100 Hari Setelah Aku Mati Part 64 : Sudut Pandang Risa

0
92
bukukita.com

Aku selalu tertarik dengan cerita tentang masa muda bapak yang di tuturkan oleh orang lain dan ternyata bapak adalah sosok panutan dari banyak orang dan sungguh bahkan setelah bertahun-tahun kematiannya beliau masih membuat aku takjub sampai sekarang. Singkat cerita aku dan dewi pamit untuk kembali pulang ke rumah. Dewi bilang jika bapak aku ternyata adalah orang yang hebat dan aku pun tidak menyangka beliau tetap di sanjung setelah sekian lama kepergiannya. Dewi bilang andai dia punya keluarga kandung dan dewi bilang akhir-akhir ini dia sering berkhayal jika besok dia punya anak maka tidak akan aku biari dia bernasib sama aku sekarang dan aku akan terus jaga dia. Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum mendengar celotehan dewi yang menurut aku terlalu jauh pikirannya. Hanya sekarang aku belum mikir sampe segitunya.

Aku kembali setuju dengan logika-logika yang di berikan dewi dan anak ini benar-benar membuat aku kagum dan tidak terasa aku sudah sampai di depan pintu rumah. Aku sudah memarkirkan mobil ke garasi dan begitu aku mau masuk kedalam rumah di pintu depan tertempel tulisan pada selembar kertas berbunyi pesan dari risa yaitu mas dimana? kenapa tidak menemui aku? kamu tidak bilang dan sekarang ngilang kemana? tidak lama suara jam beker itu sangat nyaring dan benar-benar membuat aku langsung terbangun dari tidur aku yang tidak lama dan alarm yang berbunyi mengartikan jika jam sudah menunjukan pukul 4 pagi. Semalaman aku tidak bisa tidur dengan nyenyak dan aku mengucek mata yang masih sangat terasa kantuk.

Aku mematikan alarm yang terus berdering itu dan klek begitu bunyi tombol yang kupencet. Aku masih terduduk di kasur dan biasanya kesadaran aku belum pulih di beberapa menit awal setiap aku bangun pagi tapi hari itu berbeda dan aku menggenggam jam waker itu. Jam yang berbentuk tokok kartun hello kitty dan ini merupakan salah satu benda favorit aku karena ini adalah hadiah ulang tahun aku dari mas rizal tahun lalu. Ketika itu aku bertujuan supaya bisa bangun pagi karena masak perempuan lebih siang dari cowoknya, ucap mas rizal dulu. Dan hari ini juga adalah hari yang sangat khusus karena ini merupakan hari dimana mas rizal harus pergi meninggalkan aku untuk melanjutkan study nya di australia.

Aku tidak ingin sedetik pun waktu terbuang sia-sia di hari terakhir aku bersama mas rizal dan laki-laki yang paling aku sayangi selain ayah aku, mungkin tidak berlebihan aku menyebut rasa sayang aku sebagai cinta, pikiran aku secara tidak sadar memaksa aku mengingat saat awal bertemu dengan nya. Kami tidak sempat menghabiskan waktu bersama sebelum keberangkatan mas rizal karena dia harus mengurus seabrek dokumen kepindahannya. Quality time terakhir adalah saat selesai mengurus visa dan imigrasinya sebulan lalu, kami menyempatkan berjalan-jalan di sebuah tempat yang menurut aku sangat romantis, waduk sermo merupakan satu-satunya waduk yang ada di jogja yang terletak di daerah paling barat provinsi DIY ini merupakan tempat terakhir dimana aku dan mas rizal bisa sedikit berpiknik bersama. Ingatan aku kembali berputar ke masa lalu saat kedekatan aku dengan anak misterius itu, pendiam tapi cerdas, pemalu tapi berani, cuek tapi sangat perhatian dengan lingkungannya. Aku seperti tersedot ke pesonanya entah sihir macam apa yang dia punya hingga aku merasa sangat tertarik mengenalnya lebih jauh kala itu. Dia benar-benar unik mungkin orang lain seperti dia lahir dalam perbandingan 1:1.000.000 tapi setiap kali aku coba mendekat aku merasa terbentur sesuatu seperti ada sebuah dinding tidak terlihat yang membuat aku segan. Sifatnya yang cuek dan jutek membuat dia tidak menyadari banyak cewek yang menaruh hati kepadanya karena selain dia bisa di katakan ganteng dengan postur tubuh yang tinggi besar dia juga punya bakat banyak.

Dia adalah atlet silat dan dia jago basket, bermusik pun dia bisa dan dia juga si juara kelas karena dia adalah atlet silat dan dia jago basket, bermusik pun dia bisa dan dia juga si juara kelas karena dia sangat pintar. Jika dia tipe tukang pamer kayak cowok pada umumnya mungkin dia akan sangat populer. Tapi mas rizal dia memilih diam dan menutup diri, dia enggan membagi dunianya kepada orang lain, sorot matanya tajam dan fokus saat melihat sesuatu. Beberapa kali kesempatan kai saling berpandangan dan matanya yang tajam benar menusuk hati aku. Bingung dan hal yang aku rasakan saat ada getaran-getaran aneh itu dan bertahun-tahun aku mencoba dekat dengannya untuk lebih tau tentangnya tapi aku tidak pernah cukup dekat dengannya.

Aku kemudian memilih diam dan melihatnya dari jauh dengan jarak yang sebisa mungkin aku pangkas agar bisa lebih dekat dengannya. Ada keasikan tersendiri selama aku memperhatikan tingkahnya yang menurut aku lucu dan aneh, dia terlihat kikuh disaat keramaian tapi dengan sekejab dia dapat menguasai keadaan. Dia pendiam bahkan tidak akan berbicara jika tidak di ajak terlebih dahulu tapi sekali bicara suaranya tegas dan jelas, argumen-argumen yang dia ucapkan selalu tepat dan terkesan cerdas. Dulu aku bertanya-tanya terus dalam hati. Sikapnya dingin tapi dia bisa menjadi sosok yang sangat perhatian. Bersambung ke part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here