Aku Putusin Pacarku Gara-gara Tas Chanel

0
42

Aku mengenal Gery saat aku dan dia masih sama-sama menjadi mahasiswa baru di salah satu universitas swasta di Jakarta.

waktu itu aku dan dia sedang sama-sama di OSPEK.

Pertama kali aku melihatnya saat dia kena hukuman dari panitia OSPEK karena terlambat datang. Hukuman untuk yang terlambat adalah menyanyi di depan aula, dan Gery kala itu mendapat hukuman menyanyi lagu ‘BALONKU” dengan huruf vokalnya harus diganti ‘i’ semua.

Setelah selesai melaksanakan hukuman, dia kembali duduk ke barisan mahasiswa baru.

Awal aku melihatnya, aku cuma memandang dia sebagai cowok biasa yang sederhana tapi manis. Aku juga belum ada rasa suka, tapi aku berharap semoga aku dan dia nanti satu jurusan dan kalau beruntung satu kelas.

Doaku terkabul,aku dan Gery ternyata satu jurusan, dan kami berada di kelas yang sama. Kami sama-sama anak Akuntansi.

Awal semester satu aku cuma mengamati dia dari jarak jauh, aku selalu berusaha menjaga jarak supaya kami tidak duduk bersebelahan.

Tapi, suatu hari, aku bangun kesiangan dan datang telat ke kampus. Sesampaiku di kampus, aku berlari kencang menuju kelas, saat tiba di pintu kelas, dengan nafas yang masih ngos-ngosan aku melihat meja dosen, fiyuuuh, lega banget, bu dosen belum datang.

Lega dengan status dosen yang belum ada di kelas, aku menatap seisi kelas, hanya ada satu bangku yang masih kosong dan itu di sebelah Gery.

Aku agak deg-degan saat berjalan ke arah bangku kosong itu padahal Gery tidak menatapku sama sekali.

Singkat cerita perkuliahan dimulai.

Perhatianku tidak tertuju pada perkuliahan tapi pada Gery yang sibuk mencatat. Aku berpikir cukup lama, apakah aku akan mengajak Gery berbicara atau gimana. Tapi, akhirnya aku berdeham dan mengajaknya bicara.

Aku pura-pura pinjam catatannya dan dia dengan senang hati  meminjamkannya. Setelah itu kami asyik berdiskusi. Dan kami juga saling bertukar nomor HP.

Tahu sendiri kan kelanjutannya. Aku melakukan PDKT dengan Gery.  Gery anak yang asyik dan menyenangkan.

Beberapa bulan dekat dengannya dia mengungkapkan perasaannya padaku dan aku menerimanya. Kami pacaran. Dari cara dia memperlakukan aku, aku tahu Gery benar-benar tulus menyayangiku. Dan itu membuatku bahagia.

Hubungan kami yang baik-baik saja sempat membuat orang-orang iri dan menganggap kami sebagai Couple Goals, apalagi hubungan kami terus berlanjut sampai kami lulus.

Setelah lulus kami menjalani hubungan LDR. Karena Gery harus tinggal di Surabaya dan aku menetap di Jakarta.

Tapi, karena aku tidak nyaman dengan hubungan jarak jauh itu, aku membujuknya untuk pindah ke Jakarta dan memintanya untuk mencari pekerjaan di Jakarta.

Melihatku yang memohon-mohon padanya, Gery jadi tidak tega. Maka dia memutuskan untuk ke Jakarta saja dan mencari pekerjaan disini.

Di Jakarta aku bekerja di salah satu perusahaan yang masih berkembang sebagai staff administrasi dan Gery sendiri akhirnya diterima salah satu bank swasta di Jakarta dengan gaji yang lumayan.

Di Jakarta aku ngekost. Biaya swa kamarku lumayan mahal, dan Gery yang tahu gajiku sedikit, bersikeras untuk membayar sewa kamarku. Saat itu aku sudah bilang padanya untuk tidak perlu repot-repot membayar biaya kost-ku. Tapi, karena Gery memang sangat keras kepala dan sangat tidak tega padaku, jadilah dia tiap bulan memberiku uang bulanan untuk membayar sewa kamarku.

Tidak hanya itu, walaupun pacarku itu tidak punya mobil, dia selalu bersikap manis dan peduli dengan selalu mengantarku ke tempat kerja di pagi hari ke stasiun kereta.

Kebayang nggak sih, dia bolak balik jemput aku, tapi pakai kendaraan umum, dan itu dia lakukan setiap hari demi melihatku baik-baik saja. Dia laki-laki yang sangat bertanggung jawa begitu kata teman-teman kantorku.

Aku sudah bilang padanya kalau itu pasti akan sangat merepotkan. Tapi dia tetap dengan pendiriannya. Setiap malam dia akan siap dan menungguku selesai kerja.

Bahkan pernah lho waktu hujan deras dia memesankan Grab untuk kami berdua.

Waktu itu aku bilang padanya seperti ini.

“Bukannya repot dan bikin capek kalau kamu bolak-balik datang dan menjemputku dari tempat kerja setiap hari?”

Lalu dengan ekspresi serius dia menjawab.

“Karena kamu telah memilihku, aku tidak akan pernah membiarkanmu pulang sendirian. Aku harus menjagamu dan memastikan kamu baik-baik saja. itu sudah jadi tugasku sebagai laki-laki.”

Mendengar jawaban seperti itu tentu saja sangat membahagiakan.

Tapi, pacarku tidak punya sisi romantic, bertahun-tahun pacaran dengannya di setiap ulang tahunku dia hanya memberiku kado yang menurutku aneh seperti speaker Bluetooth, sikat gigi listrik, dan mixer.

Menurutmu untuk apa semua itu untukku?

Apa dia tidak paham juga kalau yang aku mau adalah beberapa tas bermerek seperti yang dimiliki teman-temanku.

Tapi walaupun begitu, dia tetap pacar terbaikku, setiap aku ingin pergi berlibur dia akan mentransfer uang yang cukup banyak untukku.

Tapi di dunia ini ada satu penyakit yang sangat berbahaya, dan penyakit itu adalah penyakit hati, ini benar-benar berbahaya dan semoga kamu tidak mengalaminya.

Dan itu dimulai, ketika suatu hari, di kantor, ada seorang teman perempuanku yang pamer tas chanel keluaran terbaru. Dia bilang pada semua orang di kantor kalau dia dibelikan oleh pacarnya.

Aku memandang iri tas yang ia bawa, dari dulu aku sangat ingin tas Chanel tapi uangku tidak pernah cukup untuk membelinya.

Aku dibutakan keinginan untuk memiliki barang mewah itu.

Karena itu aku menemui pacarku, aku mengatakan padanya bahwa aku sangat ingin tas Chanel yang terbaru.

Pacarku memandangku aneh.

“Buat apa? Tasmu kan sudah banyak?” Tanya dia

“Itu tas impianku. Temanku di kantor dibelikan pacarnya sebagai kado ulangtahun, dan aku ingin minta kamu membelikannya untukku,” kataku.

Lalu dia memegang tanganku dan berkata “Tas itu sangat mahal, sayang. Uang yang kita kumpulkan setahun belum tentu cukup untuk membelinya.”

Tapi aku sangat keras kepala, aku menarik tanganku dengan kasar dan mengatakan padanya kalau dia tidak serius denganku. Kenapa dia tidak berusaha untuk  menuruti keinginanku? Aku pacarnya kan? Harusnya dia melakukan semuanya untukku, termasuk membelikan aku tas chanel yang harganya memang sangat mahal.

Aku langsung pergi begitu saja. Dengan harapan dia akan berubah pikiran dan memilih untuk membelikan aku tas Chanel supaya aku tidak marah padanya.

Tapi, ternyata dia malah diam saja.

Setelah pertemuan itu kami sering bertengkar karena masalah sepele. Hubungan kami yang semula manis berubah jadi penuh masalah gara-gara keinginanku tidak dituruti. Keinginanku akan barang mewah menutupi mata hatiku dan melupakan semua kebaikan yang pernah dia lakukan.

Ditambah lagi, hampir semua tema-temanku memakai semua barang yang bermerek, itu benar-benar membuatku iri.

Dan akhirnya, aku mengambil keputusan.

Aku ajak dia bertemu dan aku minta untuk mengakhiri hubungan kami. Dia cuma menatapku tak percaya. Bagiku sia-sia aku punya pacar kalau untuk membelikan aku tas bermerek saja tidak bisa.

“hanya karena aku tidak mampu membelikanmu tas bermerek, kamu mutusin aku?”

“ya, kamu tidak benar-benar sayang padaku. Setiap ulang tahun aku berharap kamu membelikanku tas yang bermerek tapi kamu malah ngasih aku kado yang nggak bisa aku gunakan dan aku tunjukkan di depan teman-temanku,” kataku penuh emosi.

Mendengar kata-kataku dia terdiam cukup lama, namun pada akhirnya dia setuju.

“Baiklah kalau itu keputusanmu, aku terima. Tapi jangan harap, saat kamu sadar nanti, aku mau kembali lagi padamu.”

Setelah itu dia pergi meninggalkan aku.

Namun, dua bulan setelah pertengakaran itu, aku baru sadar bahwa dia adalah yang terbaik yang pernah ada di hidupku. Dia menyayangiku dengan tulus. Jujur saja aku sangat mneyesali keputusanku dulu.

Setelah putus darinya, hidupku malah semakin rumit, dan sudah tidak ada lagi yang mengantar jemput aku dengan kendaraan umum. Sudah tidak ada lagi yang perhatian padaku. dan aku sangat merindukan dia yang dulu selalu ada.

Tapi, dari kisahku bisa diambil pelajaran, sebenarnya jika kamu telah menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus, jaga dia dan jangan sia-siakan dia hanya karena masalah sepele, seperti yang aku lakukan, aku telah menyia-nyiakan orang yang baik, yang sebenarnya lebih berharga dari kekayaan apapun di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here