100 Hari Setelah Aku Mati Part 57 : Tidak Kusangka Kamu

0
84
bukukita.com

Dewi menjawab nanti ke kamar aku saja dan dia akan mengajari aku. Aku kemarin tidak paham pembicaraan pak johanson dan dia bicaranya pake aksen spainya jadi bikin buyar. Aku sedang belajar di kamar nya dewi dan aku memang dekat dengan dia biasanya dia dan aku jadikan tempat bertanya untuk masalah urusan kuliah. Karena dia memang benar-benar smart bahkan di kelas dia sangat di perhitungkan dalam urusan nilai akademik. Sudah setahun disini tapi dengan aksen spayol masih bingung, ucap dewi. Aku bilang jika pembicaraan mereka cepet banget seperti itu dan kadang kecampur bahasa amigo dan aneh di dengarkan. Aku pun besok pulang ke tempat aku saja dan bareng aku dan aku bisa menyebut tempat aku sebagai rumah untuk kamu pulang.

Aku sedang bersama teman-teman dan aku menikmati celebrasi setelah ujian semester yang melelahkan. Ini adalah semester ketiga aku di Melbourne. Sudah sekitar satu setengah tahun lebih sedikit aku meninggalkan kampung halaman aku dan kira-kira teman-teman aku disana sedang apa? kami berada di sebuah kedai kebab di chapel street di kota prahran. Ini hanya sebuah café kecil tapi dengan tata ruang yang sangat bagus membuat kami betah berlama-lama disini. Aku banyak bengong disana dan ada sesuatu yang sedang aku pikirkan yaitu tiket kepulangan aku dan aku sudah mendapatkan tiket penerbangan yang murang untuk pulang bersama dewi. Salah seorang teman aku membuat lamunan aku buyar. Musim panas dan aku sudah berada di bandara melbourne bersama dewi untuk bersiap pulang ke indonesia dengan tas ransel super dan sebuah koper yang penuh dengan oleh-oleh kami pun akhirnya berangkat.

Dewi bukanlah tipe cewek yang banyak omong dia pendiam sama seperti aku dan kami sama-sama diam saat tidak ada suatu hal yang patut di bicarakan. Tampak dewi sudah menyumpal telinganya dengan headset yang tersambung ipod yang di pegangnya dan dia memejamkan mata sambil menyanyikan lagunya pelan. Tidak banyak yang bisa aku lakukan aku hanya bisa menerawang dan berangan-angan kira-kira bagaimana reaksi risa melihat aku kembali tanpa bilang dulu padanya. Risa tidak tau sama sekali tentang kepulangan aku dan aku memang sengaja tidak memberitahunya agar menjadi kejutan tersendiri. Aku merogoh saku di jaket tebal aku dan sebuah hadiah untuk risa sudah jauh-jauh hari aku siapkan dan sebuah harmonika kecil yang aku bungkus dengan kotak beludru.

Risa memang selain memiliki bakat dalam olahraga dia juga berbakat dalam hal musik dan pasca dia kecelakaan kesibukannya adalah bermusik. Hampir semua alat musik dia bisa mainkan. Dewi pun mengaggetkan aku ketika dia sedang meledek aku. Aku bilang jika risa senang dengan musik dan sepertinya dia belum punya harmonika makanya aku kasih dia kado ini. Dewi bilang senangnya mempunyai pacar dan aku pun bilang kayak tidak pernah pacaran saja. Dan ternyata dewi belum pernah pacaran sama sekali. Dan dewi memang sengaja juga tidak mau punya pacar karena menurut dia siapa juga yang mau dengan nya. Aku bilang hanya cowok bodoh yang tidak mau dengan dirinya. Tidak lama dewi bilang sambil menghadap ke aku dan bilang memang aku cantik? Dewi terdiam dengan pipi yang mulai memerah dan aku hanya tersenyum sambil menjitak pelan kepalanya. Entah sudah berapa lama kami di pesawat yang sedang mengudara ini. Dan aku hanya sibuk membolak-balikan novel yang aku bawa sambil berangan-angan lagi. Sekitar 3 minggu aku akan berada di jogja dan dewi akan ikut selama 1 minggu untuk liburan di jogja dan sebelum dia kembali ke jakarta dan kira-kira apa yang akan aku lakukan bersama risa?

Aku akan melakukan hal yang belum sempat kami lakukan dan mungkin aku akan mengajaknya ke semarang untuk nyekar ke makam bapak dan ibu. Akhirnya kami sudah tiba di jakarta ibukota negara aku dan baik aku dan dewi merasa senang akhirnya kami sebentar lagi akan menginjakan kaki tanah kelahiran kami. Pesawat akan transit sebentar untuk selanjutnya melanjutkan penerbangan ke adisucipto. Pesawat landing dan aku dengan dewi sudah sampai di kota kelahiran aku yaitu jogjakarta. Tidak banyak yang berubah dari dalam taksi yang membawa kami menuju rumah aku di pusat kota jogja. Jarak rumah aku dari bandara hanya memerlukan waktu 30 menit dan akhirnya aku sudah sampai di depan pagar rumah aku. Aku tersenyum lebar di depan rumah peninggalan orang tua aku. Aku masih sama saja disaksikan dewi yang memandang sekeliling aku.

Suara pak sodiq tetangga aku membuat perhatian aku teralih. Aku menyapanya dan mengatakan jika aku pulang sebentar untuk nengok rumah. Aku berbicara untuk beberapa lama dengan pak sodiq dan aku ikut senang melihat rumahnya yang dulu ambruk kini sudah berdiri kembali. Aku berpamitan kepada pak sodiq untuk masuk ke rumah dan menunda obrolan kami untuk nani. Dewi hanya tersenyum sambil melangkah masuk ke rumah aku dan aku memandang sekeliling dan tampaknya om bowo baru saja membersihkan rumah ini. Tampak lantai dan perabor rumah masih mengkilat sama seperti terakhir aku tinggalkan. Foto keluarga masih terpasang rapi di dinding dan tatanan kursi dan meja pun masih sama. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here