Perjuanganku Menyelamatkan Istriku yang Sedang Hamil Tua di Tengah Tsunami

0
41

Perkenalkan aku Arul. Umurku 30 tahun. Dan hari ini aku akan membagikan pengalamanku menjadi saksi hidup tsunami yang melanda kota tempat tinggalku. Sebelumnya, aku tak pernah membayangkan peristiwa itu terjadi di depan mataku.

Pagi itu aku bangun dengan semangat. Selepas sholat shubuh jama’ah aku segera berbelanja ikan di TPI. Hari itu sangat cerah, sambil berjalan menuju TPI aku berdoa supaya hari itu daganganku lancar dan ramai pembeli, maklumlah aku sedang merintis usaha kuliner khas Makassar.

Hari itu seperti biasa, setelah aku selesai berbelanja aku kembali ke rumah dan istirahat sebentar.

Setelah puas beristirahat, aku segera membuka warungku. Mempersiapkan berbagai hal, seperti mengulek bumbu ikan, mempersiapkan sambal, membersihkan warung dan lain-lain. Hari itu masih berjalan seperti biasa.

Tapi menjadi luar biasa saat seorang pembeli ikan bakar mulai berdatangan. Aku mulai sibuk mengipas-ngipas ikan yang sedang aku bakar. Di tengah keasyikan membakar ikan, tiba-tiba aku dikejutkan dengan suara gemuruh dari bawah tanah.

Kegiatanku langsung berhenti, semua orang berteriak panik.

Gempa! Gempa!

Para pengendara motor yang berlalu-lalang di jalan raya tiba-tiba jatuh sendiri dan aliran listrik seketika langsung padam bersamaan dengan bergetarnya tanah.

Aku merasakan pijakan kakiku turun kemudian naik dan disusul dengan goyangan yang durasinya sangat lama, lebih dari lima menit. Setelah itu aku berlari ke luar gedung.

Tapi, ibu, istri dan anakku masi di kamar. Tanpa berpikir panjang aku segera masuk kembali ke dalam gedung. Banyak orang yang berteriak padaku agar aku keluar gedung, tapi mana bisa aku berlari menyelamatkan diri, sementara ibu, istri dan anakku masih terjebak di dalam?

Aku tidak mendengarkan teriakan-teriakan mereka.

Kutemukan, mereka bertiga dalam keadaan penuh ketakutan dan tak bisa kemana-mana. Mereka terlalu bingung. Anakku menangis histeris, istriku karena hari perkiraan lahirnya kurang lebih 3 hari lagi, agak kerepotan saat harus bergerak cepat, dan ibuku, kaki tuanya ikut bergetar. Aku menggendong anakku, lalu aku menggandeng ibu dan istriku.

Aku memaksakan diri untuk kuat dan bertahan saling bergandengan. Walaupun getaran tanah yang aku rasakan terlalu kuat dan tidak bisa aku imbangi, aku tetap berusaha sekuat tenaga menuntun keluargaku. Tubuh kami sempat terlempar ke tembok, istriku merintih sakit dan anakku terus menangis.

Tapi meskipun begitu kami beruntung, kami berhasil keluar. Tangis anakku mereda.
Kami menepi ke pinggir jalan, kami berdiri menyaksikan gerakan-gerakan bangunan mengikuti getaran tanah. Kami juga mendengar banyak teriakan histeris dari para korban lainnya. Ibu dan istriku menangis, anakku yang masih berusia 2 tahun didekap istriku.
Aku tak mungkin berdiri di pinggir jalan terus menerus. Aku harus mencari tempat yang aman untuk kami, terutama mereka bertiga. Lalu aku mencari tanah yang agak lapang, agar kami tidak tertimpa reruntuhan.

Dan kami benar-benar beruntung, kami berhasil berkumpul dengan sanak keluarga yang sudah lama menetap di Kota Palu.

Kami saling berangkulan dan bertangisan. Kalimat istighfar tidak pernah berhenti kami ucapkan.

Selama dua jam kami harus dipenuhi dengan perasaan khawatir karena getaran itu tidak kunjung berhenti walaupun kekuatannya sedikit demi sedikit berkurang.

Sampai pagi menjelang, gempa-gempa kecil susulan itu masih ada, dan semalaman kami tidak berani memejamkan mata.

Putusnya akses jaringan komunikasi 4 provider itu semakin memperparah situasi. Listrik pun masih padam, tidak tahu sampai kapan.

Aku dan para korban gempa lainnya merasa terisolasi.

Seharian kami hidup seperti tanpa harapan.

Lalu sekitar jam 7 malam waktu indonesia tengah, ribuan orang berduyun-duyun mencari tempat aman. Ada yang menggunakan kendaraan bermotor ada pula yang memilih berjalan kaki sampai puluhan kilometer. Aku tidak tahu tempat aman yang mereka maksud seperti apa, jadi aku bertanya pada mereka, dan mereka menjawab akan ke tempat yang lebih tinggi.

Aku dan keluargaku sempat berpikir untuk ikut, tapi aku ingat kalau istriku sedang hamil tua, dia bisa melahirkan kapan saja dan jika situasinya seperti ini dia juga bisa melahirkan dimana saja tanpa pertolongan medis.

Aku mencoba berpikir positif, letak geografis tempat tinggalku berada di tempat yang tinggi jadi kupikir ancaman terkena dampak tsunami sangat kecil, jadi kami memilih tinggal.
Tapi meskipun begitu, kami sekeluarga tetap punya rasa khawatir, hanya saja kami berusaha menyembunyikannya.

Malam itu gempa susulan hingga pagi masih terus terjadi, membuat kami semua panik. Ketakutan saudara-saudaraku pun makin menjadi. Tapi dengan terus beristighfar aku menyemangati mereka. kukatakan pada mereka bahwa kita akan selamat dan semuanya akan kembali seperti semula. Kepanikan mereka mulai berkurang.

Lalu tengah malam aku sudah tidak lagi bisa menghitung berapa kali gempa susulan yang terjadi. Aku berinisiatif mengambil tikar dan membentangkannya di bahu jalan, aku menyuruh istri dan ibuku beristirahat. Anakku sudah terlelap, mungkin kelelahan karena harus berada di situasi yang menegangkan.

Dan malam itu menjadi pengalaman pertamaku tidur di luar ruangan.

Keesokan harinya, gempa tak kunjung berhenti, walaupun kekuatannya mulai menurun, tapi itu tidak membuat kekhawatiran kami ikut berkurang.

Aku berniat untuk segera meninggalkan kota Palu, aku terus berusaha mencari koneksi ke semua jaringan.

Ada banyaknya longsor, menjadi penyebab tidak adanya akses ke semua jalanan untuk keluar masuk dan itu menjadikan tidak adanya penyewaan mobil. Tidak hanya itu, fasilitas penerbangan juga ditutup, karena bandara rusak parah.

Sepanjang perjalanan mencari akses keluar Palu, aku dikejutkan dengan ratusan mayat yang tergeletak di beberapa titik. Jujur saja itu membuatku bergidik ngeri.

Tidak hanya itu, aku juga harus melihat jalanan yang terbelah dan bangunan yang sudah rata dengan tanah. Bahkan salah satu mall terdekat dari rumahku pun rusak parah. Terlihat jelas ratusan mayat di sana. Selain itu, ada banyak mayat yang bergelantungan di beberapa sudut mall yang berdiri miring.

Aku tak menceritakan apa saja yang aku lihat pada keluargaku. Aku takut trauma mereka akan semakin parah. Karena ada getaran kecil saja mereka akan langsung terlonjak ketakutan.

Sampai malam hari, aku dan keluargaku masih bertahan di bahu jalan. Tak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam rumah. Kami juga harus rela berbasah-basahan karena hujan turun malam itu, kami tak punya tenda.

Kemudian sekitar jam 2 waktu indonesia tengah, gempa berkekuatan sedang kembali muncul sebanyak empat kali, dan setelah tiga jam menekan rasa takut gempa berkekuatan kecil muncul secara terus menerus.

Tapi, yang paling aku khawatirkan adalah keadaan istriku yang sedang hamil tua, melihat keadaannya yang agak kepayahan, aku mencoba melihat-lihat rumah sakit. Aku khawatir jika istriku melahirkan sewaktu-waktu. Tapi, aku sangat terkejut saat mendapati ada banyak pasien tergeletak di halaman rumah sakit. Bahkan kuburan China yang ada di dekat rumah sakit, penuh pasien.

Kecemasanku semakin bertambah. Aku membayangkan kalau istriku melahirkan secara tiba-tiba dan dia tidak mendapat pelayanan yang maksimal. Bahkan yang terburuk jika istriku harus dirawat di rumah kuburan seperti pasien lainnya.

Minggu pagi, aku kembali berusaha mencari koneksi. Aku berusaha mencari kabar, apakah akses keluar kota Palu sudah bisa digunakan atau belum. Sayangnya, longsor masih terjadi di mana-mana, itu artinya akses keluar Kota Palu masih ditutup.

Aku tidak menyerah. Aku mencoba peruntungan lain. Aku bergegas ke Bandara. Di sana aku melihat ada proses evakuasi terjadi dengan pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara.

Melihat itu, aku langsung mempercepat gerak kakiku, aku segera menjemput anak, istri dan ibuku. Setelah mengambil pakaian seadanya di rumah, aku segera memboyong keluargaku ke bandara.

Di bandara ada banyak ratusan orang yang berdesak-desakan. Aku khawatir dengan istriku yang hamil tua, aku terus berusaha melindunginya. Setiap ada yang mendorong aku akan langsung mengeluarkan makian, bahkan saking cemasnya aku, aku sempat memukul beberapa orang, karena perut istriku terdorong.

Tapi, aku beruntung, aku tidak perlu memaki dan memukul orang-orang lagi, karena para petugas TNI memprioritaskan istriku untuk mendapatkan proses evakuasi. Tapi, aku tak bisa ikut naik, karena sesuai SOP laki-laki sehat tidak diijinkan berangkat. Prioritas utama adalah perempuan, anak-anak, lansia, dan orang sakit.

Aku pasrah. Aku ikhlas mereka bertiga berangkat lebih dulu menuju Makassar. Yang terpenting mereka selamat dan aman. Aku bisa menyusul nanti.

Tapi, di tengah rasa putus asaku, aku dihampiri oleh seorang dokter TNI yang tidak aku ketahui namanya, dia membisikkan padaku untuk menyelundup masuk ke dalam pesawat.
Dokter itu berkata padaku, bahwa ia pernah merasakan kejadian ketika istrinya melahirkan tanpa kehadiran suami. Pengalamannya membuat ia bisa memahami perasaanku. Aku disuruhnya untuk lari melewati penjagaan dan masuk pesawat, jika ditahan, aku disuruh bilang kalau istriku tidak ada yang mendampingi. Namun, kalau tidak diizinkan itu adalah perjuangan terakhir agar aku bisa bersama istriku.

Sayangnya, aku tidak sempat melihat papan nama dokter yang tadi menolongku, aku ingin mengucapkan terima kasih.

Saat aku melihat puluhan orang diberhentikan petugas, aku langsung berlari cepat 500 meter sampai tiba di pantat pesawat, aku naik lalumengatakan pada petugas seperti yang tadi dikatakan oleh dokter yang memberitahuku tadi, tak lama kemudian aku diizinkan masuk dan menemukan istriku, akhirnya aku bisa bersama-sama dengan keluarga kecilku lagi.

Beberapa menit kemudian, pesawat lepas landas. Dari kaca pesawat hercules, aku melihat ke bawah dan aku mengucapkan salam pada petugas yang membantuku tadi dalam bisikan. Dari atas aku dapat melihat dengan jelas betapa hancurnya Kota Palu. Aku sebagai salah satu saksi hidup pun hanya bisa tawakal kepada Allah SWT. Aku tahu, ini adalah teguran nyata dariNya untuk para hambaNya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here