100 Hari Setelah Aku Mati Part 90 : Anak Yang Melebihi Aku Bagian 3

0
41
bukukita.com

Aku melangkah hati-hati untuk menghindari menabrak perabotan dan sampai sesuatu sentuhan di pundak aku sebelah kanan yang cukup membuat aku kaget. Ternyata itu adalah wayan dan aku membentak nya karena membuat aku terkejut. Wayan pun terdiam dan wajahnya terlihat datar dalam cahaya redup. Wayan tidak menyaut dan anak yang biasanya sangat cerewet ini tiba-tiba mematung tanpa mengeluarkan suara. Dia memutar badan dan berjalan meninggalkan kami tanpa menoleh dan menaiki tangga ke lantai 2. Aku mengatakan pada dewi jika sepertinya itu bukan wayan. Saat itu aku gemetar dan dewi juga aku hanya bisa bengong saja. Kami sama-sama tidak merasakan gangguan goib namun kejadian barusan pasti merupakan ulah makhluk goib. Dalam pikiran aku langsung mempunyai prsangka buruk pada daisy. Perkataan wayan membuat aku sadar bahwa daisy tidak hanya menjelma menjadi dia namun juga menjelma menjadi aku.

Wayan pun meminta lilin karena takut novita dan miska bawel. Aku dan dewi sontak lari menuju lantai 2 dimana itu merupakan kamar novita dan miska. Dengan segera kami kesana agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kami ingin kan dan kami berlari meninggalkan wayan yang pasti kebingungan. Baru beberapa langkah kaki kami menaiki tangga tiba-tiba ada sebuah jeritan dari 2 orang. Aku berlari sekuat tenaga dengan nafas terengah dan gemetar kemudian aku mendorong handle pintu dengan kuat. Bunyi daun pintu yang kat membuat novita menoleh dan wajahnya terlihat ketakutan dengan air mata yang sudah meleleh di pipinya. Dia bilang ada sesuatu di lemari dan dia bilang tadi dia meliat cewek baju merah masuk lemari dan jalannya nembus. Ucapannya dengan suara terbata sambil mengguncang-guncangkan tubuh aku. Aku berusaha menenangkan novita dan mengajaknya keluar dan di luar kamar sudah ada wayan dna dewi yang memegang miska yang sedang menangis ketakutan. Wayan pun bingung dan wajahnya juga memper;ihatkan kekawatiran. Di buktikan bulir keringat yang mulai menetes walaupun udara disini harusnya sangat dingin. Miska dan novita mulai histeris dan memohon untuk malam ini tidak tidur di rumah. Suara yang bising membat aku tidak bisa berfikir. Dalam situasi ini aku harus bisa berfikir jernih dan mendengar teman-teman aku yang tidak bisa di ajak kerja sama membuat emosi aku naik.

Teriak aku kepada 3 orag teman aku itu, mereka terdiam melihat emosi aku dan aku jatuh terduduk karena lemas dan aku merasa benar-benar ketakutan dan kawatir. Kejadian ini mengingatkan aku pada kejadian merapi beberapa tahun lalu. Dimana aku di ganggu puluhan makhluk halus tapi malam ini berbeda dan hanya ada satu tapi dengan energi yang mengerikan. Aku tidak menghawatirkan diri aku namun aku kawatir kepada teman-teman aku yang ikut di ganggu dan sosok sekuat daisy bisa saja melukai manusia secara fisik dengan energi yang bisa menggerakan benda di sekitarnya. Aku baru tersadar dan sejenak diam. Sontak ke empat teman aku saling menoleh dan wardana memang tidak terdengar sama sekali dari tadi. Dia juga tidak keluar saat ada keributan di kamar novita dan miska. Aku berada di depan sedangkan dewi berusaha menjaga jarak dengan dan memegangi 2 teman ceweknya kemudian wayan dan dia sedang ketakutan dan berusaha menyembunyikan dirinya di balik punggung aku. Kami menuruni tangga dan dalam hitungan detik kami sudah sampai di depan kamar wardana. Aku menggedor-gedor pintu kamar wardana dan berharap dia tidak apa-apa dan hanya sedang tidur.

Aku berteriak sekali lagi sambil menggerakan handel pintu yang sedang terkunci dari balik pintu putih. Kami berempat menghela nafas lega karena tidak terjadi apa-apa dengan wardana. Kami semua terduduk hampir bersamaan dan aku sedikit lega karena semua tidak apa-apa dan berharap teror dari daisy berakhir dan rasa takut masih menjalar di tubuh aku. Lutut aku masih gemetar dan tangan aku masih bergetar namun setidaknya ini sudah berakhir begitu terbesit di pikiran aku. Aku memandang ke arah dewi dan mata aku membuat kode yang mengisyaratkan apakah ada baiknya kita memberitahu kejadian ini pada wardana.

Dewi yang cerdas langsung paham dengan raut wajah aku dan dia mengangguk tanda menyetujui untuk memberi tau pada wardana. Aku menarik nafas panjang sekali lagi dan menggunakan lambaian tangan aku untuk mengisyaratkan wardana agar terduduk bersama kami di depan pintu. Malam itu adalah malam yang sangat tidak di duga karena malam yang benar-benar tidak aku harapkan untuk terjadi dan aku awalnya sudah merasakan perasaan lega karena aku pikir teror itu sudah tidak ada namun salah. Suara pintu kamar wardana yang awalnya hanya terbuka setengah kini mulai terbuka penuh secara pelan dan begitu terbuka semuanya benar-benar membuat kami terkejut juga ketakutan. Yang terlihat memang wardana namun setidaknya kepala dan wajahnya menyerupai wardana yang aku kenal. Dia menggunakan gaun merah yang sama persis seperti yang di pakai daisy dan gaun yang jelek.

Gaun yang robek-robek dengan noda basah kehitaman dan wajah yang menyerupai wardana itu mulai tersenyum-senyum yang sangat mengerikan. Pemandangan di depan kami semakin membuat aku menciut ketika melihat tanganya memegang pisau. Ada cairan yang menetes dari ujung pisau itu di sertai bau amis dan anyir. Suara miska yang histeris mulai membuat telinga aku berisik dan diiringi bunyi yang ketika aku lihat ternyata itu merupakan novita yang pingsan. Bersambung di cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here