100 Hari Setelah Aku Mati Part 1 : Teman Masa Kecil

0
13
bukukita.com

Berawal dari bermain ayunan, dimana saat kecil aku ingat betul ada ayunan yang di buatkan dari ban bekas oleh bapak aku yang di ikatkan di sebuah pohon nangka. Setiap pagi dan sore aku sering main di situ. Sendirian karena di tempat tinggal aku yang dulu tidak banyak anak seusia aku. Sampai suatu hari saat aku tengah bermain ada yang mendorong ayunan pelan, aku pun menoleh dan di belakang aku ada seorang anak perempuan seusia aku kala itu. Dia tersenyum dan berkata aku ikut main ya, aku sedih main sendiri terus. Anak ini memakai baju terusan rok dengan warna putih berenda. Kami pun bermain layaknya bocah TK pada umumnya, sari ini waktu itu penampilanya sama seperti layaknya anak umur 6 tahun biasa. Seingat aku dulu rambutnya panjang dan kulitnya putih sekali. Sore menjelang dan kami duduk di dekat ayunan.

Ibu aku pun memanggil untuk menyuruh aku pulang. Aku pun tidak dengar ibu memanggil dan sari pun mengatakan jika aku belum bisa denger sekarang dan sari bilang besok main lagi. Sari berlari ke semak-semak dan tidak tau kemana dia pergi. Ketika itu aku tinggal di daerah semarang karena saat itu aku tugas disana sebagai angkatan bersenjata. Tempatnya masih di desa jadi rumah-rumah sedikit berjauhan. Aku pun di jemput ibu aku yang muncul dari samping rumah. Ibu menyuruh aku mandi dulu dan menanyakan tadi aku main sama siapa? Aku menjawab jika aku bermain dengan sari, lalu ibu menanyakan sari itu siapa? aku dan ibu aku akhirnya masuk ke rumah. Setelah pertemuan aku dengan sari perlahan aku merasa tidak hanya keluarga aku saja yang tinggal di sini. Hari pertemuan dengan sari adalah hari kamis, selain hari kamis kami tidak pernah bertemu. Pertemuan kami pun berlangsung sudah beberapa minggu dan banyak kejadian aneh yang baru aku sadari setelah lebih berumur.

Di antara nya sari menunjukan rumahnya tapi aku tidak bisa melihat apa-apa dan begitu ibu aku datang sari langsung pergi ngumpet. Bahkan ibu aku sempat ikut mencarinya tapi tidak pernah ketemu padahal aku yakin dia tadi di balik pohon dan dia juga sering memakan bunga. Bunga yang dia makan yaitu melatih mentah. Aku juga masih bocah di saat itu dan pikiran aku belum sampai jauh dan tidak ada rasa kawatir sama sekali yang aku tau aku punya teman bermain yang menyenangkan. Berbeda dengan ibu aku, dimana ibu aku sudah mulai kawatir. Ternyata diam-diam ibu sering mengintip aku dan yang mengejutkan ibu karena ibu tidak melihat apapun selain aku yang bermain sendiri dan berbicara sendiri. Kisah ini tentu juga banyak dialami anak-anak dengan kemampuan khusus lain seperti aku pola yang selalu seperti ini, nanti akan aku ceritakan.

Hari demi hari berlalu ibu melarang aku bermain lagi dengan sari. Tiap aku curi waktu bermain ayunan di kamis sari pasti sudah duduk sambil mengayunkan ayunan pelan sambil bersenandung macapat jawa. Dan setiap pulang ke rumah dan di tanya main dimana aku jawab main sama sari. Ibu pasti langsung memarahi aku. Dan aku juga tidak tahu alasan ibu marah. Saking kawatirnya ibu menyuruh orang untuk mencopot ayuna nya dan dipindah ke depan teras depan rumah. Tapi itu tidak membuat aku jera, aku masih saja bermain di dekat pohon nangka dan asem jawa di belakang rumah. Untuk apa lagi kalau bukan bermain dengan sari. Sampai akhirnya ibu marah besar dan meminta orang untuk meratakan dan membersihkan halaman belakang rumah dari pepohonan. Awalnya banyak yang tidak memperbolehkan karena rumah yang di huni kami sekarang adalah rumah dinas tua dan pohon-pohon di belakang rumah juga sangat tua. Dan orang yang dimintai tolong juga merasa keberatan. Tapi bukan ibu aku namanya jika sudah ada keinginan harus terlaksana. Setelah dapat meyakinkan bapak akhirnya pohon-pohon di halaman belakang di tebang. Dan dibuat pelataran dari konblok, disinilah kisah kelam aku di mulai dan akan berlanjut hingga aku dewasa.

Semenjak itu ibu aku selalu kawatir dengan keadaan dan selalu memarahi kelakuan aku. Satu minggu pertama setelah hari itu aku tidak melihat sari lagi. Ibu kelihatan lebih tenang dan sore hari aku dihabiskan untuk ikut TPA di masjid yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah aku. Tiap hari bapak atau ibu yang antar jemput aku. Aku belum bertemu sari lagi, aku juga mencarinya tapi tidak ketemu. Waktu itu aku belum paham dengan apa yang terjadi. Malam hari aku tidur seperti biasa sendirian karena memang di biasakan oleh orang tua aku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here