100 Hari Setelah Aku Mati Part 70 : Bertarung Diluar Gelanggang

0
48
bukukita.com

Risa membuat beberapa pertanyaan keluar di otak aku dan tampak dia tidak gugup dan malah tidak membuat alasan namun dia tidak menjawab pertanyaan aku. Aku menjalankan mobil aku untuk menuju ke kampus risa yang berada di jogja utara dan benar saja suasanan yang hening. Risa yang aku kenal merupakan perempuan yang sangat bawel tapi sekarang dia hanya diam saja. Ingin rasanya aku memecah kebisuan dan menganggap semua ini sudah berlalu tapi ego aku tidak bisa menampik kejadian itu, entah apa yang membuat risa meminta aku untuk mengantar nya ke kampus karena aku yakin ada maksud yang ingin di sampaikan risa. Dam tidak terasa kami sudah sampai di parkiran kampusnya risa, universitas swasta yang cukup besar menurut aku. Risa bertanya apa aku sudah makan? saat itu risa mulai berbicara pada aku dan kami tengah berjalan dimana aku tidak tau akan di bawa kemana oleh risa.

Risa juga bertanya apa aku sudah solat magrib dan seketika aku menjawab jika belum. Aku pun menanyakan masjid pada risa dan risa menunjuk jika masjid ada sebelah sana dekat dengan mahasiswa juga dan aku di suruh risa untuk mengikutin nya. Aku sedang berhalangan shoalt , ucap risa saat itu. Setelah selesai sholat risa menyuruh aku menemui nya di gedung perpustakaan gede itu dan semua pertanyaan aku akan di jawab nya disana. Lalu tanpa menunggu aku menjawab risa langsung berjalan perlahan menuju auditorium tanpa menoleh ke arah aku sama sekali. Aku termenung beberapa saat melihat risa berjalan dengan anggun dan baju seragam keperawatan miliknya membuat dia terkesan lebih seksi dari biasanya. Aku baru sdar saat seorang mahasiswa lewat di depan aku dan aku buru-buru berjalan menuju masjid kampus.

Selesai sholat aku masih duduk di pelataran masjid sambil melamun dan sejak sore tadi aku jadi banyak melamun. Aku buru-buru memakai sepatu dan berjalan menuju audiotorium yang risa maksud tadi. Aku berjalan pelan sambil sesekali pandangan aku menyisir lingkungan kampus risa banyak makhluk goib disini sama seperti bangunan tua pada umumnya. Aku melewati sebuah bangunan kecil yang tidak tau apa itu. Aku sampai di sebuah lorong dan berpapasan dengan banyak mahasiswa dan mahasiswi yang masih lalu lalang. Aku sempat bingung apa disini perkuliahan sampai malam? aku memasuki audiotorium itu sambil tolah toleh untuk menemukan sosok risa diantara sekian banyak mahasiswa yang berjibun banyaknya.

Sepertinya mereka sedang menyiapkan stage acara dan tampak beberapa sedang memasang sound system dan dekorasi panggung. Aku masih celingukan mencar risa dan sampai akhirnya aku menemukan sosok yang sangat aku kenal meskipun bukan dia yang aku cari tapi setidaknya bisa aku tanyai. Aku mnedekati nya yang sedang sibuk menghias kursi tamu sehingga tidak menyadari kehadiran aku di belakangnya. Susi kaget melihat aku ada di kampusnya dan dia menanyai aku dan menyuruh salah satu teman nya menggantikan aku. Susi bilang jika aku mencari risa ini bukan waktu yang tepat sekarang karena dia sedang bersama ari di samping ruangan ini dan kamu bisa kesana lewat pintu yang di pinggir itu, ucap susi. Panggilan susi membuat aku menoleh ke arahnya. Susi menawarkan pada aku untuk menemani aku.

Namun aku bilang tidak usah karena aku bisa cari sendiri seperti obrolan kita kemaren. Aku berusaha mencari risa setelah berhasil melewati pintu samping yang di maksud susi tadi dan itu dia dari kejauhan ada risa dan pasangan baru nya sedang bicara. Di lorong seberang perpustakaan dekat auditorium dan sebenarnya aku sedikit marah bercampur penasaran. Aku bingung apa maksud dari risa, apa dia ingin mengenalkan aku pada ari secara langsung?

Mau mengatakan jika dia sekarang sudah memilih orang itu dari pada aku, jika itu maksud risa aku menyesal mengantarkannya ke sini tapi rasa penasaran aku lebih. Besar hingga membuat aku mendekati mereka berdua. Aku semakin dekat dan sayup-sayup terdengar obrolan mereka dengan nada tinggi. Risa tampak memegangi pipinya sambil menunjuk-nunjuk ari. Dan di situ feeling aku sudah tidak enak dan aku yang semula hanya berjalan malas kini mulai berlari dan ingin segera mengetahui nya. Sebenarnya apa yang terjadi karena risa berteriak dan menunjuk-nunjuk wajah ari yang terlihat emosi sama seperti risa. Aku bilang apa yang terjadi risa? seru aku setelah aku cukup dengan mereka. Ari yang tau bahwa aku datang langsung melotot dengan wajah geram.

Lalu aku tanya pipi risa kenapa? Aku panik melihat seperti kesakitan sambil memegang pipinya. Tidak lama ari bilang jika aku cowok culun kemaren dan aku di anggap punya nyali telah datang. Dia berteriak sambil berusaha memegang kepala risa. refleks pertama aku adalah menampik tangan itu jangan sampai menyentuh risa lagi. Aku tidak peduli dengan siapa ari sebenarnya karena saat itu dia menyakiti risa secara fisik maka dia baru saja membangunkan macan tidur yang ada dalam diri aku. Dia memukul mata aku yang tertutupi kacamata dan membuat kacamata tebal aku pecah berantakan. Aku merasakan cairan kental menetes melewati pipi aku. Ternyata sekeping pecahan lensa menggores kulit samping mata aku dan membuat luka gores yang cukup dalam. Bersambung ke cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here