100 Hari Setelah Aku Mati Part 78 : Teka-Teki

0
82
bukukita.com

Aku memperhatikan beberapa emban kuli panggul yang memasukan bahan pangan itu ke gerobak-gerobak yang siap di tarik kuda. Kerjaan sedang menghadapi perang untuk meluaskan wilayah ke daerah lain dan demi keegoisan seseorang masyarkat kampung harus menderita dan mereka di haruskan membayar upeti yang sangat tinggi untuk peperangan yang konyol. Mereka harus menyerahkan pemuda untuk di jadika prajurit dan putri mereka yang harus di relakan jadi pecun atau pelayan dan mereka menyebut kebijakan namun aku melihat ini adalah ketamakan dari penguasa.

Kerajaan sekarang terpecah oleh ideologi dan ego dari masing-masing pewaris kekuasaan dan mereka berlomba untuk meluaskan wilayah masing-masing sampai mereka lupa dengan rakyat. Aku menanyakan pada raden apa yang raden lakukan karena dia juga sebagai penguasa. Dan dia menjelaskan jika dia adalah adipati di sebuah kadipaten di wilayah pegunungan dan segala macam cara sudah aku lakukan untuk mencegah ini semua akan tetapi suara aku tidak akan terdengar karena aku hanyalah keturunan sudra.

Lalu aku pun langsung menanyakan padanya sebetulnya apa yang hendak dia katakan pada aku? Namun dia bilang jika nanti juga aku akan tau. Scene berpindah lagi dan waktu berjalan normal ketika bangunan-bangunan itu telah terbakar dan roboh dan itu sungguh hancur dan warga kampung yang sekarang sudah di kumpulkan di tanah lapang. Raden tidak ada di sebelah aku dan dia berada di depan kerumunan warga sambil berlutut dan di depannya seorang pemuda berdiri tegap sambil berkacak pinggang. Suara riuh warga yang seolah ketakutan membuat aku tidak bisa mendengar suara raden dan orang di depannya dan aku berlari menghampirinya. Di kanan kiri terlihat prajurit yang berjaga. Prajurit- prajurit itu berbeda dengan prajurit yang sebelumnya dan mereka menggunakan pakaian berwarna coklat dan masing-masing dari mereka membawa galah setinggi 1,5 meter dengan ujung besi runcing.

Mata aku menangkap kepulan asap hitam di balik beberapa prajurit itu dan mereka seperti membakar sesuatu dan aku melihat potongan tubuh manusia diantara tumpukan benda terbakar itu. Kini memunculkan aroma daging yang terpanggang. Aku sempat kaget melihatnya dan ternyata yang di bakar adalah mayat dari prajurit yang sebelumnya dan aku lihat bertugas membawa bahan makanan tadi. Aku sebisa mungkin menyadarkan diri bahwa ini hanyalah ilusi dan hanyalah gambaran dari masa lalu. Aku berlari lagi ke arah yang berada di tengah lapangan dengan kurang lebih 200 orang warga. 2 bilah pedang di mainkan oleh seseorang, namun raden sam sekali tidak bergerak dan dia hanya duduk saja. Aku semakin mendekat hingga dengan jelas aku melihat tangannya terikat tali rotan.

Dan orang yang satu lagi hanya berkacak pinggang dari tadi namun kini mulai terdengar pembicaraan nya meskipun sama sekali aku tidak tau maksud semua ini. Tampak betul jika dia tidak senang dan tampak marah pada raden. Suara tangis anak kecil dan wanita bergemuruh dan aku tidak bisa melihat pemuda disini. Di kampung ini isinya hanya wanita dan manula. Beberapa laki-laki dewasa tampak tidak sehat dengan wajah pucat dan anggota tubuh yang cacat. Saat itu aku lihat kepala raden di masukan ke dalam sebuah pasung secara paksa dan sebuah mahkota kecil yang menghiasi kepalanya di ambil. Rambutnya panjangnya di potong dengan pisau kecil sampai hampir gundul. Dengan perlakuan kasar seorang bertubuh besar itu dan memotong rambut raden sampai kepalanya berdarah-darah terkena sayatan pisau nya. Aku sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa karena percuma. Ini merupakan memori masa lalu yang di putar kembali dan aku hanya diam sambil melihat untuk mencari sebuah kesimpulan.

Telinga aku sama sakitnya mendengar jeritan minta ampun dari warga kampung itu. Mereka terlihat minta ampun dan aku melihat ke arah mereka yang ternyata juga terikat tali rotan persis seperti raden. Bahkan anak-anak juga di perlakukan demikian dimana suara anak yang menangis memanggil ibunya. Suara ibu yang menjerit manahan tangis memanggil sang anak. Di depan mereka terlihat pemimpin mereka bersimpuh dan di perlakukan seperti binatang dan pasti mereka sangat ketakutan. Suasana semakin ramai ketika orang yang mirip algojo itu mengarahkan pisau kepala raden dan suara jeritan histeris para wanita disana terdengar begitu nyaring. Beberapa diantara mereka bahkan sampai menangis ketika melihat kedua telinga raden terpotong.

Siksaan kejam lainnya yang di terima raden membuat aku merasa ngeri dan aku tidak bisa melakukan apapun dan teriak pun sudah tidak bisa lagi. Aku hanya bisa menutup mata ketika pisau yang berlumuran darah itu menyentuh leher raden. Hanya ucapan astaghfirullah dan hanya itu yang bisa terucap berulang kali dari mulut aku dimana jeritan dan tangisan semakin lama semakin keras. Hal itu memaksa aku untuk membuka mata dan saat kedua mata terbuka aku melihat-lihat 2 orang raden. Satu sosok raden yang masih sehat dan seorang raden lagi yang terbaring bersimbah darah di depan orang-orang yang berkerumun. Lalu raden menjelaskan apa yang terjadi, dimana saat itu dia memberontak dan aku terlalu banyak membangkang. Aku menolak memberikan jumlah upeti yang harus di setorkan dan ini lah akibatnya yang dia terima. Raden menunjuk kerumunan warga dan dia tidak berani menceritakan hal tersebut. Dimana mereka mendapat perlakuan seperti binatang yang di siksa bahkan anak-anak juga. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here