100 Hari Setelah Aku Mati Part 96 : Peristiwa

0
77
bukukita.com

Tuhan tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuannya dan aku sedikit demi sedikit seiring dengan kedewasaan aku, aku pun mulai paham dengan hal itu. Faham jika Tuhan membarikan jalan tersendiri untuk aku menjalani takdir NYA. Di saat itu adalah musim dingin dan aku sudah menjalani ibadah puasa dengan lancar di tanah suku aborigin ini dan tidak terlalu berat sebernarnya karena selalin sudah biasa di melbourne waktu berpuasanya relatif singkat. Meskipun begitu tidak selisih jauh dengan waktu puasa di indonesia. Lebaran disini juga tidak seramai idul fitri di tanah kelahiran dan biasanya aku dan kawan akan menuju kota monash dimana di kota itu banyak warga indonesia menetap. Itu sedikit mengobati rindu aku dengan suasanan yang di buat semirip mungkin seperti perayaan lebaran di rumah oleh komunitas indonesia disana. Setaun sekali paling tidak aku bisa menikmati ketupat dan opor ayam. Jika beruntung aku akan mendapt menu-menu jawa seperti sambel krecek dan sebagainya. Aku cukup krasan di ausie meskipun disini harus menahan rindu dengan orang-orang di indonesia.

Risa yang paling aku rindukan karena dia adalah cinta pertama aku tidak berlebihan jika aku menyebut risa sebagai cinta pertama aku. Kami masih rutin berkomunikasi dan kami bertukar kabar via teks dan via suara. Jika mendengarsuaranya di ujung telepon kadang membuat pikiran aku melayang dan membayangkan bagaimana dia sekarang. Setiap ada kesempatan kami bertukar foto melalui email. Dan setiap aku mendapat kiriman foto darinya semakin bertambah pula rasa kangen ini. Ketika itu aku sangat ingin pulang dan itu yang aku katakan kepada risa. Tidak lama pembicaraan aku berhenti dan aku mengatkan i love you more. Aku belum sempat menjawab kata risa dan dia sudah terlanjur menutup teleponnya.

Kami sudah tidak bertemu 2 tahun dan tahun ini rasanya tidak bisakembali ke tanah air. Di karenakan banyaknya tugas pratikum yang menjadi tanggungan aku. Banyak yang harus aku kerjakan apalagi tugas laporan dari perkuliahan yang semakin bengis di berikan dosen. Aku tidak bisa berlama-lam bersantai dan tidak ada liburan idul fitri seperti indonesia namun aku beruntung saat momen solat ied selalu bertepatan dengan jatah libur kelas aku. Hari itu merupakan hari satu syawal dimana seluruh umat mslim di seluruh dunia sedang merayakan hari suka cita dan hari idul fitri. Aku dan kawan serumah seperti tahun-tahun sebelumnya selalu merayakan momen tahunan ini di kota monash.

Wayan pun menalami aku dengan mengucapkan selamat hari raya dan mohon maaf lahir batin. Seluruh teman aku ikut merayakan momentum lebaran ini dan walaupun wayan beragama hindu dia tetap menghormati dengan cara memberikan ucapan selamat hari raya dan satu bentuk toleransi beragaman yang menyenangkan. Aku menikmati betul hari itu dan suasananya, hidangan nya dan tentu saja ramah tamah khas bumi nusantara. Semua berbaur dalam satu tempat dan penuh hikmat merayakan hari besar umat muslim itu. Mereka pasti sedang menelpon keluarga mereka masing-masing. Meskipun berjauhan masih bisa ber halal bihalal via suara. Kamu juga masih punya kerabat merayakan idul fitri dan lebaran itu punya dua sisi buat aku dan bisa menyenangkan. Aku suka dengan suasana lebaran dan umat muslim mana yang tidak suka. Tapi di satu sisi melihat kebahagiaan orang lain yang menghabiskan waktu lebaran dengan keluarga juga membuat aku iri. Aku menunduk mendengar perkataan dewi dan aku memang lebih berhuntung karena paling tidak aku masih memiliki kerabat. Akan tetapi dengan dewi di hari spesial ini dia merindukan sosok keluarga yang sebenarnya. Mungkin suasana hatinya sedang buruk dan aku merasa bukan hal bijak menanggungnya sekarang.

Hari berganti hari dan masih dalam suasana bulan syawal dan aku pun sudah menelpon om bowo beserta keluarga. Tidak lupa aku juga menelpon om hamzah untuk mengucapkan selamat idul fitri. Dan tentunya saja risa sudah aku telepon semenjak pagi hari pada 1 syawal kemarin dan aku merasakan ada perbedaan dari risa. Meskipun sedikit tapi aku merasakan perbedaan nya dan aku merasa risa bertambah dewasa. Dari cara bicaranya yang lebih tenang dan teratur dan dia tidak lagi adal bicara seperti itu. Dia tidak lagi menggunakan nada suara yang kekanakan dan risa yang sekarang bertambah lebih lembut daripada terakhir kali aku tinggalkan dulu. Meskipun tidak dapat menutupi tabiatnya yang galak. Tapi paling tidak dia sudah tumbuh menjadi gadis yang lebih dewasa.

Aku sudah kembali pada rutinitas aku dan berangkat pagi. Pulang sore atau bahkan tengah malam dan aku sudah menghabiskan mata kuliah umum dan tinggal merampungkan beberapa laporan pratikum untuk mengakhiri semester ini. Dan hari itu aku harus merelakan waktu istirahat dan aku untuk lembur mengerjakan laporan di kampus. Jam menunjukan pukul 22.00 dan aku buru-buru menuju parkiran di basement untuk mengambil sepeda dan segera pulang ke hunian. Langit yang mendung sudah menunjukan akan ada hujan dan mungkin akan ada badai karena angin bertiup cukup kencang. Aku segera mengayuh sepeda sambil sesekali melihat-lihat ke kiri dan ke kanan karena malam hari itu menurut aku cukup horor. Apalagi saat melewati ruangan yang biasa di gunakan untuk otopsi mayat. Beruntung tidak ada gangguan dan satu-satunya kesialan yang terjadi adalah hujan turun begitu aku sampai di depan gerbang kampus. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here