100 Hari Setelah Aku Mati Part 62 : Semarang Bagian 2

0
88
bukukita.com

Berkali-kali husein nembak tapi selalu aku bilang belum siap dan setelah dia pergi dia pergi hanya ada penyesalan dan aku termenung. Beberapa kali aku mati-mati an menjaga risa, mulai dari saat dia koma, saat akan terjadi gempa dan dalam hati aku masih sangat besar rasa sayang kepada risa. Tapi entah kenapa ego aku menepis semua itu dan aku hanya bisa mengangguk-angguk seperti orang bodoh dan aku paham maksud dewi tapi aku masih saja masa bodo. Kami sudah selesai makan dan langsung masuk mobil kemudian berangkat menuju semarang dan aku sebenarnya sangat mengantuk dan aku baru sampai pagi tadi dan kini sudah harus pergi lumayan jauh. Tampak dewi sudah tertidur lelap di jok mobil, dia tetap terlihat cantik saat tidur.

Menurut aku kecantikan antara dewi dan ris itu berbeda dimana risa memiliki kecantikan yang terkesan polos dan lugu dan itu benar-benar membuat aku tergila-gila dengan risa. Sedangkan dewi kecantikannya terkesan anggun dan eksklusif bahkan dia tidak memakai make up sama sekali kecantikannya akan membuat laki-laki yang tidak punya mental cukup kuat menjadi minder dan aku menyelimuti dewi yang Nampak kedinginan dengan jaket yang aku bawa. Dan akhirnya kami sudah sampai semarang tapi tentu saja aku belum sampai di alamat lama aku dan aku harus berkendara paling tidak satu jam untuk sampai satu jam untuk sampai sedangkan jam sudah menunjukan hampir pukul 3 pagi. Aku menepikan mobil di rest area sebuah pom bensin dan membukakan jendela depan dan akhirnya terlelap bersama dewi.

Suara adzan subuh memaksa aku bangun dari tidur aku yang hanya sebentar tampak dewi juga terbangun sambil mengucek-ngucek matanya. Di semarang aku tidak kuat melek terus istirahat disini dan subuhan. Aku dan dewi melaksanakan sholat subuh di mushola kecil yang ada di spbu itu. Dewi hanya mengangguk untuk menyetujui ajakan aku. Kami sedang sarapan pagi di sebuah warung nasi tidak jauh dari spbu tadi dan seusai sarapan aku dan dewi segera melanjutkan perjalanan ke makam bapak dan ibu aku. Kami sudah sampai sudah sampai di depan gerbang makam dan aku menggenggam erat plastic berisi bunga yang akan aku taburkan diatas makam bapak dan ibu. Kami melangkah masuk dan tidak butuh waktu lama aku sudah sampai di kedua makam orang tua aku.

Masih terawat dan bersih dimana risa benar-benar merawat kedua nisan ini dan risa beberapa kali mengatakan jika berkunjung ke makam ini untuk merawatnya. Dan risa melakukannya dengan sangat baik dan aku kesini sama kamu dalam hati aku ingat dengan risa. Aku masih berdiri dan melamun di depan batu nisan itu dan dewi menyaut bunga yang kugenggam. Dia mendahului aku mendekati makam itu dan berjongkok di dekatnya. Ketika aku melamun dewi membuat aku sadar dan kaget. Aku mendekatinya dan ikut menaburkan bunga di kedua makam orang tua aku dan berdoa bersama dewi. Aku pun menyapa ibu dan ayah aku, disitu aku bilang jika aku sudah paham dan bapak juga ibu pergi bukan karena tidak sayang sama anak kamu ini, tapi rizal sekarang sudah besar dan paham jika bapak sam aibu punya cara sendiri untuk terus menyanyangi rizal. Memori nostalgia kedua orang tua aku masih bersama kembali muncul di pikiran aku, sekarang anak kamu ini adalah calon dokter dan bapak sama ibu pasti sudah tahu. Pasti bapak sama ibu selalu mengawasi aku di dalam sana kan. Aku menoleh kearah dewi yang ada di samping aku dan dia menggenggam pundak aku sambil tersenyum tipis. Semoga bapak sama ibu mendapat tempat terbaik di sisi Allah. Aku mencukupkan nyekar di makam kedua orang tua aku dan aku merasa tidak bisa menahan kesedihan tiap kali kesana.

Tapi inilah yang bisa aku lakukan untuk menghormati kedua orang tua aku yang sudah tiada. Aku berfikir memang aku jauh lebih berhuntung daripada dewi karena paling tidak aku pernah merasakan indahnya hidup bersama kedua orang tua aku. Sedangkan dewi bahkan tidak mengenal orang tua nya. Aku iri karena dewi bisa sekuat ini dan dewi pun tersenyum ke arah aku. Kita akan selalu menguatkan satu sama lain dan kamu teman terbaik aku. Dewi pun bilang begitu juga dengan aku, aku adalah teman baik dewi. Kami saling memandang untuk beberapa saat sampai aku harus kembali fokus mengemudi menuju ke alamat lama aku. Masih ada seorang yang ingin aku temui, ucap aku pada dewi. Rumah bercat warna hijau pupus itu mengingatkan aku kepada masa lalu.

Tempat ini yang menemani aku tumbuh selama 12 tahun, 2 anak laki yang sepertinya kembar sedang bermain disitu dan mereka asik menganyunkan ayunan tua yang sulu sering aku pakai bermain bersama sari. Aku dan dewi sudah sampai di rumah yang dulu aku tempati dan kini sudah ada penghuni baru menghuni rumah dinas tentara ini. Ini rumah aku yang dulu, ucap aku pada dewi. Aku bilang aku akan mengenal kan dia ke seseorang yang aku kenal. Lalu aku mengajak dewi turun dari mobil dan mendekati rumah itu. Aku menyapa kedua anak kembar itu. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here