100 Hari Setelah Aku Mati Part 58 : Tidak Kusangka Kamu Bagian 2

0
92
bukukita.com

Mungkin sama sekali tidak bergeser sejak terakhir aku melihatnya. Aku mangajak dewi ke lantai atas dan aku membuka pintu kamar aku dan begitu pintu terbuka langsung saja memori-memori masa lalu muncul di kepala aku. Kasur tergulung, coretan-coretan di dinding, meja belajar aku dan gitar lama aku. Semua masih tertata dengan rapid an aku kembali tersenyum melihat ruangan yang sudah 1,5 tahun aku tinggalkan itu. Aku membuka kamar untuk dewi yang terletak tidak jauh dari kamar aku. Aku berlalu untuk mencarikan kasur buat dewi di lantai bawah. Dewi pun sambil mengemil makanan yang kami beli di perjalanan kesini.

Aku menyuruh dewi beristirahat dulu dan aku menyiapkan makanan. Kemudian aku berjalan ke kamar aku dan aku menggelar kasur aku dan tiduran di atas nya. Aku sangat capek tapi aku merasa sangat senang sudah pulang dan memandang langit-langit. Ternyata memang rumah ini sangat nyaman dan aku sambil memasang kartu lokal aku yang aku beli tadi.

Aku memencet nomor risa dan sedikit mengerjainya. Aku mengirim pesan singkat sekitar 15 menit aku hampir terlelap tidur handphone PDA aku berbunyi dan aku buru-buru mengeceknya. Ketika risa membalas aku hanya tersenyum-senyum saja membacanya, kini risa sudah kuliah di salah satu pts ternama di jogja dan dia sedang mengambil jurusan keperawatan. Niat iseng aku muncul dan aku kemudian menelponya. Terdengar suara nya dan aku tidak menjawabnya. Aku menutup telepon dan memeluk guling tanpa sarung yang ada di samping aku dan aku sering telpon risa tapi kali ini suaranya jelas sekali dan terasa dekat seolah dia berada di samping aku. Rasa kangen yang sudah berapa lama kami tanggung nanti malam akan terobati.

Aku baru saja kembali dari masjid samping rumah untuk melaksanakn sholat magrib berjamaah dan sholat berjamaah merupakan hal yang sulit aku lakukan di ausie karena mayoritas agama disana adalah nasrani dan budha. Aku juga sekedar ingin menyapa dan bersilahturahmi dengan tetangga-tetangga aku dan mereka juga menyambut aku dengan sangat baik. Aku mengatakan pada dewi jika besok aku akan mengajak nya jalan-jalan. Aku mau ke tempat risa dulu dan makanan ada di ruang makan, ucap aku pada dewi. Dewi bilang aku jangan repot-repot. Aku pun berlalu menuju garasi dan memanasi mobil yang sudah lama terparkir disitu, berhuntung om bowo sangat perhatian beliau juga merawat mobil ini dan mesinya normal dan bensin juga full.

Mungkin om bowo sebulan sekali rutin merawat rumah ini dan aku menjalankan mobil itu pelan menuju rumah risa yang juga tidak terlalu jauh dan ada perasaan deg-deg an, namun setelah sekian lama tidak bertemu risa dan pagar itu kemudian di buka kan oleh pak suroto. Aku membuka kaca depan lalu menyapa beliau. Tampak pak suroto sedikit pangling dengan aku, ketika itu beliau langsung menyuruh aku masuk setelah tau siapa aku. Aku mengucapkan salam sambil berlalu dan masuk sampai di samping garasi rumah risa untuk memarkirkan mobil dan aku memencet bel pintu. Perasaan deg-degan itu kembali dan aku berharap yang membukakan pintu adalah risa tapi ketika pintu di buka muncul lah om hamzah di pintu itu. Tidak apa, aku juga bukan main senangnya bisa bertemu om hamzah dan beliau merupakan orang yang sangat baik pada aku. Om hamzah terkejut melihat aku di depan pintu dan aku tidak menjawab nya, namun aku buru-buru meraih tangan beliau dan menciumnya. Aku kemudian memeluknya kemudian beliau sudah kuanggap bapak aku sendiri, beliau adalah orang yang sangat baik seperti almarhum bapak aku. Namun ternyata risa sedang pergi nonton konser music di café deket kampusnya. Akhirnya aku menyusulnya melihat konser dan aku segera memacu mobil aku agar segera sampai ke café yang di maksud dan aku benar-benar ingin segera bertemu risa.

Aku memarkirkan mobil dan cafe nampak sangat ramai dan penuh dengan mahasiswa dan mungkin karena ada acara konser kecil disana. Aku masuk dan mulai celingukan mencari orang yang aku maksud. Aku melihat ke kiri dan ke kanan berharap akan melihat sosok risa dan akan langsung menyapanya. Aku mulai membayangkan bagaimana rupa risa sekarang dan bagaimana ekspresi nya nanti. Benar saja sosok itu muncul dan aku pun melihat risa dimana dia sedang duduk sendirian sambil meminum es coklat di meja nya tampak padangannya ke depan panggung yang di isi oleh band yang sudah hampir selesai menyanyikan lagu.

Dia nampak semakin menawan dengan kemeja casual berwana biru dengan celana jeans, dia sekarang memakai kacamata dan membuat dia semakin enak di lihat. Dia nampak anggun dan cantik lebih dari terakhir aku melihatnya secara langsung. Dada aku seperti bergemuruh dan harusnya aku langsung mendekat tapi aku malah terpaku melihat risa pada jarak 10 meter. Dia belum sadar jika aku sudah sangat dekat denganya. Aku melangkahkan kaki tanpa sedetik pun pandangan aku lepas darinya dan baru dua langkah aku berjalan. Risa di hampiri laki-laki dan mungkin seumuran denganku, sepertinya dia vokalis yang baru saja selesai bernyanyi. Laki-laki itu membawa seikat bunga untuk risa. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here