100 Hari Setelah Aku Mati Part 76 : Sesuatu Tidak Kasat Mata Di Hotel Bagian 2

0
82
bukukita.com

Aku berteriak dan meminta pertolongan dari luar namun semua masih sama heningnya dengan tadi dan yang terdengar hanya suara kodok dan jangkrik di luar sana. Aku kawatir dengan diri aku dan hal yang membuat aku cemas adalah keadaan risa di kamar sebelah. Tiba-tiba dari arah belakang aku merasakan sesuatu yang hangat dan aura jelek dan aku mendekat kemana energi itu berasal. Jendela yang aura nya negatif dengan segera aku dekati dan aku lupa cerita jika persis di seberang jendela kamar aku ada sebuah pohon besar dan disana sekarang sudah terpampang pemandangan yang mungkin akan membuat pingsan orang yang tidak punya mental bagus dalam hal ini. Aku melihat 1, 2, 3, 4, 5 hingga 19 mayat. Sosok mayat yang di gantung di pohon seperti pria, wanita dan anak-anak. Mereka tergantung di bagian leher dengan seuatas tali di masing-masing kepala. Aku mulai gentar dan aku melangkah mundur dan mulai berkeringat, aku memutar badan berusaha mengalihkan perhatian dari hal mengerikan itu.

Begitu aku memutar badan spingbed yang tadi aku tiduri tiba-tiba bergerak dan persis sama seperti risa. Aku mearik nafas panjang dalam-dalam dan mengambil sebuah garpu roti yang ada di meja dan dengan sesekali lompatan aku naik ke kasur itu sambil menusukan garpu dan membuat sayatan besar untuk melihat makhlk yang ada di dalamnya.

Sebuah kepala yang aku sendiri bingung untuk mengidentifikasinya, berkepala merah daging dan dia bertanduk dan bertaring. Seluruh kepalanya seperti di kuliti kecuali sekitar bibirnya tampak bekas robekan-robekan sisa kulitnya yang masih menempel di bibir yang hanya seperti tertempel. Matanya tidak berkedip karena tidak mempunyai kelopak mata dan telinganya pun tidak punya namun ada bekas potongan di tempat yang harusnya ada di telinga. Makhluk itu tertawa dengan suara menggelegar dan dia muncul dari dalam sobekan springbed itu.

Bau busuk darinya membuat aku ingin muntah dan aku melompat turun dari kasur. Aku berteriak agar dia tidak ganggu aku. Dia mulai memperlihatkan tangan kirinya yang legam seperti di bakar dan tangan satunya hanya sebatas lengan dimana cairan kental berwarna hitam kemerahan menetes dari lengan yang terpotong itu. Dan perutnya seperti buah semangka yang di keruk sendok seperti ada lubang di badanya. Dimana badanya itu memperlihatkan organ dalamnya yang berantakan dan ususnya terburai panjang seperti ada belatung di dalamnya.

Makhluk itu keluar dari dalam kasur dan kakinya panjang sebelah membuat jalannya pincang dan mendekati aku yang perlahan melangkah mundur dan terdapat kesenjangan energi. Dari makhluk ini apabila di banding puluhan mungkin ratusan makhluk hals yang menjadi penghuni disini dan yang satu ini sungguh kuat karena umurnya sudah sangat tua. Tidak jelas apakah dia negatif atau sebaliknya karena situasi aku benar-benar terpojok dimana aku di kepung didalam kamar bersama makhluk kuat yang jelas mempunyai pengikut yang banyak sedangkan dikamar sebelah mungkin risa sedang menjerit-jerit ketakutan karena teror yang ada.

Bulu kuduk aku merinding dan udara di sekitar aku menjadi begitu dingin dimana jantung aku semakin berdetak kencang saat makhluk ini semakin dekat sambil tanganya berusaha menggapai. Dia sama sekali tidak bicara dan dia hanya mengerang seperti menahan sakit. Aku meraih bagian samping aku dan buru-buru mencari cincin pemberian kyai dan aku tidak bisa berkutik karena makhluk itu sangat kuat. Aku berusaha berkomunikasi dengan mereka dan ingin tau tujuan mereka mengganggu kami. Namun lagi-lagi dia tidak menjawab hanya mengerang dengan suara parau dan aku menoleh kebelakang karena dengan panggilan dan aku lihat jendela dan di balik jendela belasan sosok yang tergantung tadi sudah menempel dan mengetok kaca seolah mereka ingin masuk secara bersama-sama.

Dan sosok yang aku takutkan memegang pundak aku. Aku memberontak sambil membaca penangkis dan percuma sama sekali percuma dia malah melanjutkan bacaan ayat kursi yang aku lafalkan. Makhluk itu pun berbicara dengan bahasa yang aku tidak tau artinya. Dia melemahkan pegangannya dan aku melepaskan diri dari pegangannya dimana bagian pundak aku di pegangnya terasa panas sekali dan aku berlari menerobosnya. Aku pun jatuh ke belakang dan sangat sakit rasanya. Kepala aku juga terbentur pinggiran meja dimana aku berusaha berdiri sendiri.

Suara minta tolong sangat ramai dari luar jendela dan makhluk-makhluk di luar berteriak minta tolong dan sosok di depan aku masih mengerang-ngerang dan berbicara dengan bahasa yang tidak aku pahami. Aku merasakan hanya hawa kesedihan dan ketakutan bukan berasal dari aku tapi dari seluruh makhluk itu dan mereka tampak ketakutan dan kesakitan. Aku pun menatap makhluk itu yang sangat mengerikan berada di hadapan aku. Dia berhenti dan melihat aki dengan sorot mata aneh dan cukup sulit di jelaskan pada kalian karena aku saja yang bisa memahaminya. Dan aku yakin mereka tidak bermaksud buruk dan aku pun mengheningkan cipta dan mencoba menekan emosi dan meningkatkan kepekaan indra aku. Makhluk itu menyentuh pundak aku sekali lagi dengan pelan dan bulu kuduk aku merinding kembali dan seketika aku merasakan sensasi dingin di sekujur tulang aku. Aku menutup mata dan membaca beberapa doa dan aku minta petunjuk dan perlindungan Allah dan saat buka mata makhluk itu masih ada dan ada sebuah senyum yang keluar dari bibirnya. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here