100 Hari Setelah Aku Mati Part 82 : Obrolan Singkat

0
82
bukukita.com

Aku pun ingin masuk kamar risa dan dewi mengangguk dan seperti biasa selalu muncul senyum cantiknya di setiap kesempatan dan dewi memberikan arahan letak kamar dimana risa beristirahat. Aku berlalu dan masuk di sebuah kamar yang ternyata tidak di kunci dan begitu masuk aku melihat sekitar sepuluh anak perempuan berumur 5-10 tahun. Ruangan yang tidak seberapa besar itu diisi anak sebanyak ini. Aku pun melihat satu per satu kasur yang ada disitu dan melihat sosok risa yang masih tertidur bersanding dengan seorang anak yang aku perkirakan umurnya sekitar 6-7 tahun. Sebuah kompres masih menempel di kepala anak yang sedang tertidur pulas itu dan disebelahnya risa tidur dalam posisi miring sambil memeluk anak yang aku tidak tau siapa namanya.

Dewi mengagetkan aku karena baru saja aku membatin dan dewi seperti tau apa yang ada dalam pikiran aku. Bapaknya pergi tidak tau kemana sedangkan ibunya mungkin juga bukan ibu yang baik sampe tega ninggalin aksa disini dan kerabatnya juga tidak mampu merawat aksa. Aku melamun sejenak karena memikirkan orang tua macam apa tega berbuat hal seperti itu. Aku berjalan agar tidak membangunkan anak-anak karena memang hari masih begitu pagi. Tampak risa teritdur dengan pulas dan tangannya memeluk aksa seolah risa ini adalah seorang ibu yang sedang menunggu anaknya yang sedang sakit. Terbesit di dalam pikiran aku yang samar-samar dimana aku seperti kembali kemasa lalu.

Risa membuat aku ingat pada almarhum ibu aku dan aku memang jarang sakit tapi ada satu ingatan dimana aku masih berumur 4-5 tahun saat sakit demam tinggi dan ibu menunggu persis seperti yang di lakukan risa pada aksa hari ini. Aku menyentuh kening aksa dan panasnya normal kembali. Aku menyibakan rambut risa yang tergerai dan mendekatkan bibir aku ke telinga risa untuk risa solat subuh. Tidak butuh waktu yang lama risa dengan segera membuka matanya.hal pertama yang aku lakukan ketika itu adalah tersenyum dan senyum yang sangat menawan dimana selama beberapa saat hati aku terasa terenyuh dengan hal yang sederhana itu. Waktu yang singkat itu membuat pikiran aku melambung dan memaksa aku mengajukan permintaan pada Tuhan supaya ini memnjadi senyum yang akan selalu aku lihat setiap pagi hari.

Secara spontan perhatian risa berpaling ke arah aksa dan dia mengambil kompres yang masih menempel di kening aksa sambil memeriksa suhu tubuh nya. Risa mengangguk dan beranjak pelan sambil menggandeng tangan aku dimana kami berjalan menuju ruangan kami. Pagi itu aku hanya berada di kamar dan sepertinya kondisi badan aku yang menuntut untuk istirahat lebih lama sedangkan risa entah dimana dia setelah solat subuh dan dia sudah tidak terlihat mungkin menegol keadaan aksa atau sedang bermain dengan anak-anak lain. Sampai menjelang siang risa kembali ke ruangan dan raut wajahnya tidak seperti biasa dan aku menanyakan ada apa namun jawaban risa selalu berkata tidak apa-apa. Aku kira adalah penyakit perempuan pada saat cowok bertanya.

Sikap risa yang aneh berlanjut sampai malam hari dan aku malah bingung sendiri dengan perubahan sikapnya dan sekitar pukul 20.00 aku mngajak risa berbicara. Aku bertanya pada risa ada apa dengannya seketika risa menghembuskan nafas dia bilang dia bingung sama orang tua dan sodara-sodara dari anak-anak yang tinggal disini dan menurut risa aneh karena walaupun memang sebagian besar mereka disini itu yatim piatu tapi beberapa kasus dari mereka ada yang di telantarkan gitu saja sama orang tua mereka dan aku heran saja kenapa mereka tega seperti itu, bahkan kayak buaya saja pasti menjaga anak-anaknya sampe mereka bisa cari makan sendiri. Aku bingung kenapa ada manusia yang seperti itu dan kadang saat aku membayangkan apapun. Mungkin saja hidup aku besok susah namun sebisa mungkin aku bakal merawat anak aku sendiri.

Aku pun memikirkan hal sama seperti yang dipikirkan risa. Tapi kedua orang tua aku sangat dan sangat care sama aku. Tadi aku juga mikir seandainya aku jadi seorang bapak. Semoga aku bisa menjadi bapak seperti almarhum bapak aku yang bertanggung jawab untuk istri dan anak aku. Aku beberapa kali menghayal tentang masa depan setelah cita-cita aku jadi dokter tercapai. Aku meyakini jika aku dan risa berjodoh dan aku hanya bisa berusaha menyiapkan dan memperbaiki diri dan supaya aku menjadi lanjutan kisah hidup aku. Bertahun-tahun bersama kamu membuat aku yakin pada risa. Sarapan pagi dengan menu yang istimewa sudah sangat lama aku tidak makan gudeg khas kota aku. Aku beranjak ke dapur untuk mengambil sendok dan menikmati makan pagi itu.

Aku mengutak atik handphone dan mengirim sms ke risa hanya untuk berterima kasih. Tadi pagi risa menyiapkan makanan ini di meja makan saat aku belum bangun dan setelah subuh tadi aku memang tidur lagi. Secarik kerta kecil di atas meja menandakan bahwa ini merupakan pemberian risa. Ketika itu aku hanya bisa tersenyum melihat perhatian risa pad aku dan terbesit rasa syukur memiliki anak itu di samping aku. Itu adalah hari ketiga setelah kami pulang dari kediaman dewi dan walaupun dengan berat hati meninggalkan anak-anak akhirnya risa mau di bujuk pulang. Semalam om bowo juga mampir beserta istri beliau dan mereka tampak senang melihat aku sehat-sehat saja. Bersambung di part berikutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here