100 Hari Setelah Aku Mati Part 75 : Sesuatu Tidak Kasat Mata Di Hotel

0
86
bukukita.com

Bunyi hujan membasahi jalanan yang kami lewati dan entah sudah berapa jam lamanya aku menyetir dan aku sudah memberhentikan mobil aku untuk ibadah beberapa kali dan juga makan. Sampai tidak terasa jam pun sudah menunjukan pukul 9 malam dan kami sudah sampai di daerah jawa barat. Aku memang tidak mengendarai mobil dengan kencang jadi waktu yang di butuhkan untuk sampai rumah dewi akan lebih lama dan tubuh aku sedang tidak fit betul dan beberapa luka juga membuat diri aku tidak nyaman. Tidak lama risa mengajak aku untuk mencari tempat istirahat. Risa menyuruh aku untuk istirahat dulu dan makan baru lah nanti berangkat kembali. Dan pagi nanti barulah berangkat kembali. Aku bilang jika waktu kita bisa molor banyak dan aku bilang memang risa ijin berapa hari? risa bilang jika dia ijin pada ayahnya 2 minggu dan risa mengatakan jika ayahnya yakin jika diri aku bisa menjaga nya. Sama seperti aku yakin kepada aku dan menjaga lahir dan batin, ucap risa.

Malam itu aku dan risa berhasil menemukan rest area dimana pukul 11 malam kami masih menyusuri jalanan kabupaten bandung. Risa pun mengenakan jaket tebal nya karena kedinginan. Kami berhenti sebentar untuk makan malam di sebuah warung kaki lima yang menjual nasi goreng dan cukup lah untuk mengenyangkan perut kami malam itu. Udara malam itu memang sangat dingin di tambah hujan yang sedari tadi tidak berhenti benar-benar membuat aku dan risa kedinginan. Kami berhenti di sebuah penginapan karena risa bersikeras untuk cukup tidur dan jika sudah beginin aku hanya bisa memenuhi keinginan nya. Aku memarkirkan mobil di basemen sebuah hotel yang berada di dekat jalan lintas provinsi. Kami segera check ini dan memesan 2 kamar.

Kami masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat karena rasa lelah dan kantuk. Itulah hal yang paling terasa dan aku merebahkan diri di kasur. Untuk kamar vip hotel ini terlalu murah yaitu 100 ribu semalam dan fasilitasnya cukup lengkap hanya saja dindingnya berkerak dan jarang di bersihkan. Dan sangat disayangkan hotel yang bagus tapi tidak terawat. Rasa yang ngantuk sedari tadi tidak kunjung terlelap, aku hanya jungkir balik di atas kasur. Gerah bukan lah gerah yang sering kali aku rasakan saat kepanasan, gerah ini berbeda dan orang jawa menyebutnya singup. Aku mencoba menghiraukan rasa aneh itu dan memencet tombol ac ke suhu dingin maksimum sambil kembali masuk ke dalam selimut.

Suara itu berada persis di sebelah kasur dimana aku berbaring dan aku melempar selimut yang menutupi seluruh tubuh aku dan aneh baru saja aku menangkap hawa penghuni hotel ini tapi langsung lenyap begitu saja dan hawa singup itu masih tersisa. Ada sebuah jendela kamar dan seingat aku aku sudah menutupi gordenya tapi kini gorden itu sudah terbuka. Itu tidak sama sekali menakutkan namun yang menakutkan merupakan sosok wanita yang ada di luar jendela. Dia bisa di sebut perempuan bermabut panjang dan dia sering menunjukan diri dengan pakaian putihnya. Namun saat ini jin itu mengenakan kain hitam dan dia menempel di balik jendela kamar aku yang berada di lantai 3 hotel ini. Dia menempelkan tanganya yang memiliki kuku panjang berwarna hitam dan tangan satu-satunya tidak henti-hentinya mengetuk kaca jendela kamar aku. Seolah dia meminta perhatian aku dan rambutnya yang panjang dan awut-awutan, wajahnya buruk sekali dengan kepala sompal dan memperlihatkan otaknya yang terlihat pink bercampur noda darah hitam yang mulai mengering dan dia mendekatkan kepalanya dan membuka mulut sambil menjulurkan lidah berwarna ungu kebiruan , dia menjilat-jilat kaca jendela itu dan mereka tau aku sedang tidak sehat. Aku mendekat ke jendela itu dan aku menempelkan tangan ke kaca yang aku sejajarkan dengan tangan makhluk itu dan aku mengamatinya sekali lagi dan memperhatikan bentuk wanita rambut panjang itu. Dia melayang dan rambutnya yang panjang bahkan sampai menjuntai ke tanah yang berada di sekitar 15 meter di bawahnya.

Aku mulai membaca beberapa doa dan seketika makhluk itu menghilang dan dia sudah pergi menjauh dan aku melangkahkan mundur dan duduk di kasur sambil meminum segelas air putih yang ada di meja dekat ranjang. Aku menyemburkan air itu karena rasanya tidak enak dan berbau. Bau nya seperti bau pesing dan lagi-lagi mereka mengerjai aku. Aku menelpon pelayan kamar dan yang menjawab hanya suara tertawa dan aku langsung membanting gangang telepon itu dan berjalan menuju pintu. Tiba-tiba pintu pun terkunci dengan sendirinya. Namun aku masih bisa tenang dan aku mencoba menarik nafas dalam-dalam dan mulai membaca amalan doa dan tiba-tiba suara telepon berdering dan benar saja itu risa yang sedang ketakutan dan mengatakan jikan di bawah kasurnya ada sesuatu. Ternyata risa juga di ganggu dan disini aku mulai kawatir dan coba menenangkan risa. Dan saat aku cek di bawah kolong aku tidak mendapatkan apa-apa. Karena risa sudah sangat takut maka aku pun mendobrak pintu depan aku dan berharap akan terbuka seperti pada film yang sering aku liat dan ternyata tidak terbuka tapi lengan aku malah sakit namun pintu tidak terbuka. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here