100 Hari Setelah Aku Mati Part 89 : Anak Yang Melebihi Aku Bagian 2

0
82
bukukita.com

Siang itu aku habiskan untuk merayu risa agar tidak marah dengan aku dan aku butuh usaha keras untuk membuat anak bawel ini menjadi lunak dan akhirnya setelah berjam-jam berusaha risa mulai baik dengan aku namun dengan syarat ketika aku pulang besok harus membawa oleh-oleh berupa buku biografi oprah winfey lengkap dengan tanda tangan nya. Kabarnya oprah akan launching bukunya secara langsung di victoria. Anak itu jika marah memang susah di ajak kompromi daripada kuping aku jadi panas mendengar omelan dia.

Malam harinya aku lanjutkan dengan kesibukan menata tugas dan beberapa laporan yang sempat tercecer selama liburan kemarin dan ratusan lembar kertas itu tertumpuk di meja aku. Aku memilih satu persatu jurnal dan buku-buku kuliah aku dan menatanya di rak yang tertempel di tembok. Kegiatan aku selanjutnya adalah tidur di kasur sambil membaca novel karya seorang author dari hawai, bukunya menarik dimana buku itu mengisahkan kisah cinta tentang seorang gadis buta penjual bunga. Entah berapa lama aku terlena dengan buku itu sampai aku merasa kedinginan dan aku segera berdiri untuk menutup jendela karena aku merasakan ada angin yang tertiup dari jendela. Begitu aku berbalik ternyata jendela kamar aku sudah tertutup. Aku mendekati jendela untuk menutup gorden yang masih terbuka. Dan hal yang tidak menyenangkan terjadi.

Aku mengingat daisy yang menatap aku dengan tajam dan geram dimana matanya berwarna merah. Aku merasakan hawa yang lebih kuat daripada tadi siang. Dan yang menakutkan dari daisy yaitu tangan kirinya memegang sebuah pisau. Aku pun memfokuskan mata untuk memastikan bahwa itu adalah daisy dan memang benar itu adalah dia menurut mata batin aku. Sosok daisy mendatangi aku dan mata nya merah berkilat-kilat di gelapnya malam juga suaranya menggeram seperti menahan dahak yang tertahan. Aura yang tidak enak menghinggapi tubuh aku yang sudah terasa dingin. Daisy adalah sosok yang kuat dan mungkin karena umurnya yang tua dimana jin berbeda dengan manusia yang akan semakin lemah saat tubuhnya menua.

Bangsa jin seperti daisy akan semakin menguat seiring umurnya yang semakin tua dan daisy mungkin umurnya sudah ribuan tahun. Daisy belum bergerak dari tempat melayang dan pisau yang dia bawa membuat nyali aku menciut. Pisau yang dia bawa bukan seperti pisau dapur namun itu lebih seperti sebuah golok yang bernoda hitam dan jelas itu bukan lah pisau yang secara fisik bisa di pegang dan dilihat manusia biasa. Aku mencoba berfikir jernih di situasi seperti ini, dimana aku mencari cara melawan jin kuat seperti daisy.

Aku menyaut cincin galih ekor yang ada di meja dan buru-buru memasangnya di jari dan aku memfokuskan pikiran dan raga untuk bersiap dengan kemungkinan yang terjadi. Aku berdoa pada Allah untuk perlindungan sejati dengan langkah ragu aku mendekati kaca jendela. Ketika aku tanya apa maunya namun daisy tidak menjawab pertanyaan aku. Dia hanya menggeram seperti seorang yang sedang menahan amarah. Mata aku kembali mengamati sosok daisy dan wajahnya sangat tidak sedap di pandang. Apalagi rahangnya seperti hancur mulai terbuka dan menjulurkan lidahnya seperti terpotong. Tidak lama daisy menjawab pertanyaan aku sambil tertawa lengking dan mungkin suaranya bisa di dengar manusia biasa karena suaranya bisa membangunkan orang-orang di komplek ini. Aku merasa kawatir dengan ledakan tawanya yang menyeramkan dan mengintimidasi aku seolah daisy mengancam aku. Daisy mulai memainkan tanganya yang kurus dan keriput. Dia seperti ingin meraih sesuatu dan aku membaca beberapa amalan untuk melindungi diri. Daisy menghilang dalam sekejab dan daisy menghilang begitu aku membuka amalam pertama. Dia terlalu mudah untuk di usir dan sesuatu yan tidak wajar saat daisy dengan sengaja menunjukan eksistensinya tapi langsung kabur bersama gertakan pertama.

Aku duduk di kasur dan menglap keringat yang bercucuran sebesar biji jagung. Aku sedang menegak air putih saat pintu kamar aku berbunyi pelan masuk lah dewi yang tanpa permisi masuk ke dalam kamar aku dan tampaknya dia juga merasakan kehadiran daisy di rumah nya. Aku mengangguk sambil menyeka keringat yang tersisa di pelipis aku. Dewi melihat ke jendela dan matanya menerawang sekeliling halaman rumah untuk memastikan keberadaan daisy dan tanpa di duga menoleh dengan cepat ke arah aku dimana wajahnya mengisyaratkan ketakutan. Dewi berteriak sambil menghambur ke arah aku dimana telunjuk nya ke jendela kamar yang sekarang mulai bergetar. Apabila kalian suka melihat film horor mungkin kalian bisa membayangkan itu semua. Gorden jendela itu membuka dan menutup dengan sendirinya. Dewi seketika memeluk aku dan terlihat dia takut dan aku pun mersakanhal yang sama. Semua gelap ketika listrik rumah padam dan tidak dengan listrik rumah yang lainnya. Aku masih bisa melihat cahaya lampu dari balik jendela yang tertutup gorden.

Seketika suara teriakan wayan terdengar dari kamar sebrang dan di ikuti bunyi langkah kaki dan ucapan novita dan miska yang saling bersautan. Aku dan dewi masih belum berkomentar dan kami masih kaget sehingga bersikap waspada. Aku berdiri dan melangkah sambil menggenggam tangan dewi kuat-kuat. Aku berusah aberkonsentrasi dan meningkatkan kepekaan indra aku untuk menganalisa kejadian yang ada. Aku memutar handle pintu dan memfokuskan pandangan. Secara otomatis mata aku mencoba beradaptasi dengan cahaya minim. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here