100 Hari Setelah Aku Mati Part 67 : Sudut Pandang Risa Bagian 4

0
91
bukukita.com

Tidak lama aku pamit konser dengan ayah aku di cafe kecil deket kampus aku dan aku harus segera berangkat karena takut akan terlambat. Aku mempunyai aturan dimana paling lambat pulang jam10 malam. Aku berpamitan dan menuju ke depan pintu gerbang dimana si belagu ari sudah ada dan menunggu aku dengan mobil baleno yang sering dia pamerkan. Dalam perjalanan dia tidaj berhenti membanggakan diri dan itu membuat aku sangat bosan dan jengkel. Orang yang jumawa seperti ini benar-benar membuat aku muak.

Obrolannya sama sekali tidak berbobot dan yang dia bicarakan selalu mengenai dirinya sendiri yang berlebihan dan tidak jarang dalam omongannya ketus dan dia menjelekan orang lain. Sebuah sikap yang paling kubenci. Malam ini cafe yang berada di pinggir jalan itu terasa sesak dan penuh dengan mahasiswa yang di dimonasi mahasiswa tingkat bawah dimana mereka masih haus dengan suasana baru kampus dan mahasiswa senior yang mencari hiburan di sela kesibukan skripsi mereka.

Aku duduk di kursi deretan depan supaya lebih jelas dalam menonton konser kecil yang di buat semacam lomba anak band dan aku disini berlaku sebagai juri. Tidak terasa aku menikmati setiap penampilan yang di suguhkan band-band yang tampil dan ada yang berkualitas sangat bagus dan adapula yang hanya asal-asalan naik keatas panggung dengan skill seadanya dimana mereka hanya mencari muka saja. Tapi overall aku suka dengan penampilan mereka, sampai akhirnya band panitia naik keatas panggung dan aku tidak ikut manggung dan malam itu aku memilih menonton saja. Harus akui suari ari memang bagus dan suaranya yang serak-serak basah membuat lagu itu semakin enak di dengar. Aku memilih milk shake yang kupesan dan tiba-tiba seikat bunga mawar disodorkan ke arah aku ternyata itu adalah ari. Dia memberi aku bunga di depan orang banyak dan membuat aku tidak bisa menolak. Pasti akan membuat dia malu jika aku menolaknya, karena aku bukan lah tipe orang yang senang mempermalukan orang lain dan aku pun menerima bunga itu sambil tersenyum. Ari juga bertanya bagaimana dengan penampilan nya tadi? Kemudian tidak lama dia sombong lagi dan dia mengatakan jika dia paling jago disini. Ari juga menjelaskan alasan dia memberi bunga pada aku, hal itu karena ari sedang menembak aku dan karena aku menerimanya maka sekarang kita resmi pacaran sambil dia memegang tangan aku.

Dalam hati aku bicara apa-apaan orang ini seenaknya saja mengatakan hal semacam itu dan itu bukan nembak tapi sebuah jebakan dan hanya karena aku menerima bunga itu lantas bukan berarti aku langsung menerimanya sebagai pacarnya. Memang dia pikira aku perempuan apa? Memang aku cewek gampangan dan di tambah aku sudah milik orang lain dan berkali-kali aku mengatakan jika aku sudah punya pacar kepada ari tapi dia masih getol mendekati aku dan malam itu dia malah nekat nembak aku. Aku memutar otak agar dia tidak merasa di permalukan di depan orang banyak dan dia pun bicara itu di depan teman-temannya maka dari itu mereka semua menunggu jawaban dari aku. Aku diam sambil tersenyum tipis untuk menutupi rasa jengkel aku dan tentu saja jawabanny tidak , akan tetapi aku berusaha menolaknya secara halus dan aku tidak mau di cap wanita belagu dan sombong. Ari masih memaksa aku agar aku mau meresmikan hubungannya dengan aku, namun aku diam sedangkan aku masih diam dalam hati aku bicara sangat menyebalkan anak ini. Lalu dia dengan gaya prelenternya memanggil aku sayang dengan seenaknya dan dia berjalan menuju toilet sedangkan aku tetap duduk berfikir bagaimana mengatakan jika aku menolaknya.

Kira-kira apa yang sedang di lakukan mas rizal jika tau aku di perlakukan seperti ini dan mungkin dia akan bersikap kalem seperti biasa. Atau bahkan mas rizal bisa memukul mulut ari. Aku mengatakan jika aku tidak bisa menerimanya dan aku mengucapkan makasih kepada ari disini pun aku bilang jika aku sudah punya pacar. Saat itu wajahnya langsung berubah dan dia memang terkenal tempramental dia sering terlibat perkelahian hanya karena masalah sepele. Namun dia memaksa aku dengan mengatakan jika diri aku sedang berbohong atas penjelasan aku tadi. Dia tidak mempercayai jika aku sudah mempunyai pasangan. Dia mengatakan jika tadi dia bertemu rizal dan rizal bilang jika aku hanya mantan nya.

Karena penasaran aku coba mengetes nya dengan menanyakan ciri-ciri mas rizal. Dan ari mengatakan ciri-ciri mas rizal dengan tepat bahkan dia mengatakan jika dia memakai sebuah gelang kulit dan mungkin ini mustahil karena mas rizal tidak mendekati aku, ucap aku. Lalu tidak lama ari bilang aku lebih pantas dengan nya dan dia menyuruh aku agar tidak mengharapkan mas rizal lagi. Akan tetapi tanpa babibu aku memukul cowok menyebalkan itu dan aku tidak peduli dengan hidungnya yang berdarah, dia kelihatan kesakitan meskipun aku perempuan aku dulu nya merupakan atlet silat juga. Pukulan aku pasti juga akan membuat sakit. Sebenarnya ingin aku tambah pukulan itu namun aku berusaha jaga emosi aku. Aku marah dan aku segera keluar cafe dan aku tidak menghiraukan tatapan orang. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here