100 Hari Stelah Aku Mati Part 135 : Hadapi Aku Dulu

0
81
bukukita.com

Hati aku dan sesaat kemudian kalimat itu berganti dengan kalimat istifar. Semestinya aku menanyakan hal ini, ucap aku aku bicara sendiri. 180 merupakan lampu merah yang harus tunggu untuk dapat berjalan lagi dan aku memainkan jari di perseneleng dan malah ikut menghitung mundur detik lampu merah yang membuat aku tidak sabaran. Dan begitu lampu itu berubah hijau aku langsung menginjak gas dan melaju dengan kecepatan sedang dan akhirnya aku sampai ke tempat kerja risa dan koas aku. Aku sudah selesai mengantar kedua surat itu dan sudah ada di depan rumah dimana lingkungan kiri kanan rumah aku juga terlihat sepi, wajar karena ini merupakan jam kerja. Aku merogoh saku untuk mengambil kunci rumah dan mulai masuk rumah. Dan segera saja beberapa saat setelah aku masuk pintu itu, aku merasakan hawa-hawa singup.

Hawa dingin yang panas dan hawa panas yang dingin. Aku pun bingung menjelaskan nya dan waspada merupakan hal pertama yang aku lakukan. Aku menoleh ke sekeliling dan meliha apa ada hal yang mencurigakan dari aktivitas astral disini. Rumah aku selalu bersih dari mereka namun sepertinya hari ini aku merasakan pendatang dan aku melangkah dengan hati-hati sambil meningkatkan kepekaan indra aku. Aku coba untuk merasakan getaran yang lebih halus yang di hasilkan dari aktivitas mereka. Aku berjalan melewati sekat rumah yang membatasi ruang tamu dengan ruang tengah dan pojokan ruangan aku melihat sosok menjijikan. Sebua kepala yang melayang dimana kepala itu tidak mempunyai badan. Sosok kepala laki-lai yang mengeluarkan lidah ini wajahnya penuh codet dan sebelah matanya sobek dan mengeluarkan darah kental yang menetes di lantai. Dan yang membuat aku muak dari sosok itu adalah di bagian leher nampak tulang belakang yang menjulur dan menjuntai ke bawah.

Penampilannya sangat mengenaskan dari pangkal leher pun aku bisa melihat tenggorokan nya yang sudah terpotong. Tulang yang menjuntai itu berwarna merah karena lumuran darah dan sepeti ada potongan daging yang menempel ditambah senyuman yang begitu mengerikan. Kepala itu menghadap ke arah aku. Aku sontak memasang pagar diri dan lebih waspada kepada makhluk itu dan begitu aku hendak mengeluarkan doa amalan, tiba- tiba ada sosok lain yaitu sosok wanita. Wajahnya seram dengan pakaian rombek bernoda basah dari darah, bahkan aku bisa mencium bau anyir dan amis dari mereka. Dia bergerak melayang ke samping sosok kepala itu. Jari-jari yang keriput dan hitam terlihat tidak lengkap dari wanita itu. Beberapa jarinya seolah hanya menggantung pada seutas daging tipis di telapak tangan nya.

Aku marah sekali dengan dua mkhluk yang sudah berani mengusik tempat tinggal aku. Namun belum selesai aku membaca beberapa doa tiba-tiba hadir lagi makhluk dari belakang dimana kedua makhluk itu merupakan sosok yang tidak aku duga muncul. Saat ini dengan wujud tidak kalah mengerikan dimana wujud manusia itu yang bertelanjang dada dengan wajah rata, tanpa hidung, mata, telinga, mulut dan rambut. Sosok itu muncul di depan pintu kamar aku. Hawa negatif memenuhi rumah aku dan udara menjadi sesak. Aku mengepalkan tangan di jari tengah aku yang masih melingkar nya cincin batu fosil galih kelor yang memang tidak pernah lepas dari tangan ini. Aku berteriak pada mereka semua dan menanyakan mau mereka apa? mereka tertawa melengking dan mengatakan hanya ingin tempat tinggal baru. Aku pun tidak mengijinkan nya karena ini adalah rumah aku. Makhluk itu mengatakan mereka tidak pernah bilang akan tinggal di rumah aku. Aku pun melepaskan beberapa amalan dan aku yakin harusnya mereka terkena talak, namun seperti angin yang tidak bisa di lihat dan oksigen yang tidak terasa. Mereka hilang dan dengan segera hilang. Mereka bukan hanya jin biasa yang dapat aku atasi sendiri dan hari itu mereka muncul untuk memberika pesan.

Bukan pesan lebih namun lebih tepatnya ancaman dan aku tau maksud perkataan itu dan mereka mengincar anak aku dan mereka bukan hanya satu tapi banyak. Mereka mengincar anak aku dan sekarang anak aku hanya di temani ibu nya. Bodohnya aku meninggalkan abi pada saat seperti sekarang dan aku memutar badan dan segera berlari keluar rumah untuk menyusul risa dan anak aku di rumah sakit. Aku sudah tidak peduli lagi untuk urusan apa aku pulang tadi dan pintu itu masih terbuka dan pada saat aku hampir sudah melewati nya tiba-tiba seperti terbanting. Pintu itu seperti sengaja di tutup dengan cepat oleh seseorang. Pintu yang tertutup secara tiba-tiba dan membentur pintu tebal yang terbuat dari kayu jati itu. Aku pun meringis menahan sakit akkibt benturan itu dan terasa jidat aku sedikit bengkak karena beradu dengan benda keras.

Aku menahan sakit dan dengan kepala pusing dan berkunang-kunang aku berdiri dan berusaha membuka pintu yang sial untu aku karena terkunci. Aku tidak percaya begitu rapinya mereka membuat rencana ini. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here