100 Hari Setelah Aku Mati Part 81 : Risa Dan Dewi Bagian 2

0
79
bukukita.com

Aku juga mengatakan jika aku selalu menghindari satu sikap dari orang lain yaitu belas kasian. Tangan nya terhenti dan risa yang dari tadi berada di pojok ruangan kini beranjak dan berjalan ke arah aku kemudian ikut duduk disamping aku. Dia mengusap lengan aku lembut dan raut wajah dia seperti menyimpan pertanyaan. Risa menjelaskan jika itu bukan kasian tapi dia simpati pada anak-anak itu. Aku menjelaskan jika rasa simpati itu seperti kita tertarik dengan seseorang entah lewat kepintaran dan juga melihat wibawanya. Tapi kasian merupakan dikap dimana nuranimu berkata bahwa orang ini sangat menderita dan orang ini butuh di bantu karena orang ini lemah dan orang ini tidak bisa berbuat sesuatu jika tidak di tolong dan lain-lain. Aku tau maksud risa baik hanya sedikit sharing saja kepada nya. Mungkin mereka masih anak-anak tapi mereka akan dewasa juga dan orang yang di besarkan dengan belas kasian akan tumbuh jadi orang yang selalu mengharap belas kasihan orang lain dan percaya orang seperti itu tidak akan pernah hidup bahagia.

Risa hanya diam tapi dia tersenyum manis, memang gadis ini di bekali dengan otak cerdas jadi tiap obrolan kami jarang sekali terjadi salah paham. Risa menyandarkan dagunya ke bahu aku sambil berbisik manja tapi jika kita keluar beli camilan tidak apa-apa kan, ucap risa. Aku tersenyum mendengar permintaan risa, akhirnya kami pergi sebentar menuju sebuah minimarket yang tidak jauh dari panti itu dan aku memilih beberapa makanan yang tahan lama seperti manisan dan asinan. Tidak lupa beberapa kaleng susu aku ambilkan sedangkan risa karena dia perempuan dia belanja dengan tanpa aturan apapun makanannya bisa masuk kedalam keranjang belanjaan yang akan dia bawa dan jika kalian tau barang yang risa ambil kalian mungki heran. Risa berbicara dengan anak-anak panti asuhan yang mengerumuninya yang membawa empat plastik ukuran besar yang berisi penuh dengan snack. Segera saja belasan sampai puluhan anak-anak itu mengerubuti risa yang tampak tersenyum sangat lepas.

Aku memandang dari kursi yang tidak jauh dari tempat risa berdiri sambil ikut tertawa melihat risa yang mulai kewalahan karena di keroyok anak-anak yang saling berebut snack. Suara dewi mengalihkan perhatian aku dan dia duduk sambil tersenyum dan sesekali dia memberi nasihat anak-anak agar tidak membuat risa repot. Dewi beranjak dan ikut membantu risa untuk membagikan snack-snack itu dan kedua gadis lembut itu memperlakukan anak-anak itu seolah mereka adalah keluarga mereka.

Aku sekali lagi melamun dan memandang dua gadis di depan aku. Sempurna merupakan kata yang cocok menggambarkan masing-masing dari personal risa dan dewi. Cantik, brilian, ulet dan mereka memiliki pesona yang aku jamin akan membuat laki-laki normal jatuh hati dan pesona itu adalah ketulusan mereka. Dewi adalah sosok yang mengajari aku tentang seburuk atau sekacau apapun keadaan kamu saat ini kamu akan selalu mempunyai celah untuk mensyukuri keadaan kamu saat itu sedangkan risa merupakan orang yang menemani aku dalam setiap inci perjalanan hidup aku dan dia mengajari aku bahwa ketika seluruh dunia seolah tidak berpihak kepada Tuhan dimana dia akan mengirimkan satu orang untuk menguatkan aku dan orang itu merupakan risa.

Risa pun merupakan jawaban dari apa yang di ajarkan dewi pada aku dan risa merupakan hal atau celah yang harus aku syukuri keberadaannya. Beberapa kali terbesit di otak aku bahwa Tuhan selalu memberikan hal baik di setiap kesulitan. Mungkin Tuhan mengirimkan hal baik itu dalam bentuk manusia bernama risa dan dewi akan tetapi mungkin mereka sebetulnya bukan manusia namun malaikat yang di kurung dalam wujud manusia. Aku tidak sadar larut dalam lamunan itu sambil senyam senyum sendiri sampai mendadak ada suara yang membuyarkan lamunan aku. Risa pun mengatakan mengapa aku senyam senyum sendiri dan dia mengira aku sedang berfikir jorok. Aku terbangun saat ayam di pekarangan panti itu berkokok.

Seluruh badan yang pegal ini terasa sekali kaku pada bagian sendi kaku. Tampak ini akibat dari akumulasi rasa capek setelah perjalanan jauh dan aku sedikit melakukan sedikit gerakan di atas kasur sambil menyaut jam tangan yang aku taroh di dekat bantal 04.15 pagi. Aku segera mengganti kaos yang aku pakai dengan yang lebih layak untuk solat. Selepas solat aku hanya berbaring diatas sajadah yang aku gunakan sebagai alat solat dan badan yang masih capek membuat aku masih enggan keluar kamar dan layar handphone menunjukan notifikasi apapun dimana tampak risa juga kecapean dan mungki belum bangun. Biasanya risa yang selalu lebih awal bangun dari pada aku. Aku memutar pintu handel pintu it dan mencari risa. Semalam dia pamit untuk tidur bersama anak-anak panti.

Tidak lama dewi menyapa aku saat aku mencari risa dan dewi bilang jika risa ada di kamar putri. Saat itu dewi sedang menyiapkan beberapa cangkir teh dan 2 toples keripik singkong. Aku pun bertanya apa risa sudah bangun? Dewi mengatakan risa semalam hampir tidak tidur karena ada anak panti yang sakit. Muntah beserta demam dan aku dengan risa berusaha mengurangi demamnya. Semalam juga aku menyuruhnya pindah kamar agar bisa istirahat. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here