100 Hari Setelah Aku Mati Part 11 : Kini Kamu Tau

0
81
bukukita.com

Rasa ketakutan mereka seakan masuk ke sendi dan tulang-tulang aku, dimana aku merasakan ketakutan mereka dan aku menjerit lagi namun tidak ada suara dari mulut aku. Tentara jepang itu memasukan kepala 3 orang pribumi itu ke sebuah pasung leher. Seorang bertubuh besar memegang katana panjang dan mengayunkan tepak di leher ketiga pribumi itu dan darah itu seakan mucrat ke wajah aku. Dan 3 kepala menggelinding bersamaan, saru kepala milik ibu tua itu menggelinding di dekat kepala terpisah. Aku heran apa kesalahn mereka hingga mereka harus di penggal. Sekali lagi aku ingin berteriak seperti itu, sia-sia dan hanya sia-sia saja teria aku dan malah membuat tenggorokan aku sakit. Kadang aku berfikir apa ini sebuah kutukan?

Aku berfikir bukankah penderitaan aku sudah cukup berat sejak kecil. Aku pun bingung kenapa aku harus merasakan sakit orang lain juga. Aku menangis keras dan menangis begitu keras dimana saat itu aku terduduk dan dekat kepala yang terpotong dari lehernya. Aku menggunakan lutut aku untuk menompang kepala aku dan hanya bisa menangis sampai semuanya terlihat gelap dan samar-samar. Saat itu aku tersadar dari kejadian barusan dan aku melihat teman-teman sekeliling aku, dimana aku segera mengusap wajah aku yang benar-benar basah oleh keringat dan air mata. Dan tidak risa pun bilang jangan pake tangan karena itu jorok sambil dia memberikan aku sapu tangan yang pernah dia berikan dulu dan aku menerimanya tanpa mengatakan apapun dan risa langsung memeluk aku lalu dia menangis. Seketika mereka semua meminta maaf pada aku dan mereka menyesal. Tidak lama mereka mengajak aku pergi, dimana saat itu aku melihat teman-teman aku seperti irawan, andi, somad dan beberapa teman cewek. Mereka melihat aku dengan tatapan kasian dan aku berdiri sambil berfikir jangan sekali-kali melihat aku seperti itu. Dan aku pun tidak lama mencengkram baju irawan dan aku berkata jika sekarang aku tau jika kalian sudah mengganggap aku tidak normal. Irawan pun seketika membisu dan aku merasa meledakkan kemarahan aku. Dari belakang ada yang menepu aku dan saat aku menengok andi pun meninju muka aku. Aku tidak merasakan sakit dan aku hanya tersenyum hingga andi memukul aku lagi di bagian pipi. Aku pun tidak bergeming dan hanya tertawa, melihat tangan andi kesakitan aku tertawa. Dari arah samping risa pun menampar aku dan aku benar-benar tersadar dari kemarahan aku. Aku melihat risa menangis dan aku menghampiri andi serta meminta maaf.

Aku pun mengatakan maaf dan mengucapkan terima kasih sudah menyadarkan aku. Andi pun menegur aku apakah aku sekarang sudah tenang? Irawan pun menagatakan bahwa kita semua itu teman dan kami itu bukan kasihan menatap kamu namun kami lebih kawatir dan tidak ingin hal buruk terjadi pada kamu. Irawan pun memegang bahu aku dan di ikuti dengan teman-teman yang lain. Aku pun mengucapkan terima kasih pada mereka semua dan minta tolong tidak membahas ini lagi, ketika itu aku berjanji akan menceritakan semua nya kepada mereka jika sudah waktunya. Aku pun menghampiri risa dan risa kali ini menampar aku dan rasa nya sakit sekali hingga aku meringis. Risa bilang aku membuatnya kawatir dan aku pun meminta maaf pada risa dengan nada pelan.

Akhirnya tidak lama kita semua cabut dan mengganggap kejadian ini tidak ada. Mereka tau sekarang, kini mereka sudah tau dan mereka mendengar serta melihat kelakuan aku. Teriak histeris sendiri tanpa sebab, entah lah aku terlalu malu untuk mengungkitnya. Kami sudah di terminal dan aku juga tidak pamit sama teman-teman karena aku tidak mau mereka tau lebi dalam tentang hidup aku. Aku pura-pura naik bis ini dan saat bis mau berangkat aku pura-pura ambil barang yang ketinggal sebelum turun aku memasukan selembar uang 50 ribuan kepada kernet bis itu sambil berkata jika aku tidak ikut bis ini dan aku tidak mau teman-teman aku yang lain turun buat nyusul aku.

Dan kernet bis itu seperti paham dan mengangguk dan disinilah aku, aku berharap risa menyampaikan pamit aku kepada yang lain. Aku pun kaget karena risa masih disini, maka aku pun bertanya kenapa dia masih disini. Risa pun bilang harus nya aku seneng karena masih ada yang nemenin. Aku pun menanyakan dimana teman-teman, Risa juga mengatakan aku jangan bawel dan risa pamit supaya teman-teman tidak iku aku, ucap risa. Ya sudah akhirnya kita berdua berangkat naik bis ke rumah ibu aku lumayan jauh jadi dari sini sekitar sejam perjalanan. Ceritanya bersambung di part selanjutnya ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here