100 Hari Setelah Aku Mati Part 65 : Sudut Pandang Risa Bagian 2

0
89
bukukita.com

Aku benar-benar membuat segudang tanda tanya di benak aku tapi akhirnya aku tau ada apa di balik sikap dingin dan misteriusnya dan masa lalunya. Masa lalunya yang membuat dia seperti ini dan dia anak indigo yang tinggal meninggal kedua orang tua nya secara tragis dan dia jadi kurang bisa bergaul karena trauma di kucilkan saat masih kecil. Keadaan memaksanya untuk mandiri dan lebih kuat dari sebelumnya dan kupikir setelah hasrat mengenal pribadi mas rizal sudah bisa aku penuhi akan membuat aku tidak begitu tertarik lagi dengan nya. Dan ternyata aku salah dan aku semakin di buat jatuh hati dan jika dulu aku hanya kepo sekarang aku jadi ingin terus bersamanya atau sekedar menemaninnya. Dan demi apapun aku bersyukur mas rizal mempunyai perasaan yang sama dengan aku, terhitung hampir 3 tahun aku bahagia bersamanya, sosok pelindung aku dan dia benar-benar mengajak aku dengan sabar dan telaten bahkan saat aku kecelakaan dan harus mendapat perawatan lama. Mas rizal tidak pernah meninggalka aku. Aku pun segera beranjak dari kasru untuk menuju rumah mas rizal.

Aku mengucapkan salam di depan pintu bercat putih itu, terdengar suara berat dan mungkin itu om bowo kemudia aku masuk mengikuri om bowo dari belakang dan diatas kamarnya kamu susul saja, bapak kamu jadi ikut gak nok, ucap om bowo. Aku masuk mengikuti om bowo dari belakang. Seorang perempuan yang dianggap masih kecil dan ayah bentar lagi nyusul. Aku melihat si pendiam itu sedang sibuk memilih barang untuk di bawa dan tubuhnya membelakangi aku dia belum menyadari aku sudah dibelakangnya dan dia bertambah kekar karena rajin olahraga, berbeda sekali dengan dulu waktu pertama masuk sma. Dia masih seperti anak kurus yang sangat jangkung dan aku memanggilnya mas sebuah kata panggilan sayang padanya. Dia menoleh ke arah aku seperti biasa dia tidak bicara dan dia hanya tersenyum dan senyuman itu bahkan sampai sekarang selalu membuat dada aku bergejolak.

Dia memainkan tangannya dan mengisyaratkan agar aku menghampirinya dan aku menyalaminya dan mencium tangannya, semenjak resmi dengannya aku memang membiasakan mencium tangannya. Sekedar mengimbangi sikap dewasanya. Dia mengelus rambut aku pelan dan tiap dia melakukan hal sederhana itu dia selalu berhasil membuat aku tersipu. Beberapa hal ringan kami obrolkan pagi itu dan aku tidak henti-hentinya mengomentari barang yang di bawannya. Mata aku memandang sekeliling kamar ini dan perhatian aku tertuju pada sebuah foto yang ada di sudut meja belajar mas rizal. Aku mengajaknya menilik foto kenangan itu. Jika tidak salah itu Cuma yang dia ucapkan dan dia memandang foto kami berdua sambil tersenyum dan entah apa yang ada di pikiranya saat itu. Kami saling berbagi pendapat tentang kehidupannya disana. Kamu harus bersabar nunggu aku balik kesini dan jangan punya cowok lagi disini dan begitu pesan aku padanya. Dia kembali ke kesibukannya menata barang-barangnya setelah aku goda dengan kata-kata aku, berat itulah yang aku rasakan dan melepasnya pergi selama bertahun-tahun dan benar-benar membuat aku seperti kehilangan sepotong bagian dari diriku. Aku melirik ke arah cermin kecil di dekat figura foto itu, aku sudah sangat berkaca-kaca menahan air mata yang hampir tidak tebendung mengingat beberapa jam lagi akan berpisah lama dengan mas rizal. 5 tahun mas, aku memeluk mas rizal dan aku sudah tidak bisa menahan lagi emosi aku yang meluap-luap. Air mata aku meluncur deras dan aku ingin sekali menahannya agar tetap disini bersama aku tapi apa daya, dia memang harus pergi. Masa depannya lebih penting dari ego aku dan mas rizal selalu berhasil menenangkan aku. Itu merupakan salah satu kelebihannya dan apapun kondisi aku dia selalu bisa membuat aku lebih tenang. Dia mencium kening aku dan berkata jika kamu nunggu 5 tahun aku balik ke kamu aku juga tunggu kamu 5 tahun untuk bisa pulang.

Sore itu kami harus berpisah dan pesawat yang akan membawanya pergi sudah menunggu aku hanya bisa berpasrah dan melepasnya. Berusaha sekuat mungkin menahan rindu yang pasti akan sangat mengganggu aku. Tanpa di duga dia memberikan ciuman pertama nya kepada aku, bibir kami saling beradu dan memberikan sensasi aneh yang baru pertama aku rasakan. Dia berjalan pergi tanpa menengok dan aku hanya bisa melihat punggungnya yang perlahan mulai hilang di keramaian. Aku akan menunggu kamu disini mas, ucap risa. Mas doakan aku agar aku mendapat nilai yang bagus pada unas aku. Aku sedang menelpon mas rizal untuk meminta sertu melaksanakan ujian nasional dan sudah hampir setahun aku di tinggalnya dan awal kepergiannya benar-benar membuat aku kesepian.

Aku benar-benar kehilangan sosok orang yang selalu mendukung aku dan orang yang selalu ada. Dia benar dia menemani aku dan dia pasti selalu menemani aku dalam setiap doa nya. Aku harus bisa lebih baik dan mas rizal merupakan orang dengan semangat hidup yang besar dan dia bisa dengan mudah menularkan semangatnya saat berada di dekat aku. Dan walaupun sekarang kami berjauhan dan aku kaga semangat aku tetap berkobar seperti semangatnya. Aku harus lulus dan masuk akademi perawat dan mungkin besok aku bisa praktek. Besambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here