100 Hari Setelah Aku Mati Part 86 : Brandon Anak Yang Kerasukan

0
77
bukukita.com

Tiap orang memiliki warna sendiri dan meskipun dalam medis memang tidak ada teori yang bisa mengupas tentang aura tapi aku bisa merasakannya dan anak itu seperti memiliki kebencian yang sangat dimana seolah dia memiliki keinginan yang sangat besar akan balas dendam. Pertanyaan dewi pun membuat pikiran aku terganggu namun masuk akal juga karena beberapa orang dengan kasus ekstra di mensional seperti kami memiliki kemampuan mengidetifikasi orang lain dan tentunya mereka mampu melihat orang yang senasib dengan mereka. Kemampuan yang aku dan dewi tidak miliki. Obrolan aku dan dewi berhenti ketika wayan berteriak keras memanggil kami yang terpisah lumayan jauh karena berjalan lambat dan kami buru-buru mengejar yang lain dengan setengah berlari dan baru beberapa meter langkah kami tiba-tiba berhenti karena lihat anak itu. Dia sedang duduk di sebuah bangku panjang di pinggir jalan dan memakai kaos bergaris dan bercelana pendek dimana rambutnya sedikit panjang berwarna pirang dengan bola matanya berwarna biru. Dia duduk menghadap kami dari arah berlawanan seolah dia tau jika aku dan dewi sedang melewati jalan itu. Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah kalimat sapaan dimana dia mengucapkan salam pada kami, seolah sudah mengenal kami lama dan begitu melihatnya aku paham anak ini sangat butuh pertolongan.

Aku pun tertegun ketika anak itu merupakan seorang anak yang mempunyai sesuatu yang begitu besar di dalam dirinya. Sesuatu yang aku pun tidak mengetahui nya. Beberapa asumsi di kepala aku mulai membuat beberapa pertanyaan dan pertanyaan. Aku dan dewi berpandangan beberapa lama dan kami saling membuat kode lewat kebisuan kami. Seketika dia bilang brandon my name is brandon. Anak itu pun memperkenalkan diri pada kami dengan sorot matanya yang kosong. Susah untuk membaca apa yang ada di dalam diri anak ini dan dia mempunyai sesuatu yang tinggal di dalam dirinya. Anak bernama brandon itu juga menanyakan nama kami. Dimana masing-masing dari kami masih heran atau lebih tepatnya bingung dengan dia yang menurut kami bahkan belum remaja. Udara di sekitar anak itu dalam pengelihatan aku seperti berwarna kehitaman dengan sedikit kabut tipis.

Aku memperkenalkan diri dimana anak itu tersenyum tipis sambil menggangguk, entah apa yang ada di pikirkan anak itu dan dia hanya berkata seperti tadi sembali dia pergi.langkah yang begitu cepat bahkan terlalu cepat. Akan tetapi bisa di bilang berlari karena langkahnya yang santai hingga tidak berapa lama brandon sudah hilang di tengah kerumunan orang yang berjalan. Ada juga sesuatu yang berbisik dalam tubuh brandon yaitu dewi sambil berbisik. Kami pun menuju ke rumah hunian dimana kami tinggal. Butuh waktu sekitar 2 jam dan temen-temen yang lain pada heboh apabila kita bicara disini. Dalam waktu 2 jama bagi kami untuk sampai ke rumah cukup lama dan selama waktu itu aku hanya berfikir tentang seorang anak bernama brandon itu siapa dan mempunyai maksud apa?

Sesampainya di rumah aku mengulangi melihat gambar demi gambar yang memuat sosok brandon itu. Anak ini berpenampilan rapi dan tubuhnya pun bersih. Pasti dia masih bersama orang tua nya atau paling tidak ada yang merawatnya. Dalam salah satu gambar anak bermata biru ini menghadap kamera tanpa ekspresi dimana wajahnya begitu datar, seolah dia tidak memikirkan apapun. Tapi di gambar lain wajahnya berubah menghadap arah aku ketika aku memperbesar fotonya. Dia menatap aku dengan tajam. Namun saat itu resolusi gambar kamera aku tidak mampu menangkap dengan pasti gambar itu dan aku tidak merasa puas dengan segera maka dari itu aku menyambungkan kamera digital itu ke laptop untuk mendapat tampilan yang lebih besat dan berkali-kali aku meneliti tiap gambar yang menampilkan sosok brandon dan berkali-kali juga aku terkejut karena setiap gambar yang menampilkan sosok brandon di iringi dengan makhluk lain di sampingnya. Entah berapa kali aku memperbesar gambar-gambar itu untuk meyakinkan aku bahwa itu bukan efek cahaya atau benda lain namun sosok makhluk tidak kasat mata itu mungkin terlalu halus. Aku dan dewi yang seharusnya bisa melihat sosok itu tidak merasakan kehadirannya sama sekali di dekat kami.

Aku meminum kopi di meja belajar aku dan sambil memainkan pointer yang memperbesar gambar-gambar itu. Sosok berambut panjang berantakan dengan tangan yang panjang dan dia memakai semacam gaun warna merah dan tidak begitu jelas sosok yang satu ini karena keterbatasan kamera aku. Akan tetapi makhluk itu membuat brandon menjadi seperti itu. Seseorang memanggil aku di barengi dengan ketukan pintu dan aku yakin bahwa itu merupakan dewi. Aku pun menyuruh dia masuk ke dalam kamar dan beranjak dari kursi tempat duduk. Kata-kata dewi berhenti begitu aku menunjukan laptop tanpa berkomentar dewi mendekatkan matanya ke layar dan sama seperti aku tadi dia membesarkan gambar itu untuk memastikan nya. Menurut dewi makhluk ini jauh leih tua dan kuat dari jin manapun yang pernah kita lihat dan sampai bisa menyamarkan dirinya.

Aku pun berfikir keras karena jika memang benar anak itu dalam bahaya. Aku yakin sosok bergaun merah itu bukan makhluk yang bersahabar dan aura yang buruk dan gelap dimana sangat tidak baik jika itu terlalu lama berada dalam diri brandon. Ceritanya bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here