100 Hari Setelah Aku Mati Part 73 : Touring Bagian 2

0
83
bukukita.com

Om hamzah menanyakan dimana aku berlatih bela diri? ayah risa bilang jika mereka kewalahan sampe terpakasa harus mukuli aku biar nurut, namun saat itu ayah risa membuka pembicaraan dengan santai. Om hamzah pun bilang jika aku harus bisa menjaga diri agar tidak kebablasan saat melawan musuh. Risa pun kesal karena ayahnya menasehati diriku untuk berkelahi bukannya jangan berkelahi. Risa sambil mengacungkan kepalan tangan nya kepada aku jika aku bertengkar lagi. Aku bilang jika aku bertengkar karena untuk membela dia dan om hamzah pun yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak. Aku dan risa hanya bisa tersenyum kikuk karena komentar om hamzah. Tidak lama om hamzah berangkat kerja karena hari ini ada kepentingan dan agar kita juga tidak terganggu.

Risa jangan marahin rizal trus, ucap ayah risa. Risa mengajak aku ke ruang tengah sambil menyalakan tv dan dia duduk dan masih cuek pada aku. Tampaknya mood nya masih jelak dan cewek yang sedang pms memang susah. Aku mengalihkan pandangan ke layar tv karena risa sedang tidak bisa di ajak kompromi jika tidak salah program reality yang saat itu aku lihat sangat populer di tayangkan. Risa mendekatkan tubuhnya pada aku dan memegang tangan aku sambil menyenderkan dagunya kepundak aku. Dan saat risa membisikan kangen ke telinga aku, aku merasa senang karena risa berubah mendadak menjadi manja. Risa pun mengomentari jika badan aku tambah besar dan berisi.

Risa hanya tersenyum sambil mempererat pelukannya. Risa juga menyakan berapa hari aku berlibur ke Indonesia? dan aku bilang jika aku libur 3 minggu dan risa merasa senang karena masih ada waktu lama bersama dengan aku. Ketika aku mau mengajak risa jalan risa menolak karena katanya wajah aku masih biru-biru takut di sangka dirinya jalan dengan maling yang abis di masa. Obrolan kami pun berlanjut dengan seru dan rasa kikuk yang sempat hadir kini sudah hilang, aku dan risa seperti mengabaikan kejadian semalam dan semua hanya salah paham dan tidak merusak hubungan aku dengan risa 1,5 tahun berpisah. Kini wajah cantik yang selalu ada di setiap angan aku benar-benar berada di depan aku.

Senyuman nya dan tawanya benar-benar membuat rasa kangen yang aku simpan menjadi terobati, ternyata sikapnya hampir sama fisiknya memang bertambah ayu tapi sifat lembut sekaligus sadisnya mungkin tidak bisa hilang. Dimana bagian perut yang terluka risa masih saja tega mencubit dengan gemas. Risa bilang dirinya gemas dengan diri aku. Aku pun memainkan rambutnya sambil mendekatkan tubuh aku kepadanya dan bau harus dari rambutnya mengingatkan aku dimana dulu kami sering menghabiskan waktu bersama. Risa menanyakan aku pulang kesini dengan siapa? akhirnya aku segera pulang ke rumah karena setelah kejadian aku dengan ari aku melupakan temen aku dewi yang ada di rumah aku. Aku dan risa berangkat menggunakan mobil aku tapi yang berbeda saat ini yang nyetir adalah risa. Dia sudah cukup mahir menyetir setelah di latih nyetir oleh ayahnya. Risa pengemudi yang tidak patut di contoh karena dia bawa nya selalu ngebut terus dengan gaya salib kiri dan salib kanan sampe ada bis besar berjejer tiga juga dia salib dari kanan.

Aku hanya bisa mengucapkan istifar karena pacar aku ini benar-benar mengancam hidup aku. Dan akhirnya setelah 15 menit yang benar-benar menakutkan kami sudah sampai di rumah aku dengan pagar yang terkunci.Aku memencet bel berkali-kali untuk memanggil dewi yang mungkin sedang melakukan kegiatan lain di dalam rumah. Dan sama sekali tidak ada jawaban, kemana dewi apakah dia tertidur setelah aku dan risa beberapa lama menunggu akhir seseorang muncul namun bukan dewi melainkan pak sodiq yang datang dari rumahnya dan menghampiri kami. Pak sodiq yang datang menghampiri kami. Pak sodiq bilang jika aku di tunggu temennya dari semalem tapi malah tidak pulang dan dia di titipin kunci sama surat ini.

Tadi temen nya mas harus pergi karena ada kepentingan, ucap pak sodiq. Tidak lama pak sodiq memberikan kunci rumah dan sebuah amplop berisi surat dari dewi. Semalem ada insiden sampai bonyok, ucap aku ke pak sodiq. Aku dan pak sodiq mengobrol selama beberapa menit sampai tetangga aku ini pamit masuk rumahnya. Aku pun membuka amplop dewi dan di dalam ruang tamu dengan risa dimana kami saling berpandangan sampai risa menganggukan kepala dan aku mulai membuka surat itu.

Isi surat itu yaitu dewi pamit pulang dan dirinya sudah mencoba menghubungi nomer aku namun tidak bisa, dia minta maaf karena harus buru-buru pulang ke Jakarta, karena pengasuh panti nya kerepotan disana dan sedang banyak anak sakit. Maka dari itu dirinya harus pulang dan oleh-oleh yang sudah dia beli ketinggalan di mobil dan dia minta tolong bawakan ketika kembali ke ausi karena di liburan selanjutnya mau dia bawa kembali buat anak-anak nya. Dia juga mengucapkan terima kasih karena sudah boleh mampir ke rumah nya. Aku dan risa pun kembali saling berpandangan dan risa pun menegor jika jadi tidak enak. Aku bilang jika dewi ketika itu membeli baju banyak untuk anak panti asuhan. Tidak lama risa mengajak aku untuk membawa barang-barang dewi. Bersambung di cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here