100 Hari Setelah Aku Mati Part 87 : Brandon Anak Yang Kerasukan Bagian 2

0
85
bukukita.com

Aku dan dewi kembali berpandanggan dan masing-masing dari raut wajah kami tergambar kebingungan. Kami memang sering melihat sosok jin disini dan tentu saja wujud mereka berbeda dengan di indonesia. Jin-jin itu berubah wujud mereka sesuai dengan daerah dimana mereka tinggal dan tujuannya jelas untuk membuat sosok yang dapat menakuti orang di sekitar mereka. Kami sama-sama paham dan tidak mudah mengusir sosok makhluk halus yang bersemayam dalam satu tubuh manusia, jin jahat dimana kadang mereka memanfaatkan manusia untuk berbuat buruk dan berbuat dosa.di seluruh dunia jin jahat akan melakukan itu bahkan di indonesia dan beberapa orang yang berilmu menyalahgunakan ilmunya untuk bersekutu dengan jin dan mereka melakukan ritual-ritual yang cenderung menyembah selain Tuhan dan mendewakan jin-jin kotor itu untuk mendapatkan keduniawian.

Jin yang baik biasanya akan menjauh dari manusia seperti sari yang sebisa mungkin menjauhi aku sekarang dan jin jahat akan mendekati manusia yang bersekutu dengan nya. Memberi iming-imingan mereka dengan harta dan juga lainnya. Berusaha menjerumuskan manusia yang lalai menuju kemusyrikan. Jin menjebak manusia dengan mengatasnamakan kemuliaan yang di bayar dengan syarat-syarat tertentu. Kebanyakan manusia yang tergoda akan mengorbankan iman mereka dan akhirnya menjadi budak makhluk yang harusnya derajatnya lebih rendah dari kita.

Akan tetapi yang unik dari brandon adalah dia masih anak-anak namun jarang ada jin yang merasuki anak-anak, hal itu di karenakan pada umumnya anak-anak mempunyai hati yang masih bersih dan belum ada celah untuk jin jahat masuk dan mengendalikan anak kecil. Aku pun tidak lama memanggil dewi dan aku mengatakan jika kita harus mencari brandon. Aku pun kembali mengalihkan pandangan aku dari laptop dan melihat tubuh kecil brandon harus membawa energi negatif sebesar itu. Hal ini tidak bisa di diam kan saja. Sosok merah itu berada persis di belakang brandon dan itu sangat tipis bahkan mungkin orang biasa akan sulit melihatnya. Brandon mengingatkan aku dengan masa kecil aku dan beruntung aku tidak mengalami kejadian seperti brandon.

Malam itu aku mencukupkan diskusi dengan dewi dan memilih untuk mulai beristirahat. Rasa lelah sudah membuat mata ini mengharuskan tidur lebih awal. Brandon dalam pertemuan kami sangatlah singkat sekitar semenit dengan anak itu membuat aku penasaran. Aku masih ingat itu merupakan hari senin dari pagi hari dan aku sudah berada di sekitaran collins street. Aku duduk di sebuah kursi kayu panjang yang menjadi tempat dimana brandon memberhentikan aku tempo hari. Sebuah taman kecil tidak jauh dari tempat itu masih terlihat sepi. Disana hanya ada beberapa orang yang menghirup udara pagi dan aku sengaja tidak mengajak dewi karena semalam aku melihat dewi sangat pucat. Aku tidak ingin dia sakit dan aku berangkat sebelum dewi keluar kamar.

Aku berjalan menujun taman dan sambil sesekali meminum kopi yang aku beli di sebuah stand minuman. Aku mencoba peruntungan hari itu dan berharap bisa bertemu brandon. Aku mengeluarkan kamera sambil menjepret beberapa gambar lansccape di taman itu dan sambil sesekali berjalan perlahan untuk mengusir rasa bosan. 1 jam, 2 jam, 3 jam, sudah lewat tengah hari akan tetapi anak yang aku tunggu-tunggu belum datang juga. Aku juga heran karena terlalu yakin akan bertemu brandon disini. Aku dduk di rumput sambil membaca majalah dan sampai tiba-tiba tangan aku merasa panas. Cincin kelor pemberian kyai terasa panas sekali di tangan aku. Cincin yang di percaya mempunyai energi alami dalam mengusir makhluk tidak kasat mata pun mulai memunculkan tanda bahwa ada yang datang. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan untuk menemukan sosok yang membuat tangan aku memanas dan memang benar sekitar 50 meter dari tempat aku duduk aku sudah melihat sosok brandon. Dia datang lengkap dengan sosok merah di belakangnya dan aki tidak salah melihat bahwa itu merupakan sosok merah yang terlihat merah.

Ketika itu brandon sedang berada di bawah pohon jacaranda dimana pohon itu hampir selalu ada di setiap sudut taman di melbourne dan bunganya yang berwarna kontras berguguran dan menjatuhi kepala brandon yang sedang terduduk. Tampak murung dan aku melihat dari kejauhan wajah anak itu tampak murung atau mungkin dia memang selalu terlihat murung. Aku ingin mendekatinya namun langkah ini terganjal sosok itu dan kemarin aku memang tidak melihatnya. Hari ini aku dapat melihat makhluk yang mengerikan itu. Rambutnya seperti terurai singa dengan warna gelap dan pirang di bagian ujungnya dan aku tidak bisa terlalu detail menggambarkannya. Jarak yang jauh membuat visualisasi mata aku kurang maksimal.

Meski begitu energi makhluk itu dapat aku rasakan dan seketika membuat bulu kuduk aku berdiri. Hawa dingin ini menyelimuti bagian belakang aku dan aku pun membaca doa dan aku mulai bergerak mendekati brandon dimana posisi brandon membelakangin aku. Dia duduk bersandar di batang pohon besar itu dan kepalanya sedikit naik ke atas seperti melihat ke awang-awang dan persis di sebelahnya. Semakin aku mendekat semakin aku bisa melihat dengan jelas sosok makhluk itu dimana rhangnya panjang, giginya tampak menjembul dari bibirnya yang sobek dan jika diamati lagi bibirnya sobek sampai hampir menyentuh telinga. Wajahnya putih bukan putih mulus namun putih kusam. Pucat dan terlihat sangat buruk karena kulitnya juga nampak kendor atau bisa di katakan sudah berair dan berlendir seperti membusuk. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here