100 Hari Setelah Aku Mati Part 80 : Risa Dan Dewi

0
86
bukukita.com

Risa berseru jika kita sudah kelewatan dan menggoyang-goyangkan punggung aku yang sedang khusuk menyetir. Aku mengatakan jika tempatnya bukan disana. Dan ketika itu kami sedang ribut masalah jalan menuju panti tempat tinggal dewi dan risa dari tadi ngomel terus memaksa aku bersuara tidak kalah keras disana. Sekian lama dengannya mungkin aku akan ketularan penyakit bawelnya. Kami berdua memang buta dengan peta jakarta dan jalanan yang macet dan bercabang membuat kami pusing dan apalagi waktu itu merupakan jam istirahat kantor. Jadi benar-benar membuat jalanan bertambah ramai. Maka dari itu kami harus menggunakan teknologi gps dan akhirnya setelah 2 jam mencari alamat, kami sampai di tempat dimana dewi tinggal.

Sebuah bangunan yang terlihat berumur namun terawat di halaman deoan tampak banyak anak-anak berkisar usia 5-10 tahun sedang bermain bola plastik yang sudah penyok. Pagar besi berkarat setinggi dada mengelilingi bangunan itu. Di depan ada sebuah gapura kecil dengan sebuah papan kayu usang bertuliskan panti asuhan sebagai tanda bahwa kami tidak salah alamat. Selama beberapa detik aku dan risa saling berpandangan dan aku menunggu kode dari risa untuk turun dan memencet bell di pintu gerbang kecil itu. Aku hanya mengangguk sambil turun dari mobil dan memencet bel yang berada persis disamping pagar.

Saat itu kami memencet bell beberapa kali seorang ibu paruh baya muncul dengan sedikit berlari menghampiri kami dan membuka gerbang. Ibu itu terseyum dan menanyakan keperluan kami. Aku mengatakan pada beliau jika aku dan risa datang kesini membawa titipan yang tertinggal di jogja kemarin. Namun ibu itu sudah mengetahui tentang aku karena dewi sering menceritakan aku.

Kemudian ibu itu mempersilahkan kami masuk. Aku kembali ke dalam mobil dan disambut dengan senyuman manisnya. Lalu aku memarkirkan mobil aku ke dalam pekarangan panti asuhan itu. Aku dan risa turun dari mobil dan melihat banyak anak-anak kecil yang berhenti bermain. Mereka melihat kami dengan tatapan lucu. Mereka tiba-tiba berlari dan mendatangi kami sambil berebut dan bersalaman dengan kami. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menyambut tangan-tangan kecil mereka sambill tersenyum. Aku melihat ke arah risa yang sedang jongkok dan tersenyum sambil bersalaman dengan anak-anak itu. Beberapa kali dari lisannya risa menanyakan nama mereka dan risa terlihat sangat mudah beradaptasi. Tidak lama bu tarsih mengatakan pada anak-anak agar tidak mengganggu karena mau istirahat. Tidak lama ibu tarsih menyuruh kami menunggu karena beliau akan memanggil kan dewi dahulu. Bu tarsih menyuruh kami menunggu di ruang tamu dan sambil sedikit berbincang aku sekedar berbasa basi dengan pertanyaan ringan, sedangkan risa masih belum beranjak dari tempatnya tadi dan masih asik berkenalan dengan anak-anak panti.

Dia memang senang dengan anak-anak maka tidak heran jika sudah bertemu keponakannya yang masih anak-anak dia selalu menjadi tante favorit. Ketika itu aku mengajak risa masuk sambil melambaikan tangan aku. Risa pun berpamitan dengan anak-anak itu sambil sedikit berlari ke arah aku dan dia memegang lengan aku sambil tersenyum senang dan entah apa yang membuat dia terlihat demikian. Kami diminta duduk dan menunggu sebentar, sementara bu tarsih beranjak untuk mencari dewi yang katanya sedang berada di salah satu kamar anak. Aku melirik ke arah risa yang sedang asik memandang sekeliling ruangan dengan senyuman yang tidak lepas dari bibir tipis nya. Risa tampak senang melihat anak-anak panti asuhan. Tidak lama aku ngobrol dengan risa muncul seseorang yang menyapa kami dan wajahnya tampak kaget melihat aku dan risa mampir ke tempatnya. Dewi bilang kenapa kita tidak memberi kabar jika mau kesini dan aku mengatakan jika aku kesini sekalian membawakan barangnya yang ketinggalan.

Tidak lama dewi mengatarkan kami berdua ke kamar dan hanya satu kamar yang kosong dan dewi menyuruh kami menggunakan kama dewi. Namun risa mengatakan jika dia akan tidur dengan anak-anak panti. Dengan semangat dia memohon pada dewi agar di ijinkan tidur dengan anak-anak panti. Lalu aku pun meledek dewi jika aku tidur dengan dewi. Risa pun mengepalkan tangannya dan mengatakan jika aku mesum setelah pulang dari ausi.

Tidak terasa kami sudah menghabiskan satu jam lebih untuk mengobrol dengan dewi dan risa dimana mereka sangat cepat akrab satu sama lain. Dewi yang setahu aku pendiam tiba-tiba jadi banyak bicara saat dekat dengan risa dan betul dugaan aku, mungkin besok akan aku jadikan bahan penelitian dengan tema penyakit menular cerewet. Hari semakin sore, aku dan risa sudah di persilahkan mandi dan sedikit beristirahat di ruangan kecil yang sudah di sediakan untuk kami. Aku sedang duduk sebentar sambil meminum sisa teh botol yang aku bawa di tas dan sementara risa, entah apa yang di lakukan. Dia asik membongkar tas seperti ada yang dicari nya. Ternyata risa mencari camilan yang sudah dia beli untuk anak-anak panti asuhan dan aku disini merasa kasian pada mereka, ucap risa. Pandangan risa pun tidak bergeming dari tas nya sedangkan tanganya sibuk menata beberapa bungkus snack yang sudah kami beli untuk bekal perjalanan kemarin. Walaupun aku tidak pernah tinggal di panti tapi kei\rinduan tentang kasih sayang orang tua juga sering aku alami. Selama ini aku menghindari satu sikap dari orang lain. Bersambung di cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here