100 Hari Setelah Aku Mati Part 88 : Anak Yang Melebihi Aku

0
81
bukukita.com

Dia mempunyai sebuah rongga bolong di pipinya yang membuat isi mulutnya terlihat berwarna ungu dan merah darah. Sorot matanya menunjukan ekspresi geram, gaun merah melekat di tubuhnya yang sangat kurus dan beberapa tulang berwarna kuning gading keluar dari lapisan kuitnya yang tipis. Dan paling membuat aku takut adalah energi yang di pancarkan dari sosok itu. Dia mempunyai energi yang sangat kuat dan butuh konsentrasi untuk mendekati nya dimana tubuh aku seperti mendapat perlawanan seperti ingin mental. Hal itu seperti dimana kita sedang ingin menyatuka 2 buah magnet dengan kutub yang sama. Ada energi yang tidak terlihat yang mencegah 2 kutub itu saling mendekat. Butuh beberapa menit untuk sampai ke tempat dimana brandon duduk dan jaraknya tidak seberapa jauh. sampai akhirnya aku sampai di depan anak yang bahkan lebih spesial dari aku.

Entah kenapa aku merasa brandon sangat istimewa dan dia memiliki six sense atau mungkin lebih. Aku melihat ada sisi lain pada dirinya dan aura gelapnya mungkin berasal dari makhluk yang mengikutin dirinya. Aku sudah berada di depannya dan tubuh aku mengeluarkan keringat dan hal yang cukup aneh saat aku tidak melakukan aktivitas berat tapi berkeringat dan tidak ada yang aku lakukan selain mengatur nafas. Entah kenapa aku membuar karena aura itu yang membuat aku sesak atau karena aku takut.

Brandon menyapa aku tanpa ada ekspresi dan memang betul saja mungkin dia tidak punya ekspresi lain selain yang dia tunjukan. Wajahnya tampak murung dan juga menunjukan bahwa dia sedang sedih. Dia hanya menggelengkan kepala tanpa bicara dan sesekali melihat si merah yang ada di sampingnya. Tanpa ada rasa takut di wajahnya dan brandon tentunya mengenal sosok yang mengikuti nya itu. Aku mencoba memecah kebisuan diantara kami dan aku duduk di samping brandon walaupun harus mengesampingkan rasa risi dan ngeri aku dengan makhluk itu. Tampaknya dia juga merasa tidak nyaman oleh kehadiran aku. Dan yang aneh bahwa dia membiarkan aku mendekat. Aku mengatakan jika ibu aku sedang sibuk dan aku tidak masuk sekolah karena banyak orang idiot di dalamnya. Disini aku hanya berpura-pura karena ingin melihat reaksi dari brandon.

Aku terdiam melihat sikap anak itu dan dia memang berbeda dari anak pada umumnya dan dia berbeda bahkan dari oang yang sudah berbeda dari kebanyakan seperti aku. Tutur katanya sama sekali tidak seperti anak-anak pada umumnya. Dia sangat dingin dan dia mengatakan apa aku tidak takut dengan temanya. Brandon menyebut makhluk itu dengan sebutan daisy yang menurut aku daisy merupakan nama bunga. Dan jika di gunakan untuk menamai jelmaan jin itu sangat tidak cocok. Dalam masa kecil aku aku dapat menangkap brandon ini merupakan anak yang kesepian sama seperti masa kecil aku dulu.

Ketika aku menanyakan apakah dia mempunyai teman lain namun dia bilang dirinya tidak membutuhkan mereka karena dia ingin membalas mereka yang sudah jahat padanya dan jika bisa brandon ingin membunuh mereka semua. Belum selesai aku bicara brandon sudah menyuruh aku untuk pergi dan brandon marah karena dia menganggap aku lebih ikut campur urusannya. Brandon meninggalkan aku dan dia berlari sangat kencang sambil sesekali menoleh dengan tatapan marah kepada aku. Dia anak yang sangat tempramental kata aku dalam hati. Daisy juga mengikutinya dari belakang dengan melayang mundur daisy menatap aku sampai akhirnya mereka terlalu jauh untuk kulihat.

Aku kembali ke rumah dengan banyak tanda tanya yang mengisi kepala aku. Brandon dan daisy apakah mereka hampir sama dengan aku dan sari? Mungkin perasaan brandon ke daisy sama seperti perasaan aku ke sari. 2 makhluk yang seharusnya tidak berteman itu yang di katakan kyai aku dulu. Daisy dengan sari mencoba membandingkan dua makhluk itu dan sari di setiap pertemuan aku tidak pernah menunjukan wujud seramnya dan aura yang di punyai sari juga tidak gelap. Berbeda dengan daisy yang menurut aku gelap. Aku memikirkan hal itu sepanjang perjalanan pulang dan sampai tidak terasa aku sudah sampai di depan rumah. Hari masih terang mungkin sekitar pukul 13.00 aku bergegas untuk beribadah dan makan siang. Aku menanyakan dewi dan wayan hanya menjawab nya dengan mengunyah sandwich. Aku pun segera menghampiri dewi di kamarnya untuk memberitahukan pertemuan aku dengan brandon. Ketika aku masuk kamar dewi terlihat wajah dewi sedang manyun karena dia kesal tidak aku ajak masuk.

Aku tidak ingat berapa lama kami berdiskusi tentang kejadian barusan. Dewi dengan seksama mendengarkan aku sambil sesekali bertanya lebih detail. Aku menceritakan tempat aku bertemu dengan anak itu, sikap nya dan tentu saja daisy sosok mengerikan yang menjadi teman nya. Dewi menggeleng pelan karena dia sama bingungnya dengan aku. Dewi minta agar aku mengajak dia besok dan tidak meninggalkan nya kembali. Aku pun berjanji pada dewi akan mengajak nya sambil berdiri keluar kamarnya. Aku pun teringat jika aku belum memberi kabar pada risa sejak kemaren maka dari itu aku belum ngasih kabar ke risa dan aku buru-buru memencet handphone dan menelpon risa dan sudah aku duga bahwa risa sudah ngomel-ngomel tidak jelas karena tidak mendapat kabar dari aku. Siang itu aku habiskan untuk merayu risa agar tidak ngambek lagi dengan aku dan butuh usaha keras untuk melunakan anak bawel itu. Bersambung di cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here