100 Hari Setelah Aku Mati Part 85 : Anak Seperti Aku Bagian 2

0
79
bukukita.com

Sedangkan novita dan miska mereka berdua berasal dari pulau sumatra dan obrolan kami berlangsung menyenangkan dan beberapa kali aku terbahak-bahak mendengar lelucon dari wayan dengan logat balinya karena dia sangat fasih melempar lelucon dan terutama komentarnya mengenai dosen-dosen pembimbing kami. Namun entah berapa lama kami berbicara sampai sebuah ide terucap dari novita untuk berjalan-jalan. Segera ide itu di terima oleh teman yang lain dan aneh juga hari itu aku tidak merasa capek setelah perjalanan jauh dari indonesia dan kami akhirnya berjalan-jalan ke collin street. Tempat itu merupakan tempat wisata yang di buat dengan bangunan-bangunan klasik yang berjejer sepanjang jalan dan kami berangkat siang itu juga dengan sedikit persiapan dan kami hanya berganti baju dengan baju yang lebih tebal. Bahkan kami tidak lupa masing-masing dari kami mengenakan jaket setelah berkumpul pun kami langusng berangkat menuju halte yang hanya beberapa meter dari hunian kami dan beberapa kali kami berpindah bis, lalu kami memilih menggunakan tram atau sistem transportasi di melbourne yang sudah sangat maju.

Kita pun tidak perlu mengeluarkan dollar untuk membayar tarif nya dan kami di bekali dengan selembar kartu ajaib berwarna hijau bernama myki card. Apabila teman-teman berkunjung janga sekalipun pergi tanpa menggunakan kartu ini karena jika pergi tanpa myki card kalian bisa kena denda yang jumlahnya lumayan banyak.

Setelah beberapa lama akhirnya kita sampai di collins street sebuah tempat yang boleh di katakan malioboronya melbourne. Bangunan-bangunan tua bergaya barat berjejer dan di kanan kirinya merupakan surga bagi orang yang gila belanja dan banyak juga yang menjual mulai dari pakaian dan segala pernak pernik. Sepanjang mata memandang juga banyak cafr dan pubs yang menjajakan kuliner dari seluruh dunia dan aku tidak henti-hentinya takjub dengan benua ini. Beberapa kali terbesit di otak aku dimana akhir-akhir ini aku merasa berhutang dengan negara dan karena aku sudah bisa sampai tahap ini dengan bantuan negara. Uang yang aku gunakan untuk menuntut ilmu dan kegiatan sehari-hari aku adalah hasil dari pajak yang di bayarkan oleh orang-orang yang membayar pajak dan ada saatnya aku membalas jasa kepada negara dan masyarakat atau paling tidak pada masyarakat lingkungan aku sendiri.

Novita, miska dan dewi merupakan cewek trio yang asik menyusuri jalan dengan berfoto di masing-masing spot foto. Dan disana tukang foto kita adalah wayan dimana beberapa kali dia menggerutu karena dia malah tidak ada fotonya. Sementara aku yang memang tidak hobi di foto dan hanya duduk-duduk saja sambil melihat teman-teman aku berpose. Memang bukan lah wayan namanya jika tidak bawel dan dia pun behasil memaksa aku ikut berpose dengan pose yang aneh-aneh. Pose itu mulai dari pose nungging dan segala macamnya. Seolah memberikan bungan pada dewi dan pose-pose konyol lain yang membuat aku terlalu malu untuk menulisnya disini.

Waktu sudah semakin sore dan kegiatan seru aku pada hari itu seperti menghapus rasa lelah aku yang mulai terasa. Kami memutuskan untuk beristirahat di sebuah stand minuman di pinggir jalan dan wayan memesan bir kaleng sedangkan aku dan yang lainnya meminum limun. Semuannya berjalan baik dan wayan masih dengan kekonyolannya yang sekarang sedang asik mengganggu wardana dan novita yang memang di kabarkan pacaran. Miska sedang asik berkutat dengan hanphonenya kemudian dewi sedang sibuk melihat hasil jepretan gambar di kamera poket yang aku bawa. Awalnya dia tersenyum terus sambil mengomentari hasil gambar. Namun raut wajah mendadak berubah serius dan sorot matanya menunjukan tanda tanya di benaknya. Aku yang awalnya hanya memperhatikan nya menjadi penasaran apa yang sedang di lihat oleh dewi.

Dewi hanya menggeleng pelan dimana mata nya masih sibuk menatap screen kamera itu. Tidak lama dewi menoleh ke arah aku sambil berbisik dia menyerahkan kamera itu dan memperlihatkan hal yang menarik perhatian aku. Di kamera itu ada hal yang aneh dimana beberapa gambar saat kita berpose bersama tidak ada yang aneh namun satu hal ada seorang anak lelaki yang kami tidak mengetahui siapa gerangan. Aku maupun dewi tidak menyadari kehadiran anak yang mungkin usianya 5-8 tahun itu, dia berada di belakang kami hanya berdiri sambil menatap dengan tatapan kosong di kamera kita. Aku dan dewi saling berpandangan dengan bingung dan aku mengetahui hal yang membuat dewi bingung merupakan pertanyaan. Aku dan dewi sepakat tidak memberitahu kan hal tersebut karena untuk menghindarisebuah pertanyaan. Pertanyaan yang timbul di pikiran aku bahwa anak ini tidak seperti anak pada umumnya. Pada satu gambar yang terlihat dia berada di pinggir kami sambil melihat aku dan tidak mungkin anak ini merupakan orang yang kebetulan lewat karena dia terabadikan secara tidak sengaja dalam banyak gambar. Lama aku dan dewi saling membisu sambil berbisik sampai ajakan miska untuk pulang ke rumah membuat aku menyimpan rasa penasaran aku.
Kami sedang berjalan menuju halte pemberhentian bus terdekat dan teman aku yang lainnya berjalan di depan sedangkan aku dan dewi masih berdiskusi tentang anak pada potret itu. Gelap yang kami maksudkan adalah semacam aura dari anak ini dan sedikit mengenai kemampuan aku dan dewi adalah merasakan hawa yang tidak bisa di sebut aura. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here