100 Hari Setelah Aku Mati Part 91 : Brandon, Aku Dan Aku Yang Lain

0
81
bukukita.com

Wayan hanya terduduk dan tidak melakukan apapun dengan mulut yang di buka lebar. Begitu juga dewi dimana dia sangat ketakutan dengan wujud daisy yang seperti teman kami wardana. Aku pun berteriak panik agar mereka semua segera keluar. Ketiga teman aku bergerak dengan serampangan dewi membantu wayan menggotong novita dan berhuntung novita berpostur tidak terlalu besar sehingga tidak terlalu sulit bagi wayan dan dewi menggotongnya sedangkan miska dirinya tidak membantu dia yang ketakutan mencengkram kaos dewi dengan kuat dan mereka berlari sekuat mungkin untuk pergi menjauh sedangkan aku berdiri di depan jelmaan jin itu. Aku konsentrasi dan membaca beberapa amalan untuk memagari diri dan juga berdoa pada Allah untuk di beri perlindungan. Aku melirik ke pisau yang di bawa daisy dimana cairan kental yang menetes dari ujung pisau itu merupakan darah dan aku begitu kawatir dengan wardana yang belum bisa aku temukan.

Aku pun marah karena makhluk itu mengganggu kami secara fisik dan mencoba mengajak makhluk itu berkomunikasi lagi agar mengetahui maksu kedatangan nya ke tempat kami. Lagi-lagi dia menjawab dan dia hanya memainkan kepalanya dengan sedikit bergeleng pelan sambil menatap aku tajam. Aku pun berteriak jangan ganggu teman aku dimana teriak aku sambil melepaskan amalan pengusir itu dan entah seberapa kuat daisy namun amalan aku tidak berpengaruh sama sekali dan mungkin karena aku kurang khusuk. Dia mulai medekati aku pelan dan aku yang meti kutu hanya bisa berjalan mundur sampai langkah aku terhenti karena terbentur tembok dan daisy mendekatkan telunjuk nya yang beekuku panjang berwarna kekuningan itu ke mata aku.

Aku ketakutan setengah mati saat ujung tajam dari kuku daisy menyentuh bagian bawah mata aku. Jari-jari yang keriput menghitam dan beruas-ruas seperti bambu itu seakan bersiap menyayat mata aku. Kondisi aku terdesak dengan posisi yang tidak bisa menghindar. Suara daisy yang tertawa dengan mulut terbuka membuat aku mual. Bau busuk seperti bangkai keluar dari mulutnya dan dia masih berada persis di depan wajah aku sambil memainkan jarinya di depan mata kiri aku sedangkan tangan satunya mengangkat pisau besar itu dimana seolah ingin menghujamkan ke kepala aku. Aku berusaha meronta dengan melawan menggunakan amalan-amalan namun amalan it tidak terlalu berarti karena kurangnya konsentrasi akibat aku sangat panik.
aku akan mati di celakai makhluk ini dan pikiran itu langsung aku tepis dan tiba-tiba aku merasakan tangan aku semakin memanas. Cincin pemberian kyai seperti bergetar hebat dan entah bagaimana aku merasakan tangan aku bergerak tanpa harus di suruh. Membuat kepalan tinju di duga itu berhasil menghalau daisy. Daisy tersentak ke belakang dengan geraman nya dan dia kembali menatap aku dan selama beberapa saat kami saling berpandangan. Aku melihat mata daisy yang berwarna biru kusam seperti terbelalak dan aku tidak tau kenapa detik itu juga aku merasa keberanian aku terkumpul. Seolah ada yang menemani aku dalam perlawanan itu. Daisy melayang mundur sambil menjerit dan jeritan yang sangat keras dan tinggi membuat aku terpaksa menutup telingan yang terasa tertusuk mendengar jeritan itu. Tidak berapa lama kemudian daisy sudah menghilang di sebuah di sebuah lorong gelap rumah kami. Aku terduduk lemah dan nafas aku kembali tidak beraturan dan tampaknya daisy sudah benar-benar pergi kali ini. Kepala aku terasa sakit sekali dan untuk beberapa saat aku mengalami migrain yang luar biasa. Ini merupakan efek samping saat aku mempertajam kepekaan indra aku ke batas maksimal. Dalam kondisi antara sadar dan tidak sadar itu tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku teringat teman aku itu dan teringat kembali peristiwa barusan dimana daisy memegang pisau yang meneteskan darah.

Aku berusaha bangkit untuk mencari wardana dan aku terlalu lemas untuk berdiri dan kembali terduduk bersandarkan tembok bercat putih itu. Aku mencoba memanggil dewi namun yang keluar dari mulut aku bukan teriakan dan suara aku lebih mirip sebuah bisikan kecil. Bahkan untuk berteriak mulut aku sudah terasa lemas. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan berdoa. Teman-teman aku di beri perlindungan seperti aku. Semoga tidak terjadi apapun dengan mereka dan semoga keempat teman aku teman aku tadi segera kembali untuk membantu aku mencari wardana. Aku memperbanyak istifar dan sebanyak-banyak nya yang aku bisa dan sekali lagi berdoa kepada posisi terduduk sang pelindung sejati agar selalu di lindungi dan di hindarkan dari hal seperti ini. Dengan posisi terduduk dan sudah doyong tersender dinding. Mata aku menjatuhkan setitik air mata dan bukan karena takut. Tapi karena kejadian-kejadian di masa lalu dan aku teringat ibu yang meninggal. Iu meninggal karena kecelakaan yang di dalangi jin karena ibu meminta menebang pohon di belakang rumah dan ibu melakukan itu gara-gara aku.

Aku teringat peristiwa merapi yang membuat teman-teman aku hampir celaka dan tersesat di gunung yang penuh dengan makhluk halus. Semua gara-gara aku dan aku membuat bangsa tidak kasat mata itu mendekat dan mempermainkan kami. Kejadian serupa terulang kembali malam ini dan aku mungkin akan gila karena tidak bisa memaafkan diri sendiri jika terjadi sesuatu dengan wardana dan teman aku yang lain. Aku tidak menghawatirkan diri sendiri dan aku menghawatirkan orang-orang terdekat aku dan aku tidak ingin mereka mendapat hal buruk karena keanehan aku. Bersambung ke part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here