100 Hari Setelah Aku Mati Part 3 : Teman Misterius

0
6
bukukita.com

Mulutnya menganga dan darah keluar sampai menggenang lantai dan seperti membasahinya yang sedang terkurap. Tanganya berusaha meraih tangan aku. Jika film biasanya tokohnya akan lolos namun aku bisa di raih oleh nya, aku di seret masuk ke lorong kasur dan aku melihat dari dekat mata dan bibir berwarna ungu busuk. Aku masih ingat makhluk itu punya bau yang akan membuat kamu muntah dan aku meronta dengan meminta tolong namun tidak ada yang mendengar. Dia meraih aku mencengkram tangan aku dengan sangat-sangat kuat aku menatapnya dengan tatapan marah nya. Aku hanya menangus sangat keras, kejadian itu bahkan akan membuat orang dewasa ngompol, dimana aku terlalu kecil untuk mengalami itu. Aku pun berfikir kenapa ini terjadi di pikiran aku saat dewasa.

Makhluk itu tidak melepaskanku dia membuka mulutnya sangat lebar di depan muka aku. Entah apa yang terjadi tiba-tiba ada bunyi sangat keras berdenging suara yang sangat tinggi. Aku bingung seperti mengerti arti bunyi itu. Entah aku paham tapi bunyi itu memanggil makhluk itu. Dia melepaskan tangan dan pundaku, dia bergerak ngesot kebelakang tanpa matanya berpaling dari aku. Aku masih menangis dan sampai aku berkedip makhluk itu hilang, bekas noda darah juga tidak ada. Bahkan debu-debu di kolong pun menunjukan jika tidak ada jejak apapun. Satu-satunya bukti adalah aku yang tengkurap di kolong dengan tangis yang keras sampai semua menjadi gelap.

Aku terbangun dan melihat ibu, lalu bapak yang masih mengenakan seragam dinasnya nampak tengah bicara dengan dokter yang ada di ruangan putih dan ada tirai atau beberapa alat kesehatan ternyata aku berada di rumah sakit. Aku pun memanggil ibu dengan suara lemas dan ibu menanyakan apa dada aku masih sesak. Ibu pun berucap dengan menangis sambil memeluku. Aku hanya diam, berusaha mengingat, aku ingat dan aku menyesal mengingatnya. Aku masih takut sampai sekarang aku tidak akan pernah lupa perasaan takut itu. Dan rasa ngilu, lemas dan dingin di sekujur badan kala itu. Aku tidak berani mengatakannya dan sama sekali tidak berani. Saat ibu bertanya yang terjadi pada aku, aku pun bingung dan badan aku dingin sambil menggeleng.

Bapak pun mengelus kepala aku pelan sambil berkata sekarang tidak apa-apa bapak dan ibu ada di sini. Aku tidak mau sendirian di rumah sambil menangis karena teringat kejadian tadi sore. Bapak pun menyuruh aku tidur dengan badan aku masih lemas. Aku pun mengusap air mata yang membanjiri wajah. Entah kenapa aku cepat sekali tertidur, mungkin pengaruh obat penenang. Aku melihat kalender di dinding yang bertahun 1995, ternyata aku sudah di pindah ke kamar khusus. Bapak tampak tertidur duduk dan menungguku dan ibu tidur di bawah dengan alas kasur lipat. Aku kembali melihat sekeliling dan ternyata tidak hanya di rumah aku namun dapat melihat makhluk-makhluk itu di pojokan kamar aku melihat. Aku berteriak sangat keras dan cukup keras mungkin untuk membangun kan kamar sebelah bapak bangun dan berusaha memeluk aku. Tapi aku masih melihat makhluk itu, berbeda dengan siang tadi. Aku melihat sosok dengan wajah hancur seperti mukanya pernah terparut. Penuh dengan luka codet dan tampak di wajahnya seperti ada nanah atau darah yang mengering. Di wajahnya nampak hanya rongga mata tanpa ada bola matanya. Akan tetapi hanya bagian atas karena bibir bawahnya tidak ada dan memperlihatkan giginya yang jarang-jarang dan menghitam. Seluruh tubuhnya dari ujung keujung di balut kain putih kotor. Aku meronta-ronta berusaha lari bahkan membuat jarum infus di tangan aku terlepas dan melukai tangan aku sampai sobek. Bapak dan ibu yang masih terkejut berusaha memegangi aku tapi aku tetap takut. Ibu pun memencet bel yang ada di dekat kasur, mungkin untuk memanggil dokter dan aku meronta. Berusaha kabur aku melihat jendela kemudian aku loncat dan aku terjatuh cukup keras, dimana seharusnya aku menangis jika jatuh dari ketinggian 1 meter. Akan tetapi karena sangat takut aku tidak pedulikan darah yang mengalir dari tangan dan pelipis aku yang entah terbentur apa. Saat itu mereka semua pergi menuju arah aku. Tampak ada yang mendekap aku dan mengangkat aku, aku sangat kaget ternyata itu bapak dan beliau mengangkat aku menjauh.

Aku berusaha lepas lagi dari bapak untuk berlari sendiri. Aku merasa tidak aman walaupun sudah ada orang tua aku yang saat itu terlihat sangat panik melihat kelakuan aku. Aku terlepas dari gendongan bapak untuk kedua kalinya dan aku terjatuh lagi dan muka aku lembam. Walau meronta aku mencoba melawan tapi apa daya bapak adalah seorang tentara yang kala itu berpangkat sersan mayor. Badan aku pun semakin lama semakin lemas tidak berdaya. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here