100 Hari Setelah Aku Mati Part 4 : Apa Yang Terjadi

0
30
bukukita.com

Aku pun berkata apa salah aku, apa engkau sedang menguji manusia yang bahkan belum akhil balik. Aku pun bingung kenapa kutukan ini tidak di beri kan saja pada orang lain dan jangan pada aku, bagi aku ini terlalu berat di pikirku saat menjelang dewasa. Aku terbangun dengan badan yang ngilu dan sakit sekali. Aku langsung teringat kejadian semalam rasanya ingin menutup mata dan kembali pingsan atau paling tidak menangis, akan tetapi kacau sekali kala itu ketika aku melihat bapak. Tampak bapak tidak tidur semalaman. Bapak pun datang menghampiri aku dan mendekap aku. Bapak memastikan jika aku dalam keadaan baik-baik saja. Aku pun mengatakan pada bapak jika aku takut karena aku melihat hantu. Bapak pun membesarkan hati aku dan meyakinkan jika aku adalah laki-laki pemberani.

Saat itu ibu pulang sebentar untuk mengambil baju aku dan bapak menyuruh aku tidur kembali. Bapak aku merupakan sosok panutan aku hingga aku dewasa, dimana bapak adalah abdi negara yang jujur, seorang pejuang di era modern. Bapak merupakan pelindung keluarga aku dan bapak bisa menjadi sosok yang tegas dan juga lembut. Bapak adalah bapak aku dan aku ingin menjadi seperti bapak. Saat aku tertidur lagi, mungkin cukup lama sampai aku bangun dan mungkin itu sudah siang bolong. Aku melihat banyak sodara aku di rumah sakit seperti bude, pakde, pakle, sepupu aku dan banyak lagi dimana saat itu mereka semua menangis sambil memeluk aku tapi tanpa bicara aku tidak mengerti ada apa ini.

Infus aku sudah di lepas dan aku juga sudah mulai tenang. Aku bisa berjalan dan duduk sendiri, kemudian aku melirik ke arah bapak. Dan untuk pertama kali nya melihat bapak menangis. Aku pun bertanya kenapa bapak menangis? Bapak pun menjawab jika dia hanya sedang memikirkan sesuatu, lalu bapak mengusap pipi nya dan memeluk aku erat. Hari itu juga kami pulang dan bapak menggendongk aku seakan tidak mau melepaskan aku. Kami naik mobil kijang milik sodara aku dan menuju rumah aku dan entah kenapa aku masih melihat mereka dan aku tidak setakut tadi malam. Ketika itu seolah otak aku mengatakan mereka bukan apa-apa hingga kami sampai di rumah dan aneh tidak biasanya rumah aku sangat ramai para tetangga yang datang.

Aku pun masih belum mengerti begitu turun aku melihat sanak sodara aku yang lain langsung memeluk aku erat dan bicara panjang lebar dengan bapak, semua terlihat jelas bapak sedang cemas, takut atau sedih. Aku benar-benar bingung dan tidak paham saat itu. Kemudian budhe yuni menggendong aku, bapak masuk ke kamar dan di hujani peluk cium oleh tetangga dan sodara aku.

Mereka menangis dan aku melihat mereka menatap aku dengan tatapan yang paling ku benci hingga saat ini, mereka menatap aku dengan iba. Tatapan yang entah kenapa di usia aku saat ini paling enggan kulihat orang menatap aku dengan cara seperti itu. Sampai di umur aku yang ke 28 tahun ini aku tidak suka dengan namanya di kasihani. Aku lebih suka di benci daripada di kasihani. Perasaan aku menjadi tidak enak dan benar saja bapak menggendong aku lagi tampaknya bapak baru ganti baju dan membawa aku ke kamar, saat itu bapk memeluk aku dengan sangat erat dan bapak pun meminta maaf pada aku. Aku semakin bingung kenapa ini? Dan untuk kedua kali nya bapak memeluk aku dengan erat sambil diiringi tangisan.

Lalu bapak menjelaskan jika ibu aku meninggal dalam kecelakaan. Seketika aku kaget dengan berita itu dan saat itu aku masih TK. Aku berfikir kenapa saat aku masih membutuhkan ibu tapi dia pergi meninggalkan aku. Beberapa kali pertanyaan aku mengenai apa ibu tahu penderitaan aku selam di tinggal ibu berulang-ulang aku tanyakan. Akhirnya ibu pun di makam kan, batin aku masih sakit setiap mengingat kejadian itu.

Singkatnya setelah tangis-tangis aku dan jeritan-jeritan pilu memanggil ibu aku agar bangun tidak bisa membangunkan dia. Ibu pun di makam kan di TPU terdekat dan aku masih merasakan sesak itu. Aku harus menghilangkan hal itu di kala ada yang salah dalam indra aku. Saat usia sekecil itu aku di paksa mengerti bahwa yang mati tidak akan hidup lagi. Selamat tinggal ibu itu ucapan aku, dimana aku mengenalnya 9 bulan 10 hari di kandungan dan wanita yang baru kukenal dan menemaniku selama 6 tahun 2 bulan dan 5 hari. Ibu aku meninggal di hari jumat tahun 1995. Dan 2 hari setelah itu, aku hanya tidur dan mengurung diri. Banyak sekali penampakan di luar jendela tiap malam. Aku sangat takut dan berusaha melupakan semua itu. Aku hanya meluapkan takut aku di bawah selimut dan menangis tertahan karena mata aku sudah lelah mengeluarkan air mata. Aku berusaha tidak menjerit dan menggigit bantal sambil memanggil ibu aku dan mengatakan jika aku sangat takut. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here