100 Hari Setelah Aku Mati Part 74 : Touring Bagian 3

0
76

Setelah mendengar saran risa dengan cepat aku menjawab nya setuju, namun risa bilang dia harus minta ijin dulu dengan ayahnya karena jakarta itu tidak dekat. Selain itu harus mempersiapkan sesuatu karena tidak mungkin hanya bawa badan saja. Singkat cerita risa dan aku hanya menghabiskan waktu berdua di rumah aku, kita nagapain saja? dan keesokan hari nya risa mendapatkan ijin dari ayahnya untuk pergi ke jakarta dengan aku dan ayah risa mengijinkan namun hati-hati di jalan. Ayahnya bilang jangan ngebut dan beliau sudah percaya sekali dengan aku. Setelah perlengkapan sudah selesai semua aku dan risa pun segera berangkat.

Sebelum berangkat risa dan aku berdoa ketika akan menyalakan mesin mobil. Dan selalu ketika aku akan melakukan sesuatu risa selalu tersenyum manis kepada aku dan aku pun sebaliknya begitu juga. Sebuah mp3 player di mobil itu mulai bersuara keras dengan mengumandangkan lagu-lagu barat lama kesukaan aku dan risa yang berada di samping aku terlihat senyum-senyum sendiri. Aku memperhatikan risa yang sudah sedikit berubah dan dia sudah tidak bawel lagi seperti dulu, meskipun menurut aku tetap cerewet. Tapi paling tidak kadar kecimelannya sedikit. Berkurang daripada masa-masa SMA dulu dan dia sudah tidak lagi menjadi tukang komentar karena seingat aku dulu dia sering mengomentari hal-hal remeh yang tidak penting seperti ibu-ibu.

Naik motor boncengan tiga, orang pacaran sambil naik motor dan hal-hal yang paling tidak penting lainnya. Sekarang ini dia menjadi pribadi yang lebih tenang dan tuntutan menjadi mahasiswi menjadikan dia menjadi personal yang lebih dewasa dan aku sangat menyukainya. Risa juga bilang apa kita buru-buru? Aku bilang padanya jika kita tidak terburu-buru lagi pula kita kesana juga tidak bilang sama dewi juga. Jadi kita berdua bisa jalan dengan santai karena ayah kamu tadi sudah ngewanti-wanti aku untuk tidak ngebut. Lalu risa mengatakan apa ayah ngelarang kita buat mampir maen bentaran di perjalanan? ternyata risa ingin main ke tetep dan padahal posisi kita sudah di bantul. Aku jadi bingung mendengar permintaan risa yang nyeleneh. Risa memaksa terus dan jika tidak di turuti dia mengancam akan ngambek dengan aku.

Akhirnya kita langsung on the way ke ketep. Aku menghentikan mobil di sebuah tempat kosong di pinggir jalan sambil menaruh jidat aku di setir dan daripada aku pusing mendengar ocehan risa jadi aku putuskan putar balik mobil aku dan menuju ke jalan godean dan langsung berangkat menuju ketep di daerah magelang. Padahal kita mau ke arah barat ini harus ke utara dulu. Aku pikir setelah permintaan tuan putri tadi sudah terpenuhi dia tidak akan cerewet namun aku salah dia malah semakin mengoceh dari sebelumnya. Risa bilang jika disana dia ingin memakan jagung bakar lalu minum teh sambil liat pemandangan. Tiba-tiba terhenti ternyata dia ingin foto tapi melihat wajah aku yang bonyok-bonyok maka dia tidak jadi foto.

Begitulah anak ini dan bisa menjadi pribadi yang berubah-berubah dimana dia menjadi sangat pintar. Tapi juga bisa menjadi tegas sekaligus cengeng. Menjadi tenang dan dewasa tapi juga bisa menjadi cerewet dan manja. Beberapa hal yang membuat dia menjadi cewek paket komplit merupakan kesederhaannya, kesetiaannya dan pengertiannya. Dia juga tipe cewek yang tidak suka meributkan hal-hal sepele dan dia bukan penganut paham wanita selalu benar dan dia penurut dan selalu mau koreksi. Jam sudah menunjukan pukul 9 pagi setelah kami sampai di ketep dan jika tidak salah kita berangkat dari rumah risa sekitar pukul 6 pagi dan sampai di lokasi aku menghirup. Nafas dalam-dalam sambil melihat pemandangan secara tidak sadar aku lafalkan subhanallah karena meliat pemandangan yang sangat bagus, cantik dan indah.

Risa mencolek aku di bagian perut yang masih sakit sambil cengar cengir. Risa meminta maaf karena tadi dirinya sangat cerewet dengan memaksa aku dan risa bilang dia merasa lama banget tidak mempunyai quality time bareng. Dan menurut nya 3 minggu itu tidak lama. Di tambah masing-masing dari kita ada kesibukan dan aku tidak mau jadi penghalang aktivitas dan kesibukan aku, ucap risa. Aku sekuat mungkin akan selalu mendukung kamu tapi tidak ada salah nya kita memanfaatkan momen ini. Risa menggenggam tangan aku dengan kuat dan kami saling berpandangan dan sama sekali tidak berbicara tapi entahlah karena ada sebuah pesan yang tersampaikan dari kebisuan kami. Hal ini seperti seolah tanpa kita mengatakan saling sayang.

Jam sudah menunjukan pukul 10.30 aku dan risa setelah melanjutkan perjalanan, aku berusaha konsentrasi nyetir sambil sesekali melirik ke arah risa dimana dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dan dia terus-terusan tersenyum. Dia tertawa sambil melihat hasil gambar dari kamera pocket yang di bawa nya. Risa pun berusaha menunjukan sebuah hasil gambar pada aku dan dia meletakan layar kamera itu 10 cm dari wajah aku yang sedang khusyuk menyetir. Aku pun kembali fokus ke jalanan dan setelah beberapa lama berkendara dan entah sampai daerah mana aku menghentikan mobil di sebuah masjid untuk sholat dzuhur. Aku pun segera sholat namun risa masih berhalangan maka dari itu dia tidak solat. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here