100 Hari Setelah Aku Mati Part 97 : Peristiwa Bagian 2

0
79
bukukita.com

Sebenarnya jarak antara hunian dan kampus tidak terlalu jauh dengan bersepeda hanya akan memakan waktu sekitar 5 menit untuk sampai. Namun karena hujan cukup deras aku mengurungkan niat untuk segera pulang. Aku menepikan sepeda ke sebuah kedai yang terletak tidak begitu jauh dari gerbang kampus aku duduk dan memesan coklat panas. Sebuah bunyi di handphone menunjukan ada pesan masuk dan aku merogoh saku celana dan mengecek siapa yang mengirimi aku pesan. Dan tidka berapa lama pesanan coklat panas aku sudah datang . aku tidak bisa berlama-lama menikmati pesanan aku karena dewi sudah menunggu aku dan tidak enak juga karena aku membawa buku punya nya. Aku meminum coklat panas yang ternyata benar-benar sangat panas itu secepat yang aku bisa dan segera membungkus tas aku dengan mantel tas.

Hujan sudah sedikit mereda tapi air yang turun dari langit ini lebih dari cukup untuk membuat aku basah kuyup jika nekat menerobos hujan. Aku tidan mau harus pulang dan aku merasa hujan mempermainkan aku. Saat belum ada setengah perjalanan air hujan malah turun lebih deras daripada tadi dan aku mempercepat kayuhan sepeda aku akan segera sampai hunian. Rintik hujan yang deras itu biasanya memiliki volume air yang lebih besar dari hujan berintensitas sedang dan angin yang bertiup semakin membuat kulit terasa sakit saat tersentuh air yang jatuh dari langit. Seorang pengendara mobil yang berkendara dengan kencang melewati genangan air yang membuat cipratan besar yang mengguyur yang tengah bersepeda. Perjalanan kali ini terasa lama dan akhirnya aku sampai juga di hunia dan aku segera memarkiran sepeda dan masuk melalui pintu belakang.

Suasana rumah malam itu sepi dan mungkin temab aku yang lain juga sudah istirahat. Dan aku berjalan melalui lorong dan melewati ruang tamu. Disini terlihat wardana yang sedang tidur pulas di sofa dengan posisi memeluk toples yang berisi kacang mede. Di depannya layar televisi masih menyala dengan volume suara yang keras. Aku tertawa geli melihat kelakuan anak ini dan aku mengambil remote tv itu dan memencet tombol off. Aku kembali berjingkat meninggalkan wardana yang mungkin pingsan gara-gara overdosis makan kacang mede. Aku pun memanggil dewi di depan pintu kamarnya sambil mengetuk pelan dan tidak ada jawaban karena mungkin dia sudah tidur. Aku pun menghambur ke kamar dan segera melepas pakaian dan di lanjtukana mengambil handuk dan menuju ke kamar mandi untuk mandi air hangat.

Selepas mandi aku membuka laptop untuk online dan sekedar bermain ym atau membalas email dari risa yang mungkin belum aku baca. Namun ketika melihat inbox ternyata kosong dari pesan risa dan hanya ada beberapa email dari pihak universitas yang masuk dan aku mengalihkan perhatian ke layar handphone dan berusaha menghubungi risa. Hampir 2 hari risa tidak membalas pesan aku dan tidak menjawab telepon aku. Kadang itu membuat aku kawatir dengan keadaannya. Aku berjalan menuju kasur dan merebahkan diri dimana pikiran aku melayang ke negeri seberang pulau benua yang aku tempati. Tempat dimana seorang yang aku sayangi tinggal dan aku melamun memikirkan risa sedang apa disana. Aku lupa menutup tirai jendela dan aku sadar ketika ada sinar mentari darijendela dan aku terbangun dan bergegas solat. Aku bangun kesiangan karena efek lelah. Dan aku merasakan hidung itu adalah hari sabtu dan tidak ada perkulihan yang harus aku ambil hari itu. Selepas solat aku keluar kamar dan menuju lantai bawah. Sekedar mencari makanan untuk sarapan. Biasanya jika dewi belum memasak aku akan membuat mi isntan. Namun hari itu aneh karena hunian tampak sepi. Tidak ada sura berisik teman-teman aku dan di meja makan sudah tersaji nasi goreng dengan telur dadar di atas nya. Di samping piring itu segelas teh panas dengan uap panas yang masih mengepul. Aku bersihkan dan segera aku menutup hidung dengan mulut aku.

Suara di belakang aku sangat familiar dan aku buru-buru menoleh ke belakang dan seorang yang aku cintai berada persis di belakang aku dan itu adalah risa. Aku kaget selama beberapa menit dan aku hanya bengong dengan perasaan tidak percaya bahwa di depan aku ini adalah risa. Aku berfikir apa yang sedang dia lakukan disini? Kata pertama yang risa katakan jika virus flu cepat menular. Dia memberikan sapu tangan yang persis dengan sapu tangan yang dia berikan dulu. Namun itu bukan lah sapu tangan yang sama. Mungkin itu merupakan replika dari sapu tangan yang di berikan risa dan aku pun diam tanpa menjawab pertanyaan risa. Aku hanya diam dan tidak menjawabnya kemudian aku berjalan mendekati nya dan jarak aku dengan risa sekitar 5 meter semakin dekat dan sangat dekat untuk dapat memperhatikan wajah cantik nya yang sedang senyum itu.

Aku merangkulkan tangan aku ke tubuh nya yang harum dimana tuuhnya membaui hidung aku sejak pertama aku mengenalnya. Dia selalu memakai aroma parfum yang sama dimana aroma mawar yang hals dan aku membelai rambutnya yang kini di potong sedikit lebih pendek dari terakhir kali kami bertemu. Rasanya lembut dan persis seperti terakhir kali aku membelai kepala nya. Aku tidak tau persis berapa lama aku memeluknya dan risa pun diam sambil membalas pelukan aku lebih erat lagi. Momen bisu yang tidak akan pernah aku lupakan. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here