100 Hari Setelah Aku Mati Part 63 : Semarang Bagian 3

0
87
bukukita.com

Salah satu anak yang langsung berlari masuk kedalam rumah sambil berteriak-teriak memanggil ibunya sementara kembarannya dengan malu-malu masih berada diatas ayunan. Seorang ibu muda berbicara sambil menghampiri kami dan kami pun menyalami ibu itu. Aku bilagn jika dulu aku pernah tinggal di rumah dinas ini sebelum keluarga ibu jadi boleh tidak aku mampir sekedar nostalgia dengan rumah ini? Aku berbicara sopan dan berharap di perkenankan oleh penghuni yang baru itu. Tidak lama ibu itu bilang jika suami nya sebentar lagi pulang pasti senang melihat putra pak hartono. Singkatnya kami di perkenankan bertamu oleh ibu siti penghuni rumah dinas tua in yang bertahun-tahun kosong setelah aku dan bapak pindah ke jogja. Beberapa hal kami bicarakan dan yang paling sering di tanyakan adalah tentang bapak aku, aku rasa almarhum bapak cukup populer di kalangan dinas nya.

Bu siti cerita awalnya dia takut tinggal disini karena rumah ini paling angker tapi ternyata selama tinggal disini tidak pernah terjadi apa-apa. Aku tersenyum mendengar jawaban bu siti. Aku pun ingin melihat tempat lain waktu aku masih kecil dan aku ngabarin suami dulu dan harusnya sudah pulang tidak susul ke kantornya sebentar. Bu siti tampak senang dengan kunjungan aku dan apakah suami ibu siti adalah teman bapak saat berdinas. Mereka banyak banget dan dewi bingung aku belum menjelaskan teman seperti apa yang aku maksud itu. Dan di depan kami para penghuni lama lingkungan ini sudah mempehatikan kami dan makhluk-makhluk yang suka meneror aku saat aku kecil mereka bersliweran dan mulai dari pocong dan makhluk berbulu lebat itu tampak terheran-heran aku kembali kesini.

Mereka ketakutan dan mungkin mereka mengira aku akan membalas mereka dan aku sudah bisa mengendalikan ilmu batin seperti sekarang sudah lebih dari cukup untuk menghadapi makhluk-makhluk itu. Aku belum menjawab pertanyaan dewi yang tampak gelisah dan aku berkonsentrasi untuk meningkatkan ilmu batin yang aku punya dan sudah lama sekali aku tidak melakukan ini. Mereka kalang kabut melihat aku , aku tidak akan mengusir mereka dan aku hanya ingin menggertak mereka agar tidak macam-macam. Aku mengatakan jika dia adalah teman yang melindungi aku dari kecil. Aku mengangguk pelan dan mengajak dewi ke halaman dan aku belum melihat sari sama sekali. Dewi lebih dulu menyadari kehadiran sari di belakang kami dan dia muncul dari semak-semak belakang sampai saat ini memang masih rimbu dengan pepohonan.

Dewi sedikit takut dan dia memegang lengan aku. Aku senang kamu mengunjungi aku dan apa kamu membawa teman yang sama istimewanya dengan dirimu. Risa benar-benar mirip dengan risa yang aku lihat semalam, sari dan risa jika reinkanasi itu benar adanya mungkinkah risa adalah reinkanasi dari sari. Aku juga masih punya hutang dengan dirimu. Aku hanya menemanimu saat kecil dan sekarang kamu sudah cukup dewasa dan kuat untuk menghadapi apapun dan bukankah sudah pernah aku bilang jika kamu akan jadi orang besar besok. Dan mengenai janji kamu, kamu belum bisa menepati nya sekarang dan aka nada waktu sendiri aku menuntut janji dirimu. Tidak kah kamu memberitahu aku aku harus bagaiman dan apa yang bisa aku lakukan untuk kamu. Sari bilang sudah kubilang belum saatnya dan menunggu beberapa tahu lagi. Aku mengangguk pelan dan aku mencoba menerima jawaban sari yang benar-benar membuat aku bingung dan penasaran. Sari tersenyum masih seperti dulu kehadirannya selalu diiringi wangi melati dan sari berbicara sambil melihat ke arah dewi dan teruslah menjadi teman rizal karena kamu perempuan yang sangat baik, ucap sari. Dewi tampak tidak takut sama sekali sekarang. Kamu sudah bisa menghadapi masalah kamu sendiri dan sebaiknya jangan terlalu dekat dengan aku lagi, hadapi hidup kamu dan kamu manusia hebat jadi aku harus pergi, ucap sari.

Sari bilang jangan menemui aku lagi jika tidak ada sesuatu yang sangat penting dan hiduplah bersama kaum kamu dan ingatlah janji kamu. Terima kasih dan sampai jumpa beberapa tahun lagi dan dewi sampai jumpa, kamu bahkan lebih kuat daripada rizal. Sari membalikan badanya dan kembali berwujud anak kecil dan berlari ke rerimbunan. Aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimat aku.

Sari merasa tersiksa dan dewi biacara di sebelah aku. Entahlah aku merasa dia tersiksa disini. Dia bilang kamu harus bersabar sampai saatnya kamu bantu dia dan aku berfikir jawaban dewi ada benarnya. Kami sednag berdiri di halaman belakang sampai ada seseorang berseragam dinas harian tentara yang menyapa kami. Beliu adalah pak sangadi, penghuni rumah dinas ini dan beliau tampak senang dengan kunjungan aku, kami banyak mengobrol dan dari obrolan kami aku tau ternyata pak sangadi ini adalah teman satu angkatan almarhum bapak saat pendidikan militer dulu.

Beliau juga mengatkan begitu merasa kehilangan saat mendengar kabar bapak meninggal secara tragis dan dulu sebelum pindah tugas ke semarang dan aku tugas di jakarta dan awal di tawari tinggal di rumah dinas ini aku menolak tapi begitu tau jika rumah ini dulu di huni hartono dan keluarga aku langsung mengiyakan. Pak sangadi bercerita tentang masa muda beliau bersama bapak aku dulu. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here