100 Hari Setelah Aku Mati Part 84 : Anak Seperti Aku

0
82
bukukita.com

Risa diam dan menatap aku namun saat itu aku masih belum paham dengan arah pembicaraan risa. Tidak lama aku minta risa untuk mengambilkan air minum karena tenggorokan aku terasa kering sekali dan juga serak. Namun ketika itu aku melihat kasur aku berantakan dan tadi aku tidurnya banyak sekali gerakan. Risa masih meyakinkan aku apakah ini benar-benar aku karena dia pun menatap aku dengan wajah yang serius. Risa menceritakan jika tadi risa datang menemui aku dan ketika kesini ternyata diri aku bicara dengan sesuatu yang lain dimana saat itu suara aku berubah menjadi suara perempuan. Aku takut tapi aku tidak mau meninggalkan diri aku, ucap risa pada aku. Dan ketika itu diri aku seperti orang kesurupan dan aku menjerit-jerit merintih minta tolong. Setelah itu aku pun bicara jika nanti 100 tahun setelah aku mati temui aku.kerlip lampu kota terlihat sangat indah dari ketinggian dan maskapai bernama sebuah negara dari timur tengah itu sedang membawa asku terbang menuju tempat dimana aku menuntut ilmu. Aku tidak mengetahui bahwa aku sedang melewati daratan sebelah mana. Mungkin aku masih melayang di negara bagian paling utara benua australia dan aku mengalihkan perhatian ke sebuah buku aku. Aku mencoba mengusir kejenuhan karena harus duduk selama beberapa jam.

Hari itu merupakan hari keberangkatan aku kembali ke melbourne dengan berat hati aku sekali meninggalkan kampung halam beserta semua hal yang aku cintai. Risa mengatakan agar aku jaga diri dan perkataan risa itu memaksa aku untuk membuat janji baru dengannya dan aku sebisa mungkin menjaga diri. Perpisahan yang pasti akan berlangsung lama yang menyisakan rindu dan mungkin taun ini aku tidak akan merasakan lebaran lagi di tanah kelahiran aku dan liburan yang akan segera berakhir membuat aku tidak bisa berlama-lama di jogja dan aku haru ssegera kembali untuk menjalani masa kuliah yang sebentar lagi di mulai. Ingatan aku kembali pada kejadian tempo hari dimana aku harus datang ketika 100 tahun setelah aku mati. Jika di hitung masih berapa tahun lagi namun sampai sekarang aku belum bisa menemukan jawaban dari teka teki sari.

Rasanya sama persis ketika pertama kali aku datang ke melbourne dan dingin merupakan hal pertama yang menyambut kau setelah turun dari pesawat. Dan aku sampai di melbourne dini hari dengan hujan rintik semakin menambah keadaan dan kondisi badan aku menggigil. Setelah beberapa menit perjalanan akhirnya sampai juga di hunian aku. Aku memasuki kamar dan sedikit merapikan walaupun sebenarnya tidak berubah semenjak ditinggal selama 3 minggu dan aku membongkar tas dan mengeluarkan isinya juga beberapa bungkus snack. Makanan isntan dari tanah air juga sedikit yang aku beli di malioboro pun turut aku keluarkan.aku tersenyum melihat sebuah wadah bekal berisi sambal terasi dan beberapa kali aku mengeluh karena jarang sekali menemui makanan dengan sambal disini kecuali makanan asia dan risa tanpa diminta menyediakan nya untuk aku.

Dalam hati aku berkata terima kasih dengan risa. Aku juga mengirim pesan singkat pada risa dan sekaligus memberi kabar jika aku sudah sampai dengan selamat. Di luar kamar masih sepi dan beberapa teman aku belum kembali dari liburannya. Disini hanya ada si wayan dan 3 orang lain yang liburan namun tidak pulang sedang kan dewi entahlah dia sudah kembali 2 hari yang lalu tapi setibanya aku disini aku belum bertemu dengan nya dan dewi juga belum membalas pesan sms aku. Aku merebahkan diri di kasur dan sekedar mengistirahatkan tulang punggung aku yang terlalu lama merasa sakit karena duduk di pesawat begitu lama. Sambil mengecek yahoo mesenger yang mungkin ada beberapa pesan yang belum aku baca.

Dan cukup lama juga aku asik dengan handphone aku hingga sampai sebuah ketukan pintu dan suara panggilan seorang perempuan memanggil aku. Ternyata itu yang sudah ada di ambang pintu dan dia mengenakan jaket mantel tebal berbulu. Sebuah kupluk membungkus kepala dan rambutnya yang panjang, dimana tanganya menggenggam 2 wadah besar. Tampak sekali dia baru saja pergi entah darimana.

Ternyata dewi baru belanja untuk masak dan aku mengerutkan dahi sambil sedikit mengingat dan aku mengangguk tanda jika aku paham dan mengerti. Aku beranjak dari kasur sambil menyaut plastik yang ada di tangan dewi. Dan membantu membawanya ke dapur dimana hari itu aku lewati dengan memasak bersamadewi. Kami punmemasak dengan porsi yang cukup banyak. Dewi sangat peduli dengan orang lain maka tidak heran dia di senangi banyak orang disini. Beberapa kali aku juga mendengar rumor jika dewi di dekati mahasiswa jurusan lain yang katanya menyukai dia dan pantaslah orang sebaik dan secantik dewi di sukai banyak orang.

Hari itu makan besar bersama wayan, novita dan miska. Mereka tampak senang melihat masakan yang kami buat seperti sayur asem, tahu dan tempe goreng, ikan asin, sayur lodeh dan sambal buatan risa turut aku keluarkan untuk dinikmati bersama. Kami makan sambil berbicara mengenai kami dan sebagainya. Cukup seru juga wayan merupakan orang bali yang sangat humoris dan mengingatkan aku pada andi sahabat aku di masa sekolah. Kemudian wardana merupakan orang jawa timur penggila fitnes. Dia merupakan teman segym aku di sini. Bersambung di cerita berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here