100 Hari Setelah Aku Mati Part 71 : Bertarung Diluar Gelanggang Bagian 2

0
79
bukukita.com

Risa pun berteriak melihat aku berdarah dan aku masih diam dan berusaha mengontrol emosi aku karena jika sampai aku kalap maka aku akan menjadi sangat liar. Risa pun marah dan mendorong ari yang hanya tersenyum sinis sambil meremehkan aku. Teriakan dan suara rebut dari mereka mengundang perhatian teman-teman arid an banyak mahasiswa lain yang kebetulan ada di dekat situ berdatangan. 3 orang cowok yang sepertinya adalah teman ari menghampiri kita dengan berlari dan di susul orang yang lainnya. Ari pun bilang dengan memanggil aku si culun membuat onar di kampus kita. Ari menyuruh teman-temannya tadi langsung terpancing emosi karena provokasi ari dan risa hanya menjerit-jerit melihat aku di bawa paksa ke pojok kempus untuk di hajar beramai-ramai. Seseorang dari mereka menghalangi risa agar tidak mengganggu mereja dan aku pasrah tapi bukan berarti aku takut dan aku memang belum melawan namun aku ingin melihat mereka puas dahulu.

Dari kejauhan tampak gerombolan mahasiswa lain yang berkerumunan karena melihat kejadian itu dan lucunya mereka tidak berbuat apa-apa. Mungkin ari merupakan preman kampus ini. Bahkan mereka mengancam yang lain agar jangan memanggil satpam karena nasib yang lain akan sama seperti aku itu yang aku dengar. Kemudian pukulan pertama mengenai pelipis aku dan sebuah tendangan dari seorang yang bertubuh tambun membuat aku tersungkur. Sebuah teriakan dari ari terucap dan diikuti dengan pukulan juga tendangan dari beberapa temannya. Aku yang sudah terbaring hanya diam sambil mengerang karena sudah tidak terhitung berapa pukulan mentah yang aku terima.

Namun aku masih menunggu sampai mereka kelelahan memukuli aku dan jikan kalian tanya apa diri aku kesakitan? jawabannya tidak tau atau tepatnya aku tidak ingat karena jika aku sudah marah maka keluarlah sisi gelap dari aku dan sudah pasti kalian semua mempunyai sisi gelap. Aku berdarah disekujur wajah mulai bangkit dan aku menatap wajah ari dan beberapa temannya dengan tajam. Tangan aku bergetar karena sudah tidak bisa lagi menahan rasa marah. Seorang yang hampir setinggi aku memukul perut bagian atas aku dan sebelum tinjunya menyentuh aku dan aku sudah menghalanginya terlebih dahulu dengan kepalan tangan aku ke walayah perutnya. Dia jatuh sambil memegangi perutnya dan beberapa pukulan lain dari aku membalas semua pukulan-pukulan mereka. Tidak ada yang berani membalas lagi pukulan yang aku berikan kepada mereka tampaknya memberi rasa sakit luar biasa buat mereka. Terkecuali ari dan aku menyimpannya untuk bagian akhir.

Itu membuat tamparan dia karena sudah menyakiti risa mereka masing-masing aku hajar dari lutut hingga wajahnya yang membuat mereka semua terlentang. Entah kenapa pukulan aku yang aku berikan ke mulutnya sudah memenuhi darah pada kepalan tangan aku dan terlihat giginya banyak yang rontok karenan tidak kuat menahan benturan pukulan aku. Aku yang sudah mustahil berfikir jernih saat itu tidak menghiraukan teriakan ampun dari ari yang sudah setengah pingsan. Aku masih jongkok di atasnya sambil meninju mulutnya berkali-kali. Di situ lah yang membuat kata-kata kotor kamu yang kamu ucapkan pada risa. Aku berdiri dan berjalan menjauh sambil melihat 4 orang teman ari yang hampir tidak bisa berdiri lagi. Namun saat itu aku belum cukup puas dan entah setan macam apa yang merasuki aku. Bukannya merasa cukup aku sambil tertawa malah mengambil sebuah batu sebesar bola sepak dan mengangkatnya tinggi-tinggi di depan ari yang sudah tidak berdaya.

Sebuah teriakan melengking membuat aku yang sudah siap menjatuhkan batu ke kepala ari menjadi teralih dan sedikit menurunkan tangan tapi dengan posisi batu. Si besar itu tetap persis diatas kepala ari yang terkapar dan mulai kejang. Tampak puluhan orang berlari ke arah aku dengan tatapan takut melihat 5 orang terlentang di sebuah lapangan basket dan seseorang berseragam putih dan bercelana biru memegangi aku. Dan ada juga temannya berusaha mengambil batu yang aku bawa. Aku mendengar ucapan risa dengan menyebut istifar dan suara-suara yang lain tidak aku hiraukan. 3 orang secuirty berhasil merebut batu yang aku pegang dan 2 orang lagi memegangi tubuh aku dan seperti aku belum fokus dan rasa amarah masih memenuhi dan seakan membakar sekucur tubuh aku.

Beberapa mahasiswa memeriksa si ari yang hanya bisa mengeluh kesakitan dan aku yang masih kesetanan sontak melepaskan diri dari pegangan 2 satpam berbadan gempal itu. Begitu tau jika ari masih bisa bergerak dan baru kali ini juga aku mengeluarkan emosi se frontal ini seakan emosi yang tertimbun lepas dan tidak bisa terkendali lagi. Dan pengalaman pertama aku dimana saat itu aku benar-benar ingin membunuh seseorang. 2 orang satpam tidak cukup kuat menahan aku selain postur aku yang sangat bongsor, aku tidak mudah di tahan oleh siapa pun. 3 orang security lain memanggil aku dengan kasar hingga membuat aku tidak segan menyerangnya. Saat itu aku tidak menjadi diri aku sendiri hingga aku berhasil membuat 5 orang satpam kelimpungan dan puluhan orang-orang yang berkerumun itu sama sekali tidak berani mendekati aku. Aku semakin mendekat dengan ari dan dia mulai berusaha lari dari amarah aku. Karena permintaan ampun nya tidak akan mengetuk hati nurani aku yang penuh dengan emosi ini. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here