100 Hari Setelah Aku Mati Part 5 : Ternyata Sari

0
31
bukukita.com

Kejadian itu berlangsung seminggu, bisa kalian banyangkan trauma yang aku terima dan rasa sakit itu. Ketika takut itu berputar di kepala aku yang terlintas adalah aku ingin menyusul ibu aku. Aku kehilangan cahaya aku sejak saat itu, aku kehilangan ceria, aku kehilangan tawa dan aku kehilangan diri aku sendiri. Setelah 7 hari ibu aku pergi, bapak selalu membawa aku kemana pun bapak pergi karena bapak aku ini mau tak mau harus menjadi bapak sekaligus ibu, seolah bapak benar-benar menjaga aku selama 7 hari seminggu, 24 jam nonstop. Beliau memberikan perhatian ekstra di sela-sela kesibukan yang menggunung. Matahari yang membuat aku tenang karena begitu matahari muncul makhluk-makhluk itu enggan mengganggu aku dan hanya tampak satu atau dua.

Akan tetapi mereka mengacuhkan aku tapi begitu bulan datang dan gelap mulai mnyelimuti langit terror demi teror aku dapati seperti kepala tanpa tubuh di atas lemari. Potongan tubuh manusia di dalam kulkas dan hantu perempuan di kolong kasur merupakan salah satu teror. Belum lagi ketukan di jendela dan itu semua membuat aku trauma dengan gelap. Aku tidak akan menceritakan semuanya bukan karena lupa tapi aku masih ingat itu semua dan tawa lengking bergema mereka. Ada nya bau anyir darah mereka, bau busuk dan tatapan mata mereka.

Minggu pagi bapak harusnya libur dan menemani aku di rumah karena hari biasa bapak membawa aku ke kantor setelah pulang sekolah. Akan tetapi hari ini bapak harus pergi dan tidak bisa mengajak aku karena masih pagi. Aku sedikit tengang di rumah karena di temani mbok. Aku bermalas-malasan sambil menggambar di kasur, lama sekali aku menggambar sampai-sampai aku tidak mendengar sari yang sedang di depan kaca menyisir rambutnya sambil bersenandung jawa. Lalu tidak lama aku menyapa dia. Sari pun tiba-tiba bilang jika teman-teman nya marah dengan ibu aku, padahal saat itu sari bilang sudah melarang mereka. Aku pun masih belum ngerti dengan perkataan sari saat itu, sari mendekati aku dan menyentuh kening aku dengan tanganya.

Aku pun memejamkan mata entah apa yang di lakukan dia tapi dia seperti membawa aku ke peristiwa lalu. Aku hanya menceritakan bahwa ibu aku di celakai oleh makhluk-makhluk itu. Aku bisa melihat ibu berdarah-darah di atas jok mobil yang menabrak jembatan pembatas jalan. Sari mengembalikan pengelihatan aku dan dia menatap aku. Aku pun tanya kenapa mereka jahat dengan ibu aku? aku pun hanya menggeram tertaha, menangis dan entah seperti marah dan emosi. Aku pun spontan bilang jika sari juga merupakan salah satu dari mereka. Sari pun mengatakan jika dia itu sari namun tidak benar-benar hidup seperti aku. Sari pun bilang jika dia bukan hantu dari orang yang sudah mati namu dia adalah kori dari aku yang pernah hidup. Semakin saja aku tidak paham dengan maksud sari saat itu. Sari pun bilang dia berjanji akan menemani aku terus dan tidak akan meninggalkan aku.

Lalu aku bertanya kenapa hantu-hantu itu seram? Sari bilang mereka memang jahil, suka mengganggu tapi mereka satu rumah dengan aku dan mereka tidak akan menyakiti kamu lagi. Menurut sari hantu itu hanya suka dengan aku karena aku anak istimewa. Saat itu aku masih belum mengerti dengan perkataan sari lalu sari mnceritakan semua nya pada aku. Sari bercerita dirinya panjang lebar, aku tidak mengerti sama sekali apa yang di ocehkan dia tapi aku mulai paham dengan seiring bertambahnya usia aku. Sari adalah kori atau pasangan goib dari sari yang pernah hidup di masa lalu, sari menceritakan kalau dia lahir di blora dan ayahnya juga seorang pejuang kemerdekaan.

Dia meninggal tahun1915 di masa hidupnya sari sering berpindah rumah dan sampai akhirnya bertempat di rumah yang kami tempati. Kala itu keluarga sari di bunuh oleh belanda yang mengetahui bahwa ayah sari adalah pejuang yang sering memimpin geriliya para penduduk. Sebelum di bunuh sari melihat ibu nya di perkosa dan di siksa mati, sari melihat langsung bagaimana ayahnya di bunuh dengan cara menyayat lehernya dengan pisau berkarat. Sampai akhirnya sari meregang nyawa karena di tenggelamkan di dalam sebuah tong berisi air. Mereka di bunuh secara keji oleh belanda untuk menunjukan kekuatan mereka dan menakuti pejuang. Akhirnya mayat mereka di makam kan warga sekitar di halaman belakang rumah yang di tempati keluarga aku saat itu. Tanpa nisan dan hanya dengan pohon nangka dan asem yang belum di tebang belum lama ini.

Sari mengatakan tidak mendapat pemakaman yang layak karena banyak korban pembunuhan selain keluarga sari. Dan masih banyak lagi yang gentayangan. Jin-jin yang bergentayangan itu sering mengganggu warga dan penghuni rumah dinas ini dari waktu ke waktu, rumah ini menyimpan memori negatif yang membuat auranya jelak. Rumah ini menjadi saksi bisu pembunuhan beberapa keluarga pejuang di masa lalu dan aku tidak pernah punya teman lagi sejak aku mati dan sari menyuruh aku berjanji agar aku menjadi teman nya, dimana sari bilang dia akan menjaga aku hingga aku juga akan pergi menyusul setengah dari diri aku. Bersambung di part selanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here