100 Hari Setelah Aku Mati Part 69 : Tatap Muka Bagian 2

0
90
bukukita.com

Aku hanya menunduk sambil mengiyakan perkataan nya dan lewat secangkir kopi dewi mengajarkan aku akan sesuatu hal yang penting. Dewi berdiri dan measuk ke dalam rumah kembali. Dan saat itu di depan pintu dewi sambil menutup pintu depan mengatakan jika aku sebaiknya juga menjaga perasaan risa dan jangan sampe dia salah sangka karena liat aku disini. Intuisi dewi rupanya memang lebih tajam dari pada aku dan begitu dia menutup pintu sebuah taxi berhenti di depan pagar dan menurunkan seorang yang ak kenal yaitu risa. Selama satu setengah tahun ini merupakan pertemuan kedua aku setelah di kafe itu dan risa masih sama saja. Risa tidak sama sekali berubah malah dia bertambah cantik jelita. Aku berdiri di teras dengan perasaan campur aduk dan senang, akan tetapi terganjal oleh ego aku sendiri.

Saat itu kami sama-sama mematung dan dia masih saja di luar pagar yang sengaja tidak kututup. Dengan seragam putih khas anak keperawatan dia melihat aku dengan ekspresi wajah unik. Dia seperti tersenyum tapi tertahan perasaan lain dan mungkin gejolak perasaan kami sama-sama tidak menentu dan risa membiarkan rintik gerimis menetesi tubuhnya yang masih berdiri kaku. Aku berjalan satu langkah ke depan dengan di ikuti risa yang mulai berjalan dengan kikuk. Langkah kakinya pelan selangkah dua langkah tiga langkah dan seterusnya membuat langkahnya semakin cepat, bahkan dia bisa di bilang berlari dan aku sendiri seperti tertarik sebuah dorongan yang tidak kasat mata dan ikut berlari menghampiri risa.

Risa menabrak aku dan memeluk tubuh aku sangat erat dan aneh beberapa saat lalu aku benar-benar merasa ingin mengakhiri hubungan aku dengan risa tapi begitu aku di depannya aku malah merasa sebaliknya dimana aku merasa lebih mencintain nya melebihi apapun. Risa tidak mengatakan apapun dan aku pun demikian. Risa hanya diam dan memeluk aku dan wajahnya yang cantik dia tekan ke dada aku dan itu terasa hangat. Perasaan yang timbul adalah hangat dan sudah lama sekali tidak menatapnya secara langsung dan sedekat ini. Aku seketika bertanya dalam hati bagaimana bisa emosi ini hilang seketika. Dan basah merupakan hal kedua yang aku rasakan. Bukan secara harfiah tapi benar-benar basah karena risa menangis dan dia memang gampang menangis terbawa suasana.

Entah berapa menit risa mendekap aku dengan sangat kuat tanpa bicara apapun dan aku hanya bisa membalas pelukan nya dan mengelus lembut kepalanya. Mas merupakan kata pertama yang keluar dari mulut risa. Pikiran aku kosong dan aku tidak dapat berfikir jernih untuk membalas ucapan risa. Risa bilang jangan tinggalin aku karena diriku sudah salah paham. Lalu aku bilang jika aku sudah paham dan aku bilang dia jangan menangis. Dan aku bilang jika dirinya bahagia dengan nya aku iklas. Tubuh risa seperti bergetar dan dia sontak mengangkat kepalanya untuk menatap aku dimana dia terlihat wajahnya yang benar-benar basah oleh air mata. Risa pun meminta ngobrol karena akan ada yang dia sampaikan dengan suara yang serak.

Aku pun menurut dan ingin mendengar argumen nya dan risa selalu membujuk aku dari dulu memang aku selalu tidak bisa menolak permintaan nya. Tapi aku mengajak nya bicara di luar dan tidak di rumah. Risa pun menuruti perkataan aku dan dia tidak seperti biasa nya, dia menjadi sosok pendiam saat ini. Aku membuka kan pintu mobil yang belum aku masukan ke garasi dan risa duduk di sebelah aku di jok depan dengan mobil keluaran 90 an itu melaju pelan. Bisu itulah momen yang benar-benar bisu dan kikuk dan ini merupakan momen pertama aku dengan nya karena biasanya risa selalu membrondong aku dengan apa yang ada di benak nya.

Kami sama-sama mematung tanpa sepatah kata yang keluar dari mulut kami, entahlah seperti ada perasaan tidak enak. Aku memarkirkan mobil di bawah sebuah pohon yang ada di pinggiran jalan dan aku mengajak risa ke taman dekat komplek rumah nya. Di tamana inilah dulu aku dengan risa menghabiskan waktu bersama kami. Aku sambil menunjuk sebuah hamparan rumput manila yang terlindungi rimbunya pohon cemara udang di sebuah sudut taman itu, aku mengingatkan nya kepada risa. Risa mengatakan jika dirinya ingat bahkan aku sering kesini karena tempat ini sebagai saksi pada saat diri aku tidak akan ninggalin kamu, seketika aku tertegun mendengar jawaban risa.

Aku mengajaknya duduk di hamparan rumput dan sedikit basah karena hujan tapi kami tidak peduli. Aku pun mengatakan jika aku memang tidak akan ninggalin risa. Aku mengatakan balik jika risa yang meninggalkan aku. Aku menanyakan apa risa masih menyayangi aku. Risa mengangguk sambil menatap aku dan lagi-lagi dia tidak memberikan argumenya. Aku bertanya kenapa dia tega melakukan hal ini, lalu risa pun kembali menunduk dan dia terlihat memikirkan sesuatu dengan meminta aku mengantarnya ke kampus. Dia menjawab pertanyaan aku dan malah mengajukan permintaan. Dia berdiri dari duduk nya sambil sedikit membersihkan celananya dari rumput-rumput yang menempel karena basah. Biasanya dia akan mengulurkan tangan nya untuk mengajak aku berdiri tapi tampaknya itu memang kurang pas untuk situasi sekarang. Bersambung ke cerita selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here