100 Hari Setelah Aku Mati Part 7 : Smp Yogyakarta

0
5
bukukita.com

Singkatnya bapak menurunkan bawaan aku dan meninggalka aku disini sebelum bapak dan sari pergi sari pun membisik aku sesuatu agar aku berhati-hati. Mereka pun meninggalka aku disini dan disini aku hanya 2 minggu tapi batin aku seperti di rawat kembali dan aku lebih segar. Di dalam aku seperti ada penyesalan, marah, malu, takut seperti menguap begitu saja. Aku di ajari bagaimana mengusir makhluk halus yang jahat dan di ajari ilmu alam dan banyak lagi tentang agama dan tidak akan di tulis disini. Aku kembali ke rumah seperti dengan pribadi yang lebih baik. Bulan juli yang membuat aku berat meninggalkan rumah dinas tua ini yaitu sari, dia Nampak bermain di ayunan yang sekarang terlihat kekecilan ketika dia menaikinya. Ketika aku memanggilnya sari bilang dia sudah mengetahui nya dan dia pun mengangguk sambil tersenyum juga memainkan rambutnya. Sari berdiri dan menghampiri aku dan sari bilang jika rumah disini dan jika aku harus pergi sari bilang tidak apa-apa. Sari bilang kita akan selalu bisa bertemu dengan cara mengingat aku dan doakan aku lekas mendapat tempat. Aku pun berkata jika aku tidak mempunyai teman lain selain dia.

Sari mengatakan jika aku sudah besar dan aku akan lebih mudah dapat teman baru di tempat yang baru besok. Sari pun bilang jika dirinya akan sering-sering mengunjungi aku. Singkat cerita aku meninggalkan sari hari itu dan mobil ini melaju membawa aku ke tempat yang baru, tempat dimana aka nada cerita baru di dalam hidup aku. Aku pun berbisik agar sari menepati janji nya pada aku. Aku pun melambaikan tangan aku kepada sari yang berdiri di depan rumah. Dengan wujud anak kecilnya dan dia sosok teman pertama aku yang cukup baik bahkan bukan manusia. 2002 aku resmi tercatat sebagai pelajar smp negri terkemuka di kota jogja. Seperti anak baru di sekolah lainnya aku juga mengalami yang namanya mos. Masa yang harusnya di jadikan sebagai orientasi atau pengenalan sekolah Nampak nya di manfaatkan betul oleh senior-senior untuk mengerjai kami.

Masa smp aku terasa lebih baik karena kau dapat membuat imej baru disini setelah aku belajar ilmu batin memang pembawaan aku lebih tenang. Aku tidak lagi berkeringat dingin sepanjang hari karena gelisah dan aku tidak lagi bicara sendiri karena aku bisa menahan gejolak di hati saat melihat makhluk halus. Aku jadi lebih bisa melihat dunia dengan lebih baik. Aku belajar bahwa hidup aku aka nada warna baru dan hidup aku di masa lalu boleh kelam, boleh menyedihkan tapi aku tidak akan membuat hal itu berlarut dalam kehidupan aku. Tapi apakah itu akan merubah cerita aku sebagai indigo? tentu tidak. Setiap umur aku bertambah aku merasakan kepekaan aku semakin menguat, jika dulu aku hanya dapat melihat makhluk halus maka saat smp aku seperti mendapat kutukan baru.

Kelas 1 smp aku sudah mengenakan seragam putih biru sekarang ya seperti pelajar kelas 1 lainnya dengan seragam yang masih baru dan kedodoran kisah baru aku di mulai. Sekolah aku adalah sekolah yang sudah sangat tua dan sekolah ini di bangun sekitar awal 1900 an untuk menyekolahkan pribumi bangsawan di masa itu dan pengalaman-pengalaman mistis juga mulai aku alami. Waktu itu adalah hari pertama aku bersekolah setelah 3 hari di plonco habis-habisan. Aku berjalan dari parkiran sepeda menuju kelas aku, aku mendapat kelas A dimana sebelum masuk kelas aku ke kamar mandi dulu untuk pipis. Pintu kamar mandi di buka dan apa yang aku lihat tidak seperti kamar mandi itu lebih mirip ruang tamu lengkap dengan penghuninya. Di dlama kamar mandi terdapat 4 makhluk yang pertama adalah seorang wanita yang duduk di pinggiran bak mandi yang nampaknya tidak bisa duduk dengan benar karena tubuhnya seperti terpotong setengah. Namun bagian pinggan sampai kepala dan memperlihatkan pula darah berwarna merah pekat menetes dan membanjiri lantai dinding dan bak kamar mandi hingga membuat airnya berwarna merah.

Darah itu menetes dari bawah perutnya dan mengalir ke bawah tanpak normal dan hanya tidak berpakaian dengan sorot matanya datar. Mereka tampaknya lumpuh karena mereka bergerak menyeret tubuhnya dengan tangan tangan dan yang terakhir adalah seorang laki-laki berwujud tua tanpa rambut tanpa telinga dan tanpa hidung. Dia hanya mempunyai 2 buah bola mata tanpa kelopak yang menghiasi wajahnya. Aku kembali risih karena mereka menatap aku aneh seolah penasaran dengan siapa aku ini dan kenapa bisa merasakan mereka. Dan akhrinya aku urungkan niat aku untuk pipis dan aku menutup kembali pintu kamar mandi dengan setengah membanting nya karena aku juga tetap merasa takut. Aku berjalan menuju kelas aku dengan setengah berlari aku berhenti di pintu kelas aku. Ada sebuah papa di atas pintu yang bertuliskan kelas 1A. Aku melamun sejenak dan berharap semoga saat aku masuk tidak ada tatapan menjijikan melihat aku. Semoga tidak ada lemparan kapur ke kepala dan semoga aku tidak di ejek saat aku masuk. Semoga tidak ada yang aku ajak bicara atau paling tidak ad yang sekedar meu mebalas sapaan aku. bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here