seorang cewek yang kalau menurut aku sih cantik dan sederhana banget. Pertama kali ketemu, waktu kami duduk berdampingan di kursi paling belakang dalam kelas. Sebenarnya sih, aku udah tahu dia sejak lama, cuma baru kali ini aku dan dia duduk berdampingan. Kami nggak saling ngobrol, tapi aku suka ngelihat cara dia merhatiin perkuliahan. Wajahnya tuh kadang cemberut, kadang ber-oh-oh sendiri terus kalau udah paham apa yang dimaksud dosen dia bakal senyum sambil bilang ‘yes, aku paham’, dan aku baru sadar ternyata tuh cewek udah sadar kalau aku merhatiin dia.

Aku nyengir-nyengir bego. Iyalah, gimana nggak nyengir? Aku sama dia walaupun sekelas nggak pernah saling sapa. Jadi berhubung udah terlanjur ketahuan aku putusin buat ngajakin kenalan.
“Hai, aku Virgo,” kata aku
“Aku Nayra,” kata dia.

Setelah acara kenalan yang sebenarnya enggak perlu itu, karena sebenarnya aku udah tahu namanya dia dari semester 1, aku yakin dia juga pasti tahu namaku siapa, aku mulai ngajak si Nayra ngobrol.

Perkuliahan yang biasanya berasa lama itu jadi berasa cepat gara-gara ada Nayra yang ngajakin ngobrol. Sebelum kelas usai, aku memberanikan diri buat minta nomor HP-nya, ‘kali aja ada tugas yang nggak aku paham’, itu alesanku waktu kudapati tatapan Nayra yang penuh tanda tanya. Semacam pertanyaan ‘Buat apa Vir? Kan temenmu bukan cuma aku?’, tapi Nayra tetap ngasih nomor HP-nya.

Hampir setiap hari aku chat-an dengan Nayra dan hampir tiap hari pula aku dan Nayra sering bareng. Kami menemukan kecocokan, dan saat aku nyatain perasaanku ke dia, dia setuju pacaran sama aku. Ternyata dia juga nyimpen perasaan yang sama. Whehe…

Buatku, nggak ada yang lebih indah selain aku jadian sama Nayra.

Nayra adalah cewek yang bikin aku selalu semangat kuliah. Dia selalu nyemangatin aku selama kuliah. IP aku juga makin bagus tiap semesternya, karena Nayra selalu ‘ngomel-ngomel’ kalau aku mulai malas kuliah.

Hubungan kami sangat mulus. Kami jarang bertengkar. Kami adalah pasangan yang selalu saling dukung satu sama lain dalam hal apapun. Aku dan Nayra sama-sama berjuang dari nol. Dan aku bangga akan hal itu, zaman sekarang jarang banget kan ada cewek mau nemenin si cowok dari nol?

Lulus kuliah dengan IPK 3,6, pencapaian yang sangat luar biasa menurutku, karena aku bukan termasuk golongan mahasiswa pintar di kampus, pencapaian itu berkat dukungan dari Nayra. Nayra adalah alasanku untuk selalu melakukan yang terbaik.

Setelah lulus kuliah, aku bertekad untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus.
Dan harapanku terkabul. Aku diterima kerja di sebuah perusahaan besar dan digaji Rp 11 juta per bulan. Menurutku, itu adalah nominal yang fantastis buat orang kayak aku yang baru lulus kuliah. Seiring berjalannya waktu, Nayra mengatakan padaku kalau dia tidak puas dengan pencapaianku dan Nayra juga bilang kalau aku nggak punya tujuan atau prestasi dalam hidup.

Aku merasa kok Nayra berubah ya? Dia nggak kayak Nayra yang dulu aku kenal, tapi karena aku sayang dan percaya bahwa mungkin Nayra melakukan itu supaya aku semakin maju, aku pun bekerja sangat keras. Dalam kurun waktu satu tahun, aku berhasil dipromosikan menjadi Asisten Manajer dan aku juga memperoleh gaji Rp 17 juta per bulan.
Aku cukup puas dengan pencapaian itu.

Tapi aku nggak tahu, kenapa Nayra belum juga puas dengan semua pencapaianku.
Nayra mulai mengeluhkan mobilku, kata Nayra mobilku itu udah tua banget dan lusuh. Yaudahlah, pikirku, Nayra ada benarnya. Aku pun beli mobil baru, tapi aku hanya mampu beli Mazda 3 itu pun dengan cara mencicil tiap bulan sebanyak Rp 5 juta. Nggak apa-apa, demi calon istri, batinku.

Dan aku masih belum paham apa kurangnya aku di mata Nayra, setelah aku dibilang nggak punya tujuan hidup sekarang dia bilang kalau aku ini nggak punya rencana untuk masa depan kami. Kata Nayra, aku nggak punya tabungan atau rumah.

Aku berpikir positif bahwa mungkin Nayra hanya ingin hidupku mulai tertata dan mengurangi pengeluaran yang nggak penting. Sejak itu aku mulai mengurangi jalan bareng teman-temanku, mulai berhenti merokok dan minum-minum, supaya aku bisa hemat lebih banyak uang.

Setelah berjalan beberapa waktu, uangku berhasil terkumpul. Aku berhasil membeli satu unit apartemen yang disukai Nayra di pusat kota, tapi seperti saat beli mobil, aku juga mencicil apartemen ini, tiap bulan aku harus ngeluarin duit lebih dari Rp 6,7 juta.
Melihat Nayra senang, aku jadi sedikit melupakan cicilan-cicilan itu.

Dan Nayra nggak berkomentar apa-apa lagi. Mungkin di mata Nayra, aku sudah memberikan cukup bukti bahwa aku sangat serius dengan dia dan dia tahu pasti bahwa aku sedang merencanakan hidup bersama Nayra. Yap, aku emang udah merencanakan sesuatu. Aku mau kasih Nayra kejutan. Besok lusa, aku mau ngelamar Nayra, aku udah beli cincin dan aku yakin cincin itu bakal disukai Nayra.

Tapi, sepertinya aku harus menyusun ulang rencanaku. Tepat sehari sebelum aku ngelamar Nayra, mataku harus melihat kenyataan pahit.

Aku ngelihat si Nayra di mobil Mercedes Benz orang lain. Aku cuma bisa bengong dan cuma bisa berdiri tenang karena terlalu kaget dengan apa yang aku lihat, dan hati aku makin sakit waktu ngelihat cowok yang nggak aku tahu siapa, nyium Nayra-ku dan Nayra membalas ciuman itu.

Aku perhatiin itu cowok, dia nggak lebih ganteng dariku. Iya serius, aku nggak becanda. Tapi itu cowok pakai kemeja Louis Vuitton, sepatu Burberry, dan barang-barang branded lainnya. Dan saat itu aku sadar apa yang sedang terjadi antara Nayra dan aku, dia menyelingkuhi aku dengan orang yang lebih kaya.

Perasaanku berkecamuk.

Tapi aku cowok berkelas. Aku nggak nyamperin orang yang udah nyium pacarku. Walaupun sebenarnya aku pengin banget nge-jotos tuh cowok. Aku milih untuk pulang ke rumah.
Rencana buat ngelamar Nayra aku batalin. Dan aku ngerasa hatiku capeeek banget.

Aku nangis sendirian di rumah, batinku terus bertanya-tanya apa salahku pada Nayra. Padahal, aku pikir 6 tahun adalah waktu yang lebih dari cukup untuk saling mengenal, tapi ternyata aku nggak mengenal Nayra dengan baik. 6 tahun kesetiaanku sia-sia. Aku jadi ngerasa semua perjuanganku sia-sia.

Keesokan harinya aku menemui Nayra, tanpa banyak kata aku bilang ke dia kalau hubungan kami sudah berakhir. Dan nggak lupa juga aku bilang ke Nayra, terima kasih untuk pengkhianatannya.

Tapi ada satu hal yang aku syukuri, aku tahu jati diri Nayra yang sebenarnya sebelum aku dan dia resmi menikah.

Dan pesanku untuk orang-orang yang baca cerita ini, percayalah lamanya kamu menjalin hubungan asmara dengan pasanganmu, nggak akan menjamin pasanganmu bakal selalu setia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here