100 Hari Setelah Aku Mati Part 79 : Teka-Teki Bagian 2

0
34
bukukita.com

Prajurit-prajurit yang ada di tengah lapangan berjalan dan menjauh sekitar 3 pleton prajurit lain yang membawa busur dan anak panah yang di jajarkan di pinggir lapangan. Anak panah itu meluncur dari busur dan mengenai perut seorang anak yang mungkin baru berumur 5 tahun. Anak panah lain yang berhamburan mengenai anggota tubuh dari masing-masing warga. Aku melihat ke arah raden dan raden tidak menjawab apa-apa. Dia kembali menunjukan jarinya ke arah pembunuhan masal itu. Setelah semua anak panah di luncurkan dan puluhan prajurit lain yang membawa tali memeriksa setiap tubuh yang berlumuran darah itu.

Bau amis dan anyir darah yang tergenang membuat aku mual. Mereka menemukan 19 orang selamat dan mengalungkan tali ke leher mereka semua. Orang-orang itu meronta ketakutan dan melakukan perlawanan yang percuma. Mereka disiret dengan seutas tali yang melilit leher mereka. Dan beberapa prajurit melemparkan tali ke sebuah pohon yang sangat besar dan pohon yang familiar dan benar saja pohon itu sama dengan pohon yang berdiri di samping kamar hotel aku menginap.

19 orang terdiri dari 10 orang wanita dan 5 orang manula. 4 orang anak-anak mereka di gantung hidup-hidup. Beberapa prajurit lain menggotong mayat-mayat lain yang mungkin diantara tumpukan mayat itu masih ada yang selamat dan mereka menaruh jerami dan cairan hitam seperti minyak dimana seseorang yang membawa obor mulai menyulutnya. Api berkobar dengan besarnya dan aku mendengar jeritan minta tolong dari beberapa orang yang ternyata masih hidup. Segera saja bau sangit dari rambut terbakar dan bau daging dan darah yang terpanggang masuk ke hidung aku. Aku melihat ada prajurit menggotong tubuh raden yang sudah hampir tidak bernyawa di lempar ke bara api yang memanas. Hal itu sangat mengerikan karena pembantaian manusia pertama yang aku lihat. Meskipun ini hanya memori dari masa lalu namun tetap saja membuat kalian mengompol jika melihatnya. Kejamnya mereka hanya di sebabkan karena wilayah dan hanya karena pajak dimana nyawa manusia yang harusnya di lindungi bahkan tidak ada harganya.

Raden mulai berbicara pada aku dengan nada bergetar danmatanya mulai berkaca-kaca. Semua sudah di gariskan dan kamu merupakan anak emas dan kami menujukan ini agar aku bisa mengambil manfaat dan mereka buka jin hitam. Mereka hanya ingin mengajari rasa sakit dan ketakutan pada kamu agar tidak ada lagi kejadian seperti ini. Hal ini di gunakan sebagai pembelajaran masa lalu. Aku pun bertanya hal apa yang dapat aku lakukan untuk mereka? Raden tersenyum dan tanganya menepuk pundak aku sesekali matanya memandang sekeliling kami dan secara tidak sadar aku sudah berada di dalam kamar hotel. Mata aku berkunang-kunang entah efek dari apa hingga membuat sensasi pusing di kepala aku dan hening suasana yang sepi, dimana ada raden tampak duduk bersila di depan aku sambil memejamkan mata dan secara otomatis otak aku melihat ulang ke belakang kejadian tadi. Mencoba menarik kesimpulan dari asumsi aku sebelumnya dan tiba-tiba aku teringat sesuatu yang sangat penting.

Lalu tidak lama aku ingat dengan risa tanpa membuang waktu aku beranjak meuju pintu. Namun raden masih menahan aku dengan duduk bersila dan kali ini tubuhnya mengambang dengan jarak 30 cm dari lantai. Raden mengatakan jika risa tidak apa-apa dan mereka bilang mereka hanya membuat nya tidur saja. Raden pun mengatakan bukannya tadi diriku ada pertanyaan? Aku mengangguk dan aku tidak tau kenapa aku sangat mempercayai raden. Mereka minta agar aku mendoakan mereka agar tidak ada lagi dendam dan agar mereka bisa pergi dari tempat ini. Mereka sudah menunggu lama orang seperti kamu lama sekali. Kami sudah terlalu lama menunggu hingga rasa dendam dan benci itu semakin menggunung.

Aku pun menganggukan kepala aku dan memahami apa yang mereka rasakan. Raden berdiri sambil melayang dan dia mendekati aku, dia mengatakan agar aku jangan menjadi manusia seperti yang dia tunjukan dan dia ucap kan terima kasih dan sudah percaya pada nya. Dalam sekejab raden sudah hilang dari pandangan aku dan aku mencoba untukmembuka handel pintu itu sekali lagi. Aku berlari menghambur menuju kamar risa yang bersebelahan dengan kamar aku. Aku malah menabrak pintu yang terbuat dari kayu bersebelahan dengan kamar aku dan aku malah menabrak pintu yang terbuat dari kayu tebal hingga menimbulkan suara keras. Sebuah suara risa terdengar dan aku menghela nafas lega karena tidak terjadi apa-apa dengan nya. Aku berteriak agar risa membukakan pintu itu terbuka tampak wajah risa yang terlihat bingung.

Risa merasa dirinya jatuh dari kasur tapi bisa-bisanya tidak bangun dan malah tidur di lantai tadi. Aku jadi ikut bingung antara sengan karena risa sama sekali tidak apa-apa, bahkan tidak mengingat kejadian menakutkan itu dan aku sebel melihat wajah tanpa dosanya setelah apa yang aku alami malam itu. Peristiwa yang aku rasakan seolah memakan waktu seharian itu tidak mengubah waktu dan Tuhan benar-benar baik karena dengan hal aneh yang terjadi seperti barusan dan seiring jalannya waktu aku mulai mengerti dengan apa yang terjadi pada aku. Misteri demi misteri akan terpecahkan seiring pendewasaan aku. Ini seperti mengisi teka teki silang dan setiap kolom akan saling berhubungan untuk mendapat jawaban yang hakiki. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here