12 Tahun Aku Menjadi Budak Nafsu Ayah Kandungku

0
12

Sejak aku kecil, doaku di setiap malam adalah aku ingin punya kehidupan yang normal seperti kebanyakan perempuan. Mereka seperti punya kesempatan untuk mengukir masa depan. Sedangkan, hidupku seperti tak punya harapan dan tidak punya masa depan.

Keraguanku akan masa depan bukan tanpa alasan. Semua ini gara-gara orang yang seharusnya aku hormati, merusak masa kecilku, dan orang itu adalah ayah kandungku sendiri.

Jika saja dua kakakku masih hidup, aku pasti masih punya kesempatan untuk merajut masa depan. Sayangnya, dua kakakku sudah meninggal saat mereka berdua masih kecil.

Kakak pertamaku meninggal di usia 2 bulan dan kakak keduaku meninggal saat berumur 7 tahun.

Dan kejadian menyedihkan ini dimulai pada tahun 1991, saat itu aku masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Malam itu, saat aku sudah tidur, aku terbangun karena hidungku mencium bau yang menyengat. Tidak nyaman dengan aromanya, aku langsung membuka mata. Dan aku dikagetkan oleh adanya ayah yang sedang memegang keris.

Bau menyengat yang tadi sempat aku hirup membuat badanku lemas dan mataku terasa berat. Aku dalam keadaan setengah sadar, dan saat itu aku mendapati ayahku mulai melampiaskan nafsunya.

Sadar dengan apa yang sedang dilakukan ayahku, aku langsung meronta-ronta untuk melepaskan diri. Tapi tenagaku kurang kuat, usahaku sia-sia. Setelah itu ayahku mengancam akan membunuhku jika aku mengadukan perlakuannya pada orang lain.

Esok hari, saat pagi buta, ayah kembali mengancamku, dia juga memerintahkan aku untuk mencuci celanaku yang penuh dengan bercak darah.

Setelah itu aku merasa hidupku berubah total. Aku berubah jadi seorang gadis pemurung. Hidupku seolah tak punya harapan. Setiap malam tiba, aku selalu dihantui perasaan was-was. Aku sangat khawatir jika ayah akan masuk ke kamarku lagi.

Dan dugaanku benar, ayah datang lagi dan memaksaku untuk melayani nafsunya. Saat itu perasaanku sangat hancur, aku merasa bahwa aku bukanlah anaknya yang harus ia jaga dan ia sayang melainkan hanya seorang budak nafsunya tiap malam.

Yang aku tidak habis pikir, adalah ibuku bersikap seolah tidak tahu apa yang sedang menimpaku. Tapi aku yakin seratus persen kalau ibuku pasti tahu. Sangat mustahil dia tidak tahu, karena setiap ayah memaksaku untuk melayani nafsunya, aku selalu merintih kesakitan.

Dan aku juga yakin kalau ibu pasti dengar suara rintihanku. Ayah juga bebas keluar masuk kamarku karena kamarku tidak boleh dikunci. Kalau aku nekat mengunci pintu kamar, tidak hanya ayah yang marah, tapi ibu juga akan ikut-ikutan memarahiku.

Kamarku juga selalu dalam kondisi gelap.

Sampai aku duduk di bangku SMP, perbuatan bejat ayahku tidak berhenti. Sampai suatu hari aku sempat mengalami telat datang bulan. Dan saat aku mengadukan kondisi itu pada ibu, ibu memberiku ikan tanpa tulang selama dua minggu.

Dan setelah itu, aku haid lagi.

Bahkan sampai aku menjadi siswi SMA pun ayah belum ada tanda-tanda akan berhenti menjadikan aku budak nafsunya. Dan lagi-lagi aku mengalami telat datang bulan. Dan seperti kejadian saat aku SMP, aku kembali mengadukan kondisi ini pada ibu. Kukira ibu akan memberiku ikan tanpa tulang lagi, ternyata kali ini aku diajaknya ke dukun pijat.

Pada dukun pijat itu ibu bilang kalau aku baru saja jatuh dari sepeda. Aku sudah ingin protes tapi aku tidak berani saat melihat ibu melotot padaku, maka aku diam saja.

Tapi, aku rasa ibu dan dukun pijat ini sudah saling mengerti satu sama lain tentang masalahku.

Karena si dukun pijat memijat perutku pelan-pelan, rasanya sangat sakit, aku menahan diri untuk tidak berteriak, aku berusaha keras menahan nyeri di sekujur tubuhku.

Tapi tak lama kemudian, dari bawah perutku keluar gumpalan-gumpalan darah. Aroma anyir dari gumpalan darah itu membuat perasaanku tak nyaman. Aku menatap ngeri keadaanku yang penuh dengan bercak darah. Tapi aku memilih untuk diam saja.

Mungkin kamu yang mendengar cerita ini merasa aneh dan heran, bagaimana mungkin seorang ayah kandung tega merusak putri kandungnya sendiri ditambah lagi keluargaku bisa dibilang termasuk keluarga yang cukup terpandang.

Dari sektor ekonomi kami lebih dari cukup, karena ayah seorang pegawai perusahaan telekomunikasi.

Ayah juga termasuk tokoh yang disegani di masyarakat. Karena itu dia diangkat menjadi seorang ketua RW. Ayahku juga dikenal sebagai orang yang dermawan karena sering menyumbang untuk keperluan kampung.

Tapi dibalik itu semua, ayah seperti punya topeng lain, dia bersikap sangat keras padaku. dia melarangku bergaul dengan teman-temanku. Jadi, kegiatanku sepulang sekolah duduk diam di dalam rumah, aku tidak boleh kemana-mana.

Bisa kamu bayangkan betapa membosankannya hidupku? Jadi untuk membunuh rasa bosan aku menyibukkan diri dengan belajar. mau bagaimana lagi, main sama teman dilarang, terima telpon dari teman langsung kena marah, telat pulang sekolah sebentar saja aku langsung kena damprat. Aku benar-benar merasa hidupku tak punya warna. Aku juga merasa kalau aku hidup sendiri.

Jujur saja, aku juga pengin kayak remaja lainnya yang main kesana kemari, aku juga pengin punya pacar.  Tapi, keadaanku tidak memungkinkan aku untuk bermain dan pacaran. Karena larangan dari ayah dan ibu aku tidak punya teman dekat baik laki-laki atau perempuan.

Setelah lulus SMA, sebenarnya aku ingin masuk fakultas kedokteran, tapi lagi-lagi aku tidak bisa melakukan dan mendapatkan apa yang aku mau, ayah melarangku masuk ke fakultas itu, dan memaksaku masuk ke fakultas psikologi.

Karena aku tidak punya pilihan lain, aku menuruti permintaannya. Akhirnya aku diterima di salah satu universitas swasta ternama di Surabaya.

Masuk ke dunia perkuliahan aku melecut diriku untuk rajin belajar. setiap hari kesibukanku hanya belajar dan belajar.

Ayahku masih belum berhenti memaksaku untuk melayani nafsunya. Kadang aku sendiri bertanya-tanya, kapan semua ini akan berakhir.

Dan Tuhan menjawab doaku. Perbuatan bejat ayahku terbongkar dengan sendirinya.

Saat itu, menjelang wisuda, pihak kampus menghubungi ayahku ke rumah, ayah diminta untuk melengkapi syarat-syarat tertentu agar aku bisa masuk sebagai sarjana teladan karena aku lulus cumlaude.

Kukira ayahku akan gembira dan bangga padaku, tapi nyatanya dia malah keberatan dan tidak mau melengkapi persyaratannya.

Dan aku baru tahu masalah itu, dini hari menjelang wisuda. Malam itu aku menginap di rumah salah satu tetanggaku yang bernama Pak Sabar. Beliau adalah tetangga dekat rumah.

Alasan aku menginap di rumah Pak Sabar karena aku butuh bantuan beliau untuk keperluan tugas akhirku. Sudah enam bulan terakhir aku menginap di rumah pak sabar, dan itu menjadikan hubunganku dengan keluarga pak sabar sangat dekat. Yang mendekatkan aku dengan pak sabar adalah ayahku sendiri.

Aku minta bantuan pak sabar untuk membuat alat peraga relaksasi untuk penderita insomnia melalui kaset rekaman dan kebetulan Pak Sabar adalah ahlinya di bidang ini.

Saat itu aku sedang di rumah Pak Sabar, aku berniat untuk menginap saja. tapi, ayahku memintaku untuk pulang, jadilah aku diantar pak sabar dan istrinya pulang ke rumah.

Sesampaiku di rumah, ayah mengatakan kalau dia tidak mau melengkapi syarat-syarat agar aku dinobatkan sebagai sarjana teladan.

Mendengar itu aku sangat kesal dan marah. Pikirku, apa susahnya sih melengkapi? Toh aku tidak pernah menuntut apa-apa dari ayahku.

Karena itu tiba-tiba keberanianku muncul. dengan berteriak aku berkata “ Aku dan masa depanku sudah kau hancurkan, dan sekarang kau juga mau merusaknya lagi!”

Pak sabar dan istrinya terlonjak kaget.

Aku langsung membeberkan semua kebusukan ayahku di depan pak sabar, aku merasa sangat marah dan lega secara bersamaan.

Pak sabar bertanya sejak kapan aku diperlakukan seperti itu. Aku menjawab semua pertanyaan Pak sabar dengan jujur. Dan saat itu ayahku juga mau mengaku salah dan minta maaf padaku, niatku untuk melaporkannya pada kepolisian aku urungkan.

Tapi sejak kejadian itu, ayah dan ibu pergi dari rumah. Aku tak tahu mereka pergi kemana. Namun, pada akhirnya, aku melaporkan ayah ke polisi. Apalagi belakangan ini ayah menelpon beberapa tetangga dan menebar fitnah.

Dia mengatakan pada semua orang kalau dia pergi lantaran malu karena aku dihamili pak sabar.

Hatiku sangat sakit mendengarnya. Dia sudah menghancurkan aku, sekarang dia juga menebar fitnah keji tentangku.

Tapi, sekarang semua orang sudah tahu yang sebenarnya, banyak dari mereka yang bersimpati padaku. dan itu cukup untukku menguatkan diri.

Setelah masalah itu selesai, aku akan melanjutkan kuliah S2. Aku ingin jadi psikolog, agar aku bisa memahami dan membantu orang-orang yang butuh pertolongan, seperti yang sudah terjadi padaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here