100 Hari Setelah Aku Mati Part 77 : Jawa Dwipa

0
91
bukukita.com

Aku pun mencoba berkomunikasi dengan nya, ketika itu aku menanyakan siapa dirinya dan kenapa datang pada aku? Makhlukitu mengatakan jika dia akan memberitahukan tentang rasa sakit. Rasa sakit dari mereka dan juga darinya dimana itu merupakan sisa-sia dari rasa sakit semasa kami benar-benar hidup. Aku juga bilang jika mereka bukan lah manusia dan belum pernah menjadi manusia. Mereka mengatakan jika mereka setengah dari mereka yang pernah benar-benar hidup namun bukan ruh tapi mereka hanya menyerupai mereka. Aku mengatakan pada mereka jik aku tidak mau membuat perjanjian dengan mereka dan mereka juga bilang mereka juga tidak akan membuat perjanjian apa-apa pada aku.

Namun mereka akan menunjukan pembelajaran untuk aku yang masih hidup dan akan membawa aku ke masa lalu dimana negeri ini. Yang mana negeri ini kaya namun miskin. Negeri yang haus pertumpahan darah dan negeri yang serakah maka negeri yang di huni manusi picik dan negeri rakyat yang sengaja di buat sengsara. Akan susah untuk kalian membayangkan hal ini begitu juga kalian membacanya mungkin akan bilang ini terlalu mengada-ada tapi silahkan percaya atau tidak aku benar-benar mengalaminya. Aku merasakan ruangan berputar seolah seperti pepindahan scene dalam film fantasi dimana ruangan yang awalnya di kelilingi beton kini berubah menjadi papan kayu dan anyaman bambu. Springbed di ruangan itu berubah menjadi dipan bambu dan perkakas nya menjadi dapur yang lama. Sosok yang tadi kini pun berubah bentuk menjadi sosok manusi normal dimana seorang yang mungkin aku perkirakan umurnya 40 tahun, jenggot dan kumis yang menghiasi wajahnya. Rambutnya panjang dan diikat dengan di gulung pada ujung rambutnya dan dia memakai alas kaki bakiak kayu dengan mengenakan celana entah model apa dan aku bingung mendiskripsikan pakaian yang dia pakai. Yang dia kenakan dan dia mengenakan pakaian yang tidak tergambar pada buku-buku sejarah yang sering kalian baca.

Dan dia bertanya apa aku lebih nyaman melihat makhluk itu dengan wujud yang sekarang aku pun mengangguk. Dimana sesekali aku melihat samping kanan dan kiri, aku tidak akan mengurangi tingkat kewaspadaan aku dan masih belum percaya dengannya. Dia mengatakan selamat datang di jawadwipa dan aku melangkah dengan mengikuti kemana dia pergi. Kami keluar rumah dan berjalan di sebuah jalan setapak dimana aku bisa mengingatnya sampai sekarang. Tanah yang masih basah seperti habis di guyur airu hujan dengan pohon-pohon tinggi masih menjulang di kanan dan kiri, aku merasakan semilir angin terasa dingin karena aku berada di waktu sebelum fajar dan tidak bisa aku lupakan adalah bau anyir darah di tempat itu.

Kami masih berjalan cukup jauh dan tidak ada satu pun kata yang terucap dari kami dan aku sebisa mungkin diam sambil menganalisa kejadian ini. Di jalan kami banyak melihat orang dan mereka terlihat seperti prajurit dengan warna pakaian serba hitam. Beberapa dari mereka menunggang kuda yang menarik. Sebuah gerobak dengan roda kayu tanpa ban dan gerobak-gerobak itu mengangkut hasil bumi seperti gabah, kelapa, kapuk, palawija dan lain-lain. Mereka dengan jumlah besar mengabaikan keberadaan aku. Hal ini di karenakan aku tidak kasat mata tapi berbeda dengan raden yang mungkin itu nama nya. Terlihat dari mereka semua menyapa nya ketika bertemu.

Mereka pun memanggilnya dengan nama awal raden dan dia seperti orang yang sangat di hormati disini. Dia bilang inilah negeri kaya tapi miskin dia berucap di belakang aku. Dia bilang hasil bumi disini sangat melimpah bahkan harus di tarik menggunakan kuda untuk membawanya. Aku heran apa yang salah dengan semua ini namun raden mengatakan dengan suara paraunya. Aku berfikir mengenai tujuan dia mengajak aku kesini dan apa kepentingan mereka menunjukan nya pada aku. Mungkin sekitar 1 km kami berjalan dan sampailah kami di sebuah perkampungan. Sebuah gapura kecil menjadi tanda masuk perkampungan itu dan aku melihat sebuah prasasti yang tidak dapat aku baca.

Aksara yang di gunakan jauh berbeda dengan aksara jawa yng sering aku lihat namun bahasa yang di gunakan pun sangat berbdea dengan percakapan orang sunda maupun jawa. Pandangan aku menerawang melihat perkampungan itu dan kanan kirinya terlihat ladang dan sawah yang sudah selesai panen dan aku menelisik ke sistem irigasi yang di buat. Bahkan jaman itu masyarakat sudah punya pengetahuan tentang irigasi. Aku memandang rumah-rumah yang terbuat dari kayu yang berjajar di perkampungan itu dan aku juga raden berkeliling perkampungan dan berjumpa beberapa dari warga yang tampak ketakutan melihat raden. Mereka berlutut dengan setengah jongkok dan raden hanya diam tanpa sedikit pun melirik ke arah mereka yang bersimpuh di kanan kirinya. Aku mengambil kesimpulan ini merupakan era kerajaan hindu yang terlihat dari bangunan pure dan sistem tata rumah yang di bedakan berdasarkan kasta.

Aku langsung bertanya apa dia penguasa disini? Dia menjawab iya namun dia keturunan sudra dan setau aku sudra adalah golongan masyarakat paling rendah dalam sistem masyarakat. Tidak lama raden menunjuk bangunan tanpa atap yang beralas kan ubin batu yang luas dan diatasnya di taruh hasil bumi yang sangat banyak menumpuk dan aku melihat ini seperti sebuah lumbung pangan. Dan raden mengatakan ini yang dia sebut rakyat miskin. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here