100 Hari Setelah Aku Mati Part 83 : Obrolan Singkat Bagian 2

0
94
bukukita.com

Aku pun juga senang melihat om bowo dan keluarga sehat-sehat semua. Aku tidak ingat banyak dengan kegiatan aku hari itu namun yang jelas aku hanya berdiam di rumah sambil memetik gitar lama aku dan sampai sesuatu membuat aku terkejut. Aku kaget ternyata suara itu adalah dari koleksi mainan robot-robotan aku di masa kecil. Tanpa sebab mainan itu jatuh diatas rak koleksi bahkan mainan yang bisa bersuara itu sampai menyala dan memungut mainan itu yang mungkin sudah aku miliki selama belasan tahun dan benda-benda kecil aku memang masih terawat bahkan sampai sekarang, aneh mainan itu masih menyala padahal sudah bertahun-tahun aku tidak mengganti batrainya. Aku memperhatikan mainan itu dan itu adalah mainan yang di belikan almarhum ibu di pasar malam sekaten ketika aku masih tk dan lebih rinci lagi mainan ini adalah mainan yang berjalanan di bawah kasur saat mata ini pertama terbuka, mainan ini menunjukan penampakan wanita bersimbah darah di bawah kasur.

Aku pun memfokuskan pikiran sejenak dan mencoba mempertajam batin dan tidak ada apapun di sekitar aku. Lagi-lagi aku berbicara sendiri dan aku mematikan tombol off mainan itu dan duduk lagi di kasur. Aku memandangi sekeliling kamar dan terlihat koleksi barang-barang lama aku dimana maina koleksi aku mayoritas merupakan mainan dimana aku ingat hampir setiap hari masa kecil aku dan bapak membelikan aku mainan baru karena aku dulu tidak memiliki teman dan bapak memberi alternatif dengan membelikan aku apapun mainan yang aku sukai. Mata aku tertarik mengamati tumpukan lego di sudut rak dan aku megambilnya juga mencoba mengingat lagi. Aku sama sekali tidak ingat bahkan lupa tentang lego itu yang aku lupa adalah bentuk legonya dan seingat aku bentk lego nya dengan wujud mobil saat terakhir aku tinggalkan dan aku temukan saat ini adalah lego itu berbentuk manusia yang membentuk sebuah kepala dimana badan dan anggota tubuh lain kecuali kaki kiri aneh dan saat itu juga aku kembali duduk di kasur sambil menerawang sekeliling kamar. Semua barang masih tetap berada di posisinya bahkan debu yang menempel di mainan-mainan itu. Menunjukan bahwa sudah lama tidak ada tangan manusia yang menjamahnya dan buku gambar itu harus nya tidak berada disini. Aku membuka dengan seksama lembar tiap lembar dari buku gambar yang sudah terisi penuh itu di halaman paling akhir pun aku melihatnya namun ada hal yang menarik pada gambar yang tertuang. Ada nama yang tertulis disitu yaitu nama aku dengan tulisan anak Sd dan disamping nama aku ada sebuah bilangan yang menunjukan angka 7,0 namun bukan itu yang membuat menariknya melainkan gambarnya.

Gambar dalam buku gambar itu ada sebuah pohon dengan buah dan pohon itu daun nya lebat berwarna hijau. Pohon dengan batang besar ada dua namun yang satunya roboh seperti pohon yang masih berdiri di bawahnya di gambar sosok 2 anak laki-lai juga perempuan sedang berdiri di sebelah ayunan itu.

Aku mengingat bahwa itu sari, dimana ingatan aku kembali saat menggambar itu di masa kecil beberapa kali aku pun mendokumentasikan nya dan peristiwa bermain aku dengan sari lewat coretan crayon dia sangat terlihat menderita. Tiba-tiba teingat kata-kata dewi saat kami bertemu sari di rumah lama aku. Aku sempat menanyakan dalam hati apa dirinya semenderita itu? Saat aku menutup lembar terakhir masih ada lembar paling belakang dari gambar itu, itu merupakan gambaran tangan aku tapi memori otak aku menolak mengatakan bahwa aku pernah menggambarnya dan disitu tergambar sosok wajah perempuan yang menangis dan yang lucu matanya diwarnai dengan crayon warna merah. Selama beberapa lama tubuh aku terasa menggigil seperti bergidik ngeri atau entah apa mengatakannya. Dimana tubuh kalian akan merinding ketika kalian melewati sesuatu.

Namun sari melarang aku untuk bertemu dengan nya dan aku bingung ini merupakan pesan dari sari dan paling tidak itu asumsi yang terbesit di nalar aku. Akan tetapi beberapa waktu lalu sari tidak memperbolehkan aku bertemu dengan nya. Sampai saat ini aku masih belum mengetahui maksud dari sari. Aku tidak sadar bahwa aku melamun cukup lama sampai mendengar suaraa adzan dzuhur yang menyaut sarung dan menuju mesjid. Sesekali aku melamun sambil berjalan dan saking asiknya melamun aku jadi kurang memperhatikan beberapa sapaan tetangga sampai akhirnya aku di tepuk pak imron. Pak imron seketika aku menyautnya dan beliau sering di sapa ustadz di daerah aku karena beliau sering mengisi pengajian.

Selepas dzuhur aku kembali ke kamar sambil melepas sarung aku merebahkan diri ke kasur dan pikiran aku serasa ruwet karena rasa penasaran itu. Aku mencium bau melati dimana kehadiran sari biasanya di tandai dengan harumnya melati. Cukup lama dan yang aneh adalah aku malah tertidur. Risa tidak lama membangunkan aku lewat tepukan pipinya. Aku berfikir bahwa akan menemui sari namun ternyata tidak karena aroma melati itu tidak mendatangkan sari. Risa masih menepuk wajah aku dan mata aku memang sudah terbuka akan tetapi aku memang belum merespon risa yang sudah menbangunkan aku. Aku akhirnya bangun sambil mengucek-ngucek mata. Aku bilang jika aku sudah bangun kepada risa. Risa masih kaget melihat aku dan tanya apa betul ini adalah aku. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here