100 Hari Setelah Aku Mati Part 2 : Teror

0
15
bukukita.com

Tapi ternyata mulai malam itu dan seterusnya malam aku tidak pernah biasa lagi. Kasur aku berada dekat jendela, kadang ibu aku lupa menutup gorden sama seperti malam itu. Aku terjaga malam-malam karena merasakan hawa yang aneh. Terlalu aneh untuk di bayangkan, dirasakan dan di ungkapkan anak usia 6 tahun seperti aku. Aku melihat di seberang rumah ada sesosok yang muncul lagi satu sosok mereka banyak. Dan yang paling aku ingat adalah sosok bermata merah, dengan badan berbulu dan tangan panjang sampai menyentuh tanah. Mereka hanya memandangku dengan menyeramkan. Ada hawa benci yang aku rasakan, dimana jarak mereka sekitar 10 meter dari kamar aku. Dan seketika itu juga aku teriak dengan menangis. Saat itu aku takut teramat takut dan kedua orang tua aku buru-buru datang dan bapak menggendong aku yang masih terisak-isak.

Saat di gendong mata aku menghadap mereka yang berjalan menjauh dan paling belakang yang aku lihat sosok kecil yang sanagat aku kenal. Malam itu aku bersama orang tua aku, rasa takut masih menyimuti ibu aku masih menenangkan aku dan Cuma bilang jika aku mimpi buruk saja. Saya mencoba menganggap itu merupakan mimpi buruk dan tidak akan terjadi lagi. Tapi aku ternyata salah besar. Pagi hari mata hari sudah tinggi, aku brangkat sekolah dan saat itu aku masih TK. Aku mulai melupakan kejadian semalam karena mungkin itu benar-benar mimpi semoga benar mimpi. Saya duduk dan lupa melakukan apa saja waktu TK dulu tapi ada hal yang sampe saat ini aku ingat. Ada bangku kosong harusnya di belakang. Bangku itu tidak kosong lagi tapi ada sari yang mengisinya. Sari pun memanggil aku begitu juga dengan aku memanggil rizal.

Namun aku masih belum paham betul siapakah sari itu? aku pun penasaran dimana rumah sari sebetulnya. Aku pun mengajak sari untuk menginap di rumah aku dan sari pun mau. Aku pun senang karena di rumah aku ada temannya. Namun saat itu sari hanya senyum tapi jika kalian melihatnya kalian akan takut dengan senyumannya. Bu guru pun menegur aku karena aku teriak-teriak sendiri dan tertawa sendiri dan aku pun mengatakan jika aku senang karena di rumah aku akan mempunyai seorang teman. Ibu guru pun menanyakan sari yang mana? Tidak lama ibu aku akhirnya menjemput aku dan ibu meminta maaf karena telat menjemput aku. Aku pun mengatakan bahwa sari teman aku akan menginap. Ibu pun mengatakan jika aku harus berhenti membicarakan sari. Bu guru bertanya kepada ibu siapa sari itu? Saat itu aku menjawab jika sari itu teman khayalan aku sambil membisikan aku.

Begitu suara mobil corolla tahun 91 dan berhenti di depan garasi rumah kami. Aku pun cerita pada ibu jika tadi sari sekolah. Dan ibu pun menjelaskan dengan nada tinggi apa aku tahu siapa sari itu. Aku pun menjawab jika sari itu temen aku tapi kasihan karena sekarang tidak punya rumah. Lalu dia mau nginep sini nanti malam dengan nada merayu ibu aku. Ibu pun bilang jangan berbicara sembarangan dan ibu meyuruh aku masuk kamar dan mengingatkan aku untuk TPA juga. Aku pun heran kenapa ibu sangat galak dengan temen aku. Aku pun berlari menghambur ke dalam rumah dan masuk kamar, dari situ tampak dari pantulan kaca jendela ibu seperti menoleh kiri kanan rumah dan pandangannya menerawang. Aku masuk kamar dan membanting pintu dengan kesal, namun segera saja senyum aku mengembang. Sari pun sudah ada di kamar aku dan dia duduk di sebuah kursi dan di depan kaca, sambil mengunyah bunga melati dari mulutnya. Lalu aku bertanya darimana dia masuk? sari menjawab jika dia masuk lewat jendela.

Aku pun bertanya kenapa dia lewat jendela? tapi sari pun mengatakan dirinya lewat jendela karena takut di marahi oleh ibu. Lalu aku mengatakan pada sari agar jangan berisik agar ibu tidak dengar. Sari pun bilang pada aku jika mungkin ibu aku takut dengan aku. Aku pun heran takut kenapa? Sari bilang anak-anak di sini takut sama aku. Aku dan sari bermain seperti layaknya anak umur 6 tahun dank ala itu ibu harus kembali ke kantor. Dan mau tidak mau aku di rumah di tinggal bersama pembantu yang datang rutin untuk membersihkan rumah dan menjagaku. Entah kenapa aku lupa mbok saat siang itu harus pulang dan aku harus sendirian, akan tetapi aku tidak apa-apa soalnya tengah asik bermain sama sari. Dan ternyata sari tidak mempunyai rumah dan katanya sudah di gusur.

Tidak lama sari pun keluar berlari entah aku mengikuti terlalu lambat atau dia berlari sangat cepat yang jelas dia sudah tidak terlihat lagi. Aku pun melanjutkan main robot-robotan itu berjalan memasuki kolong tempat tidur dan aku mencoba meraihnya namun terlalu jauh. Akan tetapi mainan aku seperti berjalan sendirian dan tiba-tiba bisa aku raih. Aku pun menengok kembali ke bawah kasur. Yang aku lihat bukan kolong yang berdebu melainkan ada sosok perempuan, dia tengkurap di bawah kolong, matanya terbuka melotot tapi bola matanya semua. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here