100 Hari Setelah Aku Mati Part 60 : Biarkan Aku Sejenak Berfikir

0
94
bukukita.com

Aku memarkirkan mobil di depan garasi, klek, pintu terbuka yang di bukakan dewi dari dalam dan dia menyambut aku dengan senyuman cantiknya. Aku membalas senyumannya dengan senyuman kecut. Dewi langsung paham dengan kondisi aku yang terlihat tidak senang. Saat dia bertanya aku menjawab tidak apa-apa namun dewi merasa jika aku bohong dan dia tau jika ada yang sedang berbohong padanya. Aku pun bilang jika nanti aku akan menceritakan semuan nya dan memutus pembicaraan aku tanya apakah dewi pernah jalan-jalan ke jogja? Dan dewi bilang jika dia belum pernah keluar jogja malam-malam. Aku pun dengan segera mengajak dewi keluar untuk jalan-jalan namun dewi bertanya kembali apa aku yakin? Aku menjawab bahwa aku yakin dan dewi pun akhirnya menuju kamar untuk berganti baju dan siap-siap dan aku juga menuju kamar untuk melepas kemeja yang membuat aku gerah.

Aku memandang foto aku saat SMA yang masih tertempel pada pojok cermin dan aku membandingkan wajah aku dulu dan sekarang. Aku bertambah putih karena jarang terkena sinar matahari dan polusi dan postur badan aku juga lebih besar karena di asie aku rajin fitnes dan aku melepas kemeja merah itu dan memilih memakai t-shirt saja. Apakah rissa sudah tau aku pulang? Baru 3 hari yang lalu kami saling melepas rindu lewat telepon saat aku di ausie dan sekarang setelah sekian lama dan berharap melepas rindu lewat telepon saat di ausie dan sekarang setelah sekian lama dan berharap pertemuan ini akan menyenangkan. Ternyata aku malah menerima rasa sakit ini. Tidak lama dewi memanggil aku di ambang pintu yang sengaja tidak aku tutup. Dia mengangguk dan dewi tampil dengan celana panjang dan kemeja yang di balut cardigan, aku memandang wajahnya. Dia cantik bahkan sangat cantik dan dia memiliki mata indah namun sayang matanya selalu terlihat sayu dan aku jarang sekali melihat matanya berbinar. Matanya menjelaskan betapa sulit hidup nya dulu. Dewi bilang nanti kita makan di luar saja, aku pun setuju karena aku kangen makanan jogja. Akhirnya kami berangkat dan sebenarnya tidak terlalu antusias karena mood aku sedang benar-benar buruk tapi aku harus melayani dewi sebagai tamu aku. Di tambah dia baru pertama kali ke jogja dan dia tampak excited sekali dan jadi aku akan menemaninya kemanapun dia ingin pergi.

Kami berjalan meyusuri trotoar di sepanjang jalan malioboro dan sudah lama juga aku tidak ketempat ini, jajanan khas seperti pecel, bakpia dan gudeg sepanjang jalan. Penjual pernak pernik khas jogja dan baju-baju yang ada di sepanjang emperan tidak henti-hentinya menawarkan dagangan mereka dan beberapa kali kami di sangka turi oleh pernak pernik dan suvenir disini. Begitu aku menggunakan bahasa jawa mereka malah terheran-heran sendiri dan aku tertawa melihat belanjaan dewi yang tampak menggunung dan dia mulai kesulitan membawanya. Dewi mengatakan jika semua barang itu untuk anak panti dan mereka pasti seneng dapet oleh-oleh ini dan kebetulan juga kan uang saku aku udah kekumpul banyak jadi tidak ada salahnya beliin mereka. Aku tersenyum begitu mengetahui niat baik dewi dan ternyata dia memang layak disebut cewek paket komplit karena selalin cantik dan pintar dia juga mempunyai hati yang sangat baik. Aku pun meminta agar bajunya 2 lusin oleh pedagang itu dan dia senang karena barang dagangannya di borong. Aku bilang pada dewi jika besok aku ikut ke jakarta bersama dengan nya. Dewi mengangguk sambil tersenyum dan dia tau apa yang aku maksud dan tampak matanya yang sayu mulai mengembang dan inilah rona wajah yang ingin aku lihat dari dewi. Cukup banyak bawaan kami dan setelah barang kami taruh di mobil aku dan dewi pun melanjutkan ke alun-alun sekedar untuk duduk-duduk saja sambil menikmati wedang ronde yang sudah kami pesan.

Dewi pun tidak lama menanyakan lagi nge date aku dengan risa tadi. Karena menurut dewi aku sangat berwajah suram ketika pulang tadi. Aku bilang kadang apa yang kita harapkan tidak berjalan mulus dan aku bilang dia bersama orang lain. Kelihatan seneng dan bahagia dan aku harus ikut bahagia dan tidak boleh egois. Namun tidak lama ada yang memanggil aku, aku yakin itu seorang perempuan yang aku kenal. Dia sosok wanita yang memanggil aku dari seberang jalan dimana dia putih dan cukup tinggi untuk ukuran perempuan dengan rambut yang tergerai kemerahan dan hidungnya mancung dengan wajah oriental. Dan ternyata dia adalah susi teman sekelas risa saat risa kelas 1.

Aku pun menyalaminya dan mempersilahkan dia duduk bersama kami dan aku menceritakan kabar aku baik. Lalu aku memperkenalkan dewi dan mereka saling berjabat tangan. Tidak lama susi menanyakan dimana risa kenapa dia tidak ikut? Risa itu jika di kampus yang dia bicarakan hanya diriku terus, ucap susi. Tapi ketika kamu pulang risa malah ada acara lain. Dan aku baru tau jika risa dan susi itu satu kampus, sempat terlintas untuk menanyakan hal itu. Kemudian aku menceritakan kejadian berusan kepada susi dan dewi juga tampak menyimak pembicaraan aku. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here